Murah senyum. Mudah akrab dengan siapa saja, dan enak diajak ngobrol sambil bercanda. Itulah sosok kita kali ini. Nama lengkapnya H. Ismail Fahmi, S.Ag, Kepala Seksi Hisab Rukyat, Direktorat Agama Islam dan Pembinaan Syariah.
Sosok pria asli Betawi ini sudah tidak asing lagi di lingkungan Direktorat Jenderal Bimas Islam. Selain sibuk mengurus pengukuran arah kiblat, persiapan Sidang Itsbat setiap penentuan kalender Hijriyah, khususnya tiga bulan penting, yaitu awal Ramadhan, 1 Syawal, dan 1 Dzulhijjah, ia sering ditugaskan membaca doa pada even-even penting, dan juga penyumpahan agama bagi calon pejabat yang akan dilantik di negeri ini.
Kariernya diawali sebagai staf pada Bidang Urusan Agama Islam di Kemenag Kota Jakarta Selatan pada 2003-2007. Karena berkeinginan mengembangkan karier dan kontribusi yang lebih luas dalam bidang Hisab dan Rukyat, suami Yulianti dan bapak tiga anak ini mengajukan pindah tugas ke Ditjen Bimas Islam sejak tahun 2007 dan akhirnya dipercaya sebagai Kasi Hisab Rukyat hingga ini.
Alumni Pesantren Tebuireng yang sejak awal memiliki hobby membuat alat-alat astronomi sendiri ini sangat konsen pada dunia falakiyah. Lebih dari itu, untuk mengembangkan kesukaannya dalam bidang ini, lulusan MI Darul Ulum, MTS Miftahul Umam dan Aliyah Salafiyah Tebuireng ini melanjutkan pendidikan di Fakultas Syariah yang memang ada mata kuliah di bidang ilmu Falak.
Saat ditanyakan tentang harapannya pada persoalan kalender Hijriyah di Indonesia, lelaki kelahiran 9 November 1978 ini berdoa semoga Indonesia menjadi contoh penyatuan Kalender Hijriyah di Dunia dengan kesepakatan bersama Ormas Islam terhadap kriteria MABIMS yang baru. Menurutnya, masalah kriteria penentuan kalender Hijriyah sebenarnya sangat berkait dengan ladang ijtihad, sehingga masing-masing pihak seharusnya dapat mencapai kesepakatan. Apalagi kesepakatan tersebut semata-mata demi kepentingan umat secara umum, khususnya umat Islam di Indonesia.
Saat ditanyakan tentang masih kuatnya Ormas-Ormas Islam berpegang pada pandangannya masing-masing sehingga belum bisa ada penyatuan kalender Hijriyah di Indonesia, pria yang bercita-cita ingin punya pesantren ini memandang masih sebagai hal yang wajar. Namun demikian, dirinya yakin suatu saat nanti Indonesia akan menjadi kiblat penyatuan kalender Hijriyah dunia.
“Hingga kini, di Indonesia masih belum bisa disatukan kriteria hilal untuk menentukan penyatuan Hijriyah. Namun kalau melihat dari semangat yang ada, meski terdapat perbedaan-perbedaan, ke depan, pada titik tertentu, saya meyakini diantara Ormas-ormas Islam akan ada kesepakatan bersama, sehingga penyatuan kalender Hijriyah benar-benar terwujud”, katanya.
Satu hal yang disampaikan saat ngobrol dengan bimasislam, pak “mail”, demikian dia sering dipanggil memiliki filosofi hidup yang patut dicontoh oleh yang lain. “Hidup ini simple, yang penting bermanfaat bagi orang lain”, katanya. Menurutnya, kebermanfaatan adalah inti dari kehidupan ini sendiri. Jika hidup telah memiliki banyak hal, seperti jabatan, kepintaran, kekayaan, dan lainnya, namun bila tidak memberi manfaat bagi sesama, maka hidup ini menjadi tidak berarti.
Hidup manfaat adalah ajaran yang dipeganginya sejak dirinya masih di pesantren yang dipesankan oleh para guru dan kyainya. Sebagai seorang santri, pihaknya memegang teguh dan menjadikan prinsip tersebut dalam seluruh sisi kehidupannya, baik di lingkungan rumah tangga, bertetangga, di kantor, maupun hubungan sosial yang lebih luas. Sejurus dengan itu, ilmu yang didapat di pesantren dan dunia kampus berusaha agar berkontribusi dan menyumbang manfaat bagi orang lain dan umat secara umum, khususnya di bidang Hisab dan Rukyat, dan pembinaan Syariah secara umum.
Ketika dimintai kesan-kesannya selama dirinya bertugas mengawal Hisab dan Rukyat di Kementerian Agama, pria yang memiliki mengatakan bahwa dirinya sangat berkesan, sekaligus bangga bisa mengukur arah kiblat Masjid Istana Negara, tempat ibadah para penggede negeri ini dan menjadi pusat nadi spiritualisme pejabat negara.
“Yang paling berkesan selama saya menjalankan tugas adalah ketika saya bisa mengukur arah kiblat Masjid Istana Negara di Jakarta, sehingga sekarang arah kiblatnya sudah mengarah ke masjdil haram. Sebelumnya masih belum persisi dan ini menjadi kenangan tersendiri bagi saya”, katanya bangga.
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



