Raut mukanya berseri bagai sinar matahari dipagi hari, sorotan matanya syahdu, seakan mengirim pesan bahwa dirinya adalah orang yang siap bersahabat dengan siapapun. “halo reporter bimasislam, silahkan duduk”, ucapnya seraya mengulurkan tangan untuk menjabat. Di ruang kerjanya yang sangat rapi, sejenak kami mengulik tentang kehidupan seorang pejabat yang dimiliki Ditjen Bimas Islam.
Umurnya masih tergolong muda, 45 tahun, penampilannya jauh lebih muda dari usianya, “sering menjaga wudhu” bisiknya kepada bimasislam. Berpengalaman dan memiliki potensi untuk terus berkarir, itulah profil kita kali ini, menampilkan sosok pejabat eselon IV dilingkungan Direktorat Penerangan Agama Islam, dia adalah H. Muhammad Jamaludin. Selama resmi menjadi abdi Negara, banyak hal telah diukir, baginya menjaga amanah merupakan tugas mulia.
Selayang Pandang
Lahir di Jakarta, pada 25 Mei 1970, usai menamatkan sekolah dasar, Pak Jamal, begitu panggilan akrab teman kerjanya, mantap melanjutkan pendidikan di pesantren Wali Songo, Ngabar, Ponorogo Jawa Timur. Merasa cocok dengan model pembelajaran di Pesantren yang tersohor dengan manajemen modern itu, dirinya melanjutkan ke KMI Pondok Modern Darussalam, Gontor, Ponorogo. Di pesantren inilah Jamaluddin remaja ditempa ilmu-ilmu agama, kedisiplinan dan ilmu kemandirian.
“Santri itu dalam kehidupannya harus konsisten, taat pada syari’at Islam dan senantiasa ada unsur mundzirul qaum yang tertanam kuat dan abadi dalam dirinya. Makanya setiap santri Gontor pasti tertanam falsafah hidup yang disebut dengan “Panca Jiwa Pondok.” Panca Jiwa adalah lima prinsip dasar yang mesti tertanam dalam jiwa siapapun yang menjadi penghuni pondok, entah itu kyai, guru ataupun santri. Panca Jiwa Pondok tersebut adalah; Keikhlasan, Kesederhanaan, Berdikari, Ukhuwah Islamiyah dan Kebebasan,” demikian ungkap Pak Jamal, saat diminta menceritakan proses belajar di Pesantren.
Setelah menamatkan pendidikan pesantren, dirinya melanjutkan pencarian ilmu di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, di Fakultas Ushuluddin, dan terakhir menamatkan magister Manajemen Pendidikan Islam di Universitas Islam Jakarta. Di dua Universitas inilah, Jamaluddin mengaku belajar banyak tentang ilmu kepemimpinan.
Menjadi abdi negara diawalinya sejak tahun 1994, sebagai Staf Tata Usaha MTs Negeri 10 Jelambar, Jakarta. Dalam tiga tahun, dirinya sudah dipercaya sebagai Kepala Urusan Tata Usaha MTs Negeri Jelambar Jakarta. Kesempatan berkarir terbuka lebar kala diamanahi sebagai Kepala Sekretariat LPTQ Nasional pada tahun 2004-2010, dan beberapa waktu kemudian Pak Jamal juga diangkat menjadi Kepala Seksi Penerbitan Naskah Dakwah Subdit Publikasi Dakwah dan Hari Besar Islam Direktorat Penerangan Agama Islam.
Pengalaman menjadi kepala seksi tidak berhenti disitu, pada tahun 2011, dirinya dipercaya menjadi Kepala Seksi Pengendalian Masalah Umat Subdit Kemitraan Umat Islam. Kepiawaian berbahasa Arab menghantarkan dirinya diberi amanah baru yaitu menjadi Kepala Seksi Pembinaan Qari’-qari’ah & Hafizh-hafizhah Subdit Pengembangan Musabaqah al Qur’an dan Al Hadits selama dua tahun setengah. Dan kini, tangan lembutnya kembali di dipercaya untuk menjadi Kepala Seksi Pengendalian Masalah Umat Subdit Kemitraan Umat Islam.
Menjadi pejabat tidak membuat Pak Jamal mengurangi kegiatan kemasyarakat, menurutnya kegiatan di masyarakat memiliki nilai lebih. ”Sejak Di Pesantren Gontor saya terbiasa aktif di kegiatan sosial pendidikan, dan ilmu itu coba saya amalkan sampai sekarang, itu kan ladang ibadah” ujarnya.
Beberapa pengalaman lain yang sempat terekam bimasislam, adalah, menjadi pengurus Ikatan Persaudaraan Qari-qari’ah dan Hafizh-hafizhah (IPQAH), pernah menjadi Tim Penulis Paspor Haji di Kedubes Arab Saudi Jakarta, 1991, Guru MTs, Asisten Dosen Bahasa Arab Universitas Cokroaminoto Yogyakarta, 1990-1991 dan Juri diberbagai Event. Selain itu, pak Jamal juga dikenal sebagai mubaligh yang kerap menghiasi berbagai majelis keagamaan.
Sedangkan pengalaman internasional, Pak Jamal pernah dipercaya sebagai Ketua Delegasi ke MTQ Internasional di Dubai Uni Emirat Arab, 2003, The Head of Indonesian Delegation to Dubai International Holy Qur’an Award, 2011 dan The Head of Indonesian Delegation to Algeria International Competition for the Glorious Quran, 2013.
Disinggung mengenai cita-cita sebagai pejabat Kementerian Agama, Pak Jamal menegaskan bahwa menjadi pegawai yang baik dan jujur menjadi prioritas. “Yang penting tidak neko-neko, saya ingin menjadi pegawai yang baik saja, jujur dan yang penting husnul khatimah,” tegasnya.
Di akhir perbincangan, Pak Jamal bercerita tentang motto hidupnya. Bagi dia, hidup yang hanya sekali, haruslah penuh arti. “Kalau hidup hanya sekedar hidup, kerbau juga kan hidup tapi kita kan insan yang diberi akal, makanya hidup harus dinamis dan bermanfaat bagi orang lain,” imbuhnya.
Dirinya pun lantas mengutip ungkapan KH Hasan Abdullah Sahal, pimpinan Pondok Modern Gontor “Banyak orang berfikir bagaimana mencari hidup yang baik tapi mereka lupa bagaimana mati yang baik. Mudah-mudahan ungkapan ini senantiasa akan menjadi renungan bagi kita semua,” pungkas Suami dari Hj. Basanah, dan ayah dari Muhamad Fahmi Al Kautsar, Muhamad Zaki Mubarok dan Muhamad Ziaurrahman ini. Semoga. (sym/bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



