Bandung, Bimas Islam — Kementerian Agama menggelar Gerakan Jum'ah (GEMAH) KUA ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah) di KUA Babakan Ciparay, Kota Bandung, Jumat (12/6/2026). Kegiatan tersebut sekaligus menutup Short Course Penguatan Kapasitas Penghulu dan Pejabat Kepenghuluan Wilayah Jawa Barat yang berlangsung pada 9–12 Juni 2026.
Direktur Bina KUA dan Keluarga Sakinah, Ahmad Zayadi, mengatakan, GEMAH KUA ASRI merupakan implementasi Surat Edaran Dirjen Bimas Islam Nomor 002 Tahun 2026 tentang GEMAH serta bagian dari pelaksanaan Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 244 Tahun 2025 tentang Program Prioritas Menteri Agama 2025–2029, khususnya penguatan ekoteologi.
Menurutnya, program tersebut menjadi langkah konkret untuk mewujudkan lingkungan KUA yang bersih, sehat, nyaman, dan mendukung pelayanan kepada masyarakat.
“Ekoteologi harus diwujudkan melalui tindakan sederhana dan berkelanjutan, termasuk menjaga kebersihan serta merawat lingkungan kantor. Melalui GEMAH, KUA tidak hanya memberikan layanan keagamaan, tetapi juga menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan,” ujar Zayadi.
Ia menambahkan, jaringan KUA yang menjangkau hingga tingkat kecamatan memiliki posisi strategis dalam membangun kesadaran ekologis berbasis nilai-nilai agama. Karena itu, penghulu, penyuluh agama, dan seluruh petugas KUA diharapkan menjadi teladan dalam membudayakan hidup bersih dan sehat.
“KUA harus menjadi contoh bahwa kepedulian terhadap lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab keagamaan. Lingkungan KUA yang aman, sehat, resik, dan indah akan memperkuat kualitas layanan sekaligus menghadirkan manfaat yang langsung dirasakan umat,” katanya.
Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Bandung, Muhammad Ali Abdul Latif, mengatakan, peningkatan kualitas lingkungan kerja perlu diimbangi dengan penguatan kompetensi penghulu. Menurutnya, perubahan layanan pencatatan nikah, transformasi digital, hingga meningkatnya pernikahan antarnegara menuntut penghulu semakin adaptif.
“Perubahan terjadi begitu cepat, dari pendaftaran nikah yang dahulu dilakukan secara luring hingga sekarang berbasis daring. Pernikahan campuran juga semakin biasa, sehingga penghulu harus memiliki pengetahuan dan keterampilan komunikasi yang memadai,” tuturnya.
Ia berharap, peserta short course dapat mengembangkan pengetahuan yang diperoleh selama pelatihan setelah kembali ke daerah masing-masing.
“Banyak ilmu yang diperoleh selama mengikuti short course ini dan harus dikembangkan setelah kembali ke daerah masing-masing. Penghulu harus siap menghadapi perubahan layanan dan keragaman masyarakat yang semakin luas,” ujarnya.
Kepala Bidang Urusan Agama Islam Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat, Agus Sutisna, mengungkapkan pentingnya pembelajaran berkelanjutan bagi penghulu agar mampu menjawab tantangan pelayanan umat yang terus berkembang.
“Untuk dapat maju, salah satu jalannya adalah terus belajar. Berapa pun usia kita, penghulu harus tetap belajar, belajar, dan belajar,” kata Agus.
Ia menilai, GEMAH sejalan dengan Gerakan Kementerian Agama ASRI yang mendorong pembiasaan olahraga, menjaga kebersihan, dan meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan kerja. "Gerakan ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk menjaga kesehatan dan kebersihan lingkungan kantor. Pada hari Jumat, kegiatan dapat diawali dengan olahraga kemudian dilanjutkan dengan membersihkan serta menata lingkungan,” pungkasnya.
Zidni/Mr
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



