Pak Yoes, itulah panggilannya. Profil kita edisi kali ini adalah salah satu Eselon 3 di jajaran Sekretariat Ditjen Bimas Islam yang dipercaya sebagai Kepala Bagian Umum. Nama lengkapnya cukup pendek, Yoesni, tak ada lagi tambahan lainnya. Tepat pada 5 Juni 1961, dia terlahir di bumi Serambi Mekah, NAD, tepatnya di kampung Rhing Mancang, Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya.
Bagi yang belum mengenalnya akan memberikan kesan “galak” bila lihat perawakannya, apalagi dengan nada suaranya yang keras. Namun di balik itu, sebenarnya dia pribadi yang humoris – begitu kira-kira penilaian anak buahnya –vulgar dan cenderung ceplas-ceplos bila diajak ngobrol. Bahkan, saat bimasislam wawancara ekspresinya nampak“melow”. Matanya terlihat berkaca-kaca ketika menceritakan perjalanan hidupnya dan mengingat orang-orang yang berpengaruh baginya.
Mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di kampung halamannya, Yoesni remaja merantau berdua dengan temannya ke Jakarta pada tahun 1975, dengan semangat “hijrah” agar bisa hidup lebih baik --demikian dia membahasakan. Walaupun tinggal bersama pamannya yang bekerja di Sekretariat DPR RI, setahun setelah lulus SLTA, semangat kemandirian menuntutnya untuk bekerja di Kedutaan Amerika pada tahun 1982.
Setahun kemudian, Yoesni diterima sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kementerian Agama Tangerang. Mengarungi pengalaman 3 tahun di Tangerang, pada tahun 1986 terbuka baginya mutasi ke Kemenag Pusat, tepatnya di Inspektorat Jenderal sebagai Staf Bagian Umum. Di tengah kesibukannya ini, dia mampu menyelesaikan Sarjananya pada tahun 2001 di STAI Al-Aqidah Al-Islamiyah.
Lima tahun berjalan, karena merasa tidak cocok di dunia audit-mengaudit, dia disarankan untuk pindah ke Ditjen Bimas Islam dan Urusan Haji, di bagian umum juga. Saat itulah dirinya pertama kali menjadi bagian dari Ditjen Bimas Islam. Pada tahun 2006, pengalamannya yang sangat baik sebagai staf menjadikannya dipercaya sebagai Kasubbag Rumah Tangga di Bagian Umum Setditjen Bimas Islam, yang saat itu sudah terpisah dari Urusan Haji sebagai Satker Eselon 1 tersendiri. Tujuh tahun mengarungi asam-garam Eselon IV, Pak Yoes kemudian dilantik sebagai Kepala Bagian (Kabag) Umum sejak tahun 2013 hingga saat ini.
Dunia karirnya memang tidak bisa dilepaskan dari bidang kerumahtanggaan. Unit yang cenderung dominan pada teknis pelayanan ini dirasa sesuai dengan kompetensinya. Saat ditanya kenapa begitu, dia menjawab secara spontan bahwa dirinya sangat senang dengan tipe kerja yang melayani orang lain. Karena itulah, bisa dimaklumi bila dua orang Dirjen Bimas Islam sebelumnya, Nasaruddin Umar (Mantan Wamenag) dan Abdul Djamil (Dirjen PHU), memberikan apresiasi terhadap kinerjanya.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) di lingkungan Sekretariat Ditjen Bimas Islam ini memiliki prinsip bahwa dalam bekerja haruslah jujur dan apa adanya. Dalam menjalankan tugas, “tidak ada yang tidak bisa”, apalagi bila diperintahkan oleh pimpinan, sejauh tidak menyalahi aturan, tegasnya. Hal lain yang dimiliki pria berkumis ini adalah ketelitian. “Bisa dibayangkan resikonya bagaimana jika saya tidak teliti dalam membaca situasi. Apalagi banyak pekerjaan yang berhubungan dengan pengadaan barang dan jasa di Sekretariat”, tuturnya.
Selain itu, tidak gengsi untuk bertanya kepada orang yang mengerti masalah dan mau mengerjakan apapun yang menjadi bagian dari tugasnya. Demikian juga dalam bekerja perlu membangun relasi sebanyak mungkin melalui cara membantu orang lain. Baginya, semakin banyak membantu orang, semakin banyak kemudahan yang dituai. Begitulah kira-kira motto yang dirasakan betul manfaatnya dalam berkarier.
Suami dari Ida Farida, wanita kelahiran Jakarta yang dinikahinya pada tahun 1995 ini, telah dikaruniai tiga orang anak. Si sulung yang bernama Syaiful Syafani sudah menginjak kelas 1 SMA, yang di bawahnya Fauzan Akbar masih duduk di kelas 6 SD, sedangkan si bungsu berjarak empat tahun dari kakaknya sekarang kelas 2 SD dengan nama Najwa Zyafira. Dua lelaki dan seorang perempuan, sudah cukup lengkap bagi keluarga sederhana berdarah Melayu-Betawi ini.
Saat ditanya apa hal yang paling berkesan dalam hidupnya, Pak Yoes dengan penuh haru menjawab nasehat bapaknya, Teuku Syahbuddin. Suami dari Hj. Fatimah dan pensiunan ABRI ini membekalinya saat meninggalkan kampung halaman empat puluh tahun lalu dengan nasehat, “Kalau mau hidup tenang, jangan iri dan dengki sama orang lain dan jangan pernah berfikir ke belakang”.
Nasehat itulah yang mengingatkannya untuk terus berusaha hidup penuh syukur apa adanya, dan maju terus, tak menyesali apa yang sudah terjadi, akunya dengan mata berkaca-kaca. “Apa yang saya raih sampai hari ini adalah karunia Allah, harus disyukuri. Saya mah apa atuh”, ujarnya menyelipkan canda dalam keharuan di akhir wawancara, meniru slogan yang lagi trend akhir-akhir ini. (edijun)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



