Semarang, bimasislam-- Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi dan OKI, Agus Maftuh Abegeberiel, menyampaikan pada Halaqah Ulama Jateng di pesantren Futuhiyyah Mranggen Demak (30/7) bahwa bangsa Indonesia memiliki tantangan besar, baik dari luar maupun dalam sendiri.
"Kita memiliki tantangan besar, baik dari luar maupun dalam umat Islam. Kita mengenal gerakan liberal yang selalu mendengungkan kebebasan tanpa batasan nilai-nilai agama. Juga kaum kiri yang menarik-narik pada paham komunisme, serta pengaruh kaum religius ekstrem yang saat ini benar-benar nyata", katanya dengan semangat.
Lebih lanjut alumni Futuhiyyah doktor dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini mengatakan bahwa kita ada gerakan _thaghuthiyyah_ Pancasila. Yaitu mereka yang menganggap Pancasila sebagai thaghut atau setan. Pancasila atau dalam bahasa pesantrennya _Mabadi al-khamsah_ sebenarnya rumusan yang disetujui oleh ulama sesungunnya compatibel terhadap kondisi bangsa ini. Maka menjadi tugas umat Islam untuk menangkal gerakan religius ekstrem yang sedang mewabah.
"Kelompok religius ekstrem merupakan tantangan nyata dalam kita berbangsa. Mereka melakukan pengkavlingan sorga. Bagi pihak yang tidak sepaham dengan mereka dianggap kafir yang dapat diperangi. Meski sesungguhnya hal ini juga ada pada semua agama. Di Kristen ada, Yahudi juga ada, Hindu, Budhha dan lain-lain", ungkapnya.
Oleh karena itu, Dubes yang sukses meyakinkan Raja Salman datang ke Indonesia ini memberikan catatan bahwa dalam menghadapi mereka perlu dilakukan dengan istilah 4 D, yaitu dinied, distroy, divide, dan difense.
"Menghadapi gerakan religius ekstrem bisa kita lakukan 4 D, yaitu dinied. Kita abaikan ajakan, gerakan, dan paham mereka. Distroy, kita hancurkan mereka agar tidak memiliki gerakan yang bebas. Divide, pecah belah kelompok-kelompok mereka agar tidak mampu membangun kekuatan, dan satu lagi difense, yaitu kita harus mempertahankan nilai-nilai yang ada agar tidak rusak, terdistorsi, dan hancur oleh ideologi mereka", ujarnya.
Sehingga, imbuhnya, Negara harus memiliki CCTV ideologi dan bedah hukum ideologi untuk menjaga, mengamankan, dan merawat bangsa kita dari rongrongan ideologi lain yang mengancam.
Karena itu, sarannya, melalui Halaqah Ulama ini dia berharap agar forum ini dapat mempertegas Islam sebagai rahmat dan perdamain untuk semuanya.
Sementara itu, direktur Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta, Masykuri Abdillah, mengusung suatu gagasan bahwa dalam menghadapi gerakan radikalisme Islam dengan konsep islam rahmat wasathiyah, atau Islam rahmat yang moderat.
Menurut profesor lulusan Jerman ini bahwa istilah Islam rahmat sebenarnya populer setelah kasus peledakan WTC. Hal ini sebagai respon atas pandangan-pandangan di luar Islam yang menganggap Islam merupakan agama kekerasan, teror, dan intoleran.
"Munculnya konsep Islam rahmat merupakan jawaban atas dua kelompok, yaitu kalangan ekstrem yang membajak Islam dan untuk kelompok non-muslim yang salah paham terhadap Islam itu sendiri", katanya.
Oleh karena itu, tokoh-tokoh dunia menginginkan Islam Indonesia tampil sebagai Islam _rahmatan lil alamin_, yang akan menjadi kiblat Islam dunia.
(thobib al-asyhar/bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



