Jakarta, Bimas Islam — Pendakwah muda Habib Husein Ja’far mengatakan, generasi Z membutuhkan dakwah yang relevan dan menyentuh realitas kehidupan sehari-hari. Menurutnya, dakwah tidak cukup berhenti pada pesan moral, tetapi harus menawarkan solusi yang dapat dipraktikkan.
Hal itu disampaikan Habib Ja'far saat menjadi narasumber dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam (Bimas Islam) Kementerian Agama di Jakarta, Kamis (22/1/2026).
“Gen Z itu tidak mau ceramah, mereka mau solusi yang bisa dipraktikkan dalam hidupnya,” ujar Habib Husein di hadapan peserta Rakernas.
Ia menjelaskan, Gen Z merupakan generasi yang sangat peka terhadap ketidaksesuaian antara ucapan dan perilaku. Ketika pesan dakwah tidak selaras dengan tindakan penyampainya, mereka cenderung menolak. “Kalau kita bilang menjaga lingkungan, tapi kita sendiri boros energi, maka Gen Z akan cepat menolak,” katanya.
Habib Husein menilai, dakwah harus menyentuh aspek kehidupan yang dekat dengan keseharian generasi muda, seperti gaya hidup, media sosial, dan pola konsumsi. “Dakwah harus masuk ke dunia mereka. Kalau tidak, pesan agama akan terdengar seperti wacana kosong,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya membangun relasi digital yang sehat dengan generasi muda. Menurutnya, media sosial bukan ancaman, melainkan ruang strategis untuk menyebarkan pesan kebaikan. “Kita tidak bisa menghindari dunia digital. Kita harus hadir di sana dengan narasi yang positif,” katanya.
Dalam paparannya, Habib Husein menyinggung fenomena viral di kalangan anak muda. Ia mencontohkan “Tepuk Sakinah” yang sempat viral dan dinilainya dapat menjadi pintu masuk dakwah jika dikemas secara tepat. “Awalnya saya kira viral itu negatif, tapi ternyata sentimennya positif. Ini menunjukkan Gen Z bisa menerima pesan kebaikan jika disampaikan dengan cara yang relevan,” ujarnya.
Ia mengapresiasi langkah Kementerian Agama melalui Bimas Islam yang dinilai semakin adaptif dalam menjangkau Gen Z dan milenial. “Kemenag sudah mulai memahami bahasa anak muda. Ini yang harus terus dijaga,” katanya.
Habib Ja'far juga mengingatkan agar dakwah digital tidak hanya mengejar kuantitas, tetapi mengutamakan kualitas pesan. “Konten yang viral tanpa nilai tidak akan bertahan. Yang penting adalah konten yang mengubah,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia mengajak peserta Rakernas untuk menerjemahkan dakwah ke dalam aksi nyata, termasuk dalam isu ekoteologi. Menurutnya, persoalan lingkungan merupakan pintu penting untuk menghubungkan ajaran agama dengan kehidupan generasi muda. “Ekoteologi itu bukan pilihan, tapi kewajiban. Ini yang harus kita bawa ke Gen Z,” tegasnya.
Ia menutup paparan dengan mengajak seluruh pemangku kepentingan memperkuat kolaborasi dalam membangun dakwah yang relevan dan membumi. “Kalau kita ingin umat masa depan kuat, maka kita harus membangun generasi yang peka terhadap realitas dan mampu menjaga nilai agama dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
An/Mr
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



