Profil tokoh kita di awal tahun ini adalah pejabat muda yang energik, banyak ide dan memiliki segudang obsesi. Adalah Kasubdit Pengembangan Seni Budaya Islam, Direktorat Penerangan Agama Islam, Ditjen Bimas Islam, H. Yayat Supriyadi, M.Si. Saat ini dirinya mendapatkan kesempatan dan kepercayaan untuk mengembangkan seni budaya Islam. Di era globalisasi initentu bukan perkara mudah karena di saat yang sama justeru kesenian dan budaya luar tumbuh berkembang dengan leluasa di negeri yang dikenal majemuk ini.
Beberapa waktu lalu, bimasislam menyambangi ruang kerja pria yang akrab di sapa Pak Yayat oleh rekan kerjanya. Selain diskusi hangat tentang kondisi obyektif Seni Budaya Islam di Nusantara, Pak Yayat juga mengajak bimasislam membincang banyak hal, salah satunya obsesinya adalah ingin mengembangkan Seni dari berbagai aspek dan jenis kesenian.
Sekilas Profile Pak Yayat
Dilahirkan di Kota Tangerang pada tahun 1972, adalah anak pertama dari lima bersaudara. Sejak kecil Yayat selalu dekat dengan pendidikan keagamaan yang diajarkan oleh orang tuanya. Yayat Muda memiliki rutinitas mengaji di beberapa pesantren yang ada di sekitar Kota Tangerang, belajar model ini dikenal dengan sebutan “Ngaji Kalong”. Usai menyelesaikan Sekolah Menengah Atas, Yayat Muda melanjutkan pendidikan di Universitas Islam Bandung (UNISBA), kemudian program Pascasarjana diambil di Universitas Indonesia (UI), disetiap jenjang Pak Yayat selalu menjadi yang tercepat dan terbaik. Karir di Kementerian Agama diawali sebagai Kasubbag Ortala Ditjen Bimas Islam, kemudian menjadi Kasubbag Data dan Informasi dan Kasubbag Perlengkapan Ditjen Bimas Islam. Sebelum diberi amanah sebagai Kasubdit Pengembangan Seni Budaya Islam, dirinya pernah menjabat sebagai Kasubdit Pengembangan KUA,Direktorat Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah.
Kepada bimasislam Pak Yayat menegaskan bahwa dalam hidup sejatinya tidak ada sesuatu yang tidak bisa dikerjakan asal ada niat dan usaha, “saya meyakini bahwa sesungguhnya kesulitan itu tidak ada, asal ada kemauan untuk berusaha”, ujar Pria yang memiliki hobi olah raga, mendengarkan musik dan koleksi batu mulia ini.
Kembali soal Seni Budaya Islam
Disinggung prihal Seni Budaya Islam, Pak Yayat mengaku, saat ini belum semua potensi Seni Budaya Islam digarapsecara maksimal, namundirinya berharap kedepan semua potensi yang ada bisa dimaksimalkan. “Sementara ini, kita kan sebatas mengembangkan budaya Islam dari sisi seni musik yaitu seni Qasidah, ke depan seni Hadrah, Marawis dan Kaligrafi juga perlu dikembangkan”, ungkap Bapak 3 anak ini.
Lebih dari itu, Pak Yayat mengungkapkan bahwa sejatinya ada banyak jenis kesenian tradisional Islam yang dimiliki bangsa Indonesia, baik yang sudah populer maupun yang masih asing ditelinga masyarakat. Jenis kesenian tradisional Islami itu, Pak Yayat mencontohkan, misalkan ada Madihin dan Mamada (kesenian dari Kalimantan Selatan), Tabot (dari Bengkulu), al-Barjanji (berkembang di Pulau Jawa, dll). Menurut pak Yayat ada sekitar 40 kesenian tradisional Islam yang ada di tanah air, sebuah khasanah budaya islamyang luar biasa.
Lalu bagaimana agar seni di Indonesia bisa berkembang dengan baik? Dengan penuh semangat Pak Yayat menguraikan berbagai obsesi, yaitu ingin mengembangkan Seni dari berbagai aspek dan jenis kesenian. “Mengembangkan seni itu tidak hanya dari satu jenis kesenian, tetapi meliputi banyak aspek, ada seni musik, seni tari, kaligrafi dan banyak lagi seni kontemporer lainnya”, terangnya.
Dengan banyaknya jenis keseniandan kebudayaan Islam, Pak Yayat melanjutkan,yang tersebar dari Provinsi Aceh sampai Papua, maka diperlukan sebuah data yang memadai agar pengembannya juga bisa merata.”kita sedang berusaha bekerjasama dengan Balai Litbang DKI Jakarta dalam rangka menyusun ensiklopedi / profile seni budaya Islam, upaya ini untuk menginventarisasi macam-macam seni budaya Islam yang ada di Indonesia”, jelas si penggemar film kolosal dan music sweet rock ini.
Indonesia dikenal memiliki banyak situs budaya, utamanya situs yang berhubungan awal penyebaran Agama Islam di Nusantara. Untuk hal ini Pak Yayat dengan tegas mengatakan, semua harus dijaga dan dilestarikan. “Situs Budaya Islam perlu dilestarikan. Contoh, situs walisongo, selain itu, makam-makam para ulama yang telah menyebarkan Islam di seluruh Nusantara”,tegasnya.
Diakhir perbincangan dengan bimasislam disampaikan bahwa pihaknya juga akan terus mendorong terhadap pembinaan pustaka keagamaan Islam di masjid dan Ormas Islam. “Kami terus mendorong agar masjid dan ormas Islam memiliki koleksi perpustakaan yang representative”, ujarnya.
Dan pembicaraan dengan kami ditutup sebuah kalimat; Bekerja di Kementerian Agama itu sebagai pengabdian kepada Negara, semoga. (syamsuddin/foto:bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



