Profil kita kali ini menampilkan sosok pejabat eselon IV dilingkungan Direktorat Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah yakni H. Jamaluddin M. Marki, Lc. M.Si. Pejabat muda ini dilantik pada awal 2011 sebagai Kepala Seksi Penyuluhan dan Pengembangan Syariah pada Subdit Hisab Rukyat dan pembinaan Syariah. Pak ‘jamal biasa beliau di sapa mengawali karirnya sebagai PNS Kementerian Agama pada tahun 2003, ketika itu diangkat sebagai Calon Pegawai Pencatat Nikah (CPPN) pada KUA Kec. Kelapa gading Jakarta Utara. Pilihan sebagai CPPN adalah pilihan terakhir.
“Sebenarnya saya tidak tertarik untuk ikut tes PNS, karena ketika itu saya baru saja selesai menempuh pendidikan SI di Universitas al-Azhar Cairo, Mesir selama kurang lebih 5 tahun. Keinginan saya ketika selesai studi ingin mengajar sebagai guru Bahasa Arab, tapi ternyata karena jurusan yang saya ambil adalah fakultas Syariah, maka tidak ada formasi selain menjadi penghulu atau penyuluh. Berkas saya adalah yang paling akhir masuk ke panitia pendaftaran. Alhamdulillah Allah punya rencana lain, sambil meneruskan pendidikan S2 di Pasca Sarjana Universitas Indonesia, saya diterima sebagai PNS formasi penghulu,” katanya berkisah.
“Saya tidak pernah bermimpi akan menjadi penghulu, tapi itulah rencana Tuhan, mau tidak mau, suka tidak suka saya jalani tugas mulia tersebut. Allah punya rencana lain, di kantor KUA itulah saya bisa lebih konsentrasi menyelesaikan tesis saya dan alhamdulillah selesai tepat pada waktunya.”
Pria yang lahir di Jakarta pada 14 Oktber 1978 ini, ketika kecilnya mengenyam pendidikan keagamaan yang ketat, Walaupun orang tuanya berlatar belakang wiraswasta, anak dari kedua dari 6 bersaudara ini dididik dengan jadwal belajar dari pagi hingga malam hari. "Pagi sekolah SD Negeri, siangnya sekolah ibtidaiyah, dan maghrib mulai belajar ngaji.” Orangtua saya bukanlah seorang lulusan sarjana, akan tetapi dalam mendidik anak-anaknya sangat disiplin dan ketat, ketat dalam artian tidak memaksa, saya diberi kebebasan memilih studi sesuai dengan keinginan saya, Ketika lulus dari SD apakah mau lanjut ke pesantren atau SMP, saya pilh pesantren. Ketika itu pilihan saya jatuh kepada pesantren Attaqwa Bekasi, pesantren yag didirikan oleh seorang pahlahwan Nasional KH. Noer Ali.
Sang Kyai, menanamkan tigaprinsip dasar manusia yang harus dijadikan pedoman dalam hidupnya. Yakni, Benar, Pintar dan Terampil. “Jadi orang kita harus benar dulu, benar dalam ucapan dan perbuatan, baru kemudian harus pintar, dan kemudian harus terampil. Jangan pintar dulu, nanti kamu bisa "minterin" orang alias menipu," begitu kira-kira nasehat bapak kyai yang selalu terngiang di telinga pak Jamal hingga sekarang. Selama 6 tahun dididik di pesantren Attaqwa, pak Jamal aktif diberbagai kegiatan, mulai pramuka, konsulat bahkan terpilih menjadi ketua osis, dan terpilih untuk ikut program hafiz, yang merupakan kegiatan ekstra kulikuler. "Alhamdulillah dapat 5 juz" ujar putra betawi ini.
Di pesantren kerap kali kedatangan tamu-tamu penting, dari mulai para Kyai hingga pejabat tinggi. Pak Jamal pun selalu mendapat kepercayaan untuk melayani para tamu tersebut, walaupun hanya sekedar menyiapkan makanan dan minuman, "prinsip saya yang penting bisa bertemu orang besar, siapa tahu ada keberkahan dan kemuliaan dari mereka terutama melatih mental kita dihadapan mereka.Rupanya, hal ini terus berlanjut dikehidupan saya sapai saat ini.”Ujar bapak tigaanak ini.
Pak Jamal merasakan betul, bahkan ketika kuliah di Kairo, iabenar-benar menjadi "pelayan" di sebuah restoran Indonesia yang digagasnyabersama para senior. Ketika itu tahun 1997-1998 di saat negeri kita sedang dilanda krisis moneter, dollar mencapai Rp. 18.000, mau tidak mau dituntut untuk bertahan hidup. Banyak juga ketika itu teman-teman seperjuangannyayang kembali ke tanah air akibat krisis tersebut.Alhamdulillah orangtuanya dengan tegas melarang untuk kembali ke Indonesia.
“apa pun akan di lakukan yang penting saya tetap konsentrasi belajar di al-Azhar.”Direstoran tersebut pak Jamal sering kedatangan tamu-tamu penting dari Indonesia, bahkan dipercaya untuk menyediakan makan siang setiap hari untuk para pegawai di KBRI, “ya sekali lagi saya bertemu dengan 'orang-orang besar'.” katanya.
Perjalanan karirnyapun, tidak terlepas dari melayani para orang-orang mulia, setelah hampir tigatahun menjadi CPPN, pak Jamal di minta untuk mengurus para jamaah calon haji di kantor Kemenag Jakarta Utara. Baru tigabulan aktif melayani para tamu Allah itu, pegawai baru itudiminta untuk mutasi ke Pusat, dengan berbekal keyakinan dan restu dari orang tua iamemberanikan diri untuk pindah ke Pusat. "Ketika itu saya ditempatkan di posisi sebagai staf Dirjen Bimas Islam..ini merupakan posisi yang sangat penting dan strategis." lagi-lagi iadipercaya untuk melayani orang-orang mulia dan para pejabat. Kurang lebih lima tahun menjadi staf Dirjen, banyak pengalaman berharga yang dapat petik. Terutama dalam hal melayani umat. Hampir seluruh waktunya bapak Dirjen diabdikan untuk melayani umat. "Ini yang sya kira patut di contoh oleh para pejabat kita. Jangan hanya berharap pada materi saja, akan tetapi layani umat dengan ikhlas, insya Allah rezeki akan mengikutimu." begitu kira-kira pesan pak Dirjen kepada saya.
Setelah hampir limatahun mengabdi, Pada awal tahun 2011 pakar syariah yang humoris inidilantik sebagai kepala seksi penyuluhan dan pengembangan syariah. Suatu jabatan yang begitu penting dan berat. "Pengertian syariah begitu luas, karena kehidupan seorang muslim terkait dengan syariah,dari mulai seseorang menikah, kemudian mengandung,melahirkan sampai masuk dalam liang lahat, semua ada tuntunan syariahnya" begitu luasnya arti dari jabatan ini, pak jamal mulai merintis beberapa panduan dari hal-hal yang paling dasar, di mulai dari aspek ibadah, seperti membuat panduan shalat berjamaah, shalat bagi orang sakit, shalat bagi musafir smpai kepada aspek muamalaah seperti pengembangan ekonomi syariah dan pembagian hukum waris. Menurut jamal, ke depan pembinaan syariah harus didukung dengan struktur dan SDM serta anggaran yang memadai, karena satu-satunya jabatan yang menggunakan kata syariah dan itu sangat identik dengan Islam. Jangan sampai dihilangkan kata-kata syariah dari nomenklatur jabatan di kementerian Agama.
Selain itu, pada jabatan ini pun dibebankan untuk mengatur permintaan Rohaniwan Islam pendamping sumpah keagamaan pada pelantikan dari instansilembaga kementerian. "Sumpahjanji jabatan jangan hanya dijadikan upacara seremonial belaka, akan tetapi harus dihayati dan dilaksanakan. Saya yakin kalau seorang pejabat memegang teguh sumpah jabatannya, tidak lagi ada pejabat yang kkn, kalau perlu naskah sumpah yang diucapkan di tempel pada ruang masing-masing pejabat, sebagai pengingat akan janji dan sumpahnya."
Menjadi rohaniwan Islam, inilah yang mengantarkan saya harus benar-benar "melayani" dan bertemu langsung dengan para "orang-orang besar" para menteri dan bahkan bapak Presiden pada saat pengucapan sumpah jabatan di Istana negara, mungkin ini kesempatan mulia, yang tidak dimiliki oleh setiap pejabat. Banyak suka dukanya menjadi rohaniwan, kadang tidak mengenal waktu dan tempat, seperti ketika pelantikan ketua dan anggota dewan yang terhormat, harus begadang menunggu hasil pemilihan ketua dan wakil pimpinan DPR, ya ketika itu tepat pukul 05.30 WIB baru dilaksanakan pengucapan sumpah ketua dan wakil ketua MPR/DPR.
Di antara tugas mulia pada jabatan ini adalah pengadaan dan penggandaan mushaf Al-Qur'an, lagi-lagi pekerjaan yang begitu berat, apalagi jika menengok ke belakang banyak kasus pengadaan yang terjadi. "Pekerjaan pengadaan dan penggandaan kitab suci, membutuhkan keteletian, kecermatan, extra time, dan strategi khusus agar tidak terjadi kesalahan cetak, keterlambatan dan menjadi temuan pemeriksa. "Saya selalu berpegang teguh pada tigaprinsip di atas, insya Allah semua masalah dapat diselesaikan." ujarnya menutup profil kita kali ini. (ska/bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



