Oleh:
M. Fuad Nasar*
Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun, hari Sabtu sore tanggal 18 Desember 2021, Sdr. Ridwan, staf khusus pimpinan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK-RI) mengabari saya, telah meninggal dunia Bapak Prof. H. Harry Azhar Azis M.A., Ph.D., CSFA., CFrA di RS Cipto Mangunkusumo Jakarta.
Harry Azhar Azis menjabat sebagai Anggota V BPK/Pimpinan Keuangan Negara. Sebelumnya adalah Anggota VI BPK-RI (2017 – 2021), dan Ketua BPK-RI periode 2014-2017. Kalau saya tidak salah, semenjak Harry Azhar Azis memimpin BPK, lembaga ini mulai masuk ke wilayah pemeriksaan perencanaan anggaran kementerian/lembaga. Ia pula yang mendesak Bappenas agar mengaitkan target pertumbuhan ekonomi dengan kesejahteraan rakyat terutama penurunan kemiskinan dan pengangguran. Selama di BPK, ia menggunakan pengetahuan dan pengalamannya yang diperoleh di dalam dan luar negeri.
Dilahirkan di Tanjungpinang, Kepulauan Riau, tanggal 25 April 1956. Kedua orangtuanya berasal dari Pariaman Sumatera Barat. Ia merupakan anak ke-6 dari 10 bersaudara, dari ayah Abdul Azis Abbas dan ibu Dahniar Thaher. Di kalangan sahabat dan lingkaran pergaulannya, Harry Azhar Azis dikenang sebagai pribadi yang hangat, murah senyum dan rendah hati tanpa membeda-bedakan orang.
Sebuah kenangan yang tidak dapat kami lupakan tentang almarhum Harry Azhar Azis. Hari itu Rabu 1 Desember 2021 almarhum hadir di Kementerian Agama bersama Tim BPK-RI dalam Exit Meeting dan Entry Meeting Pemeriksaan & Pemantauan dan Penyelesaian Kerugian Negara pada Kementerian Agama Tahun Anggaran 2021. Wilayah pemeriksaan keuangan negara yang dipimpin Harry Azhar Azis selaku Anggota V BPK, antara lain Kementerian Agama dan Kementerian Dalam Negeri.
Dalam acara yang dihadiri Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas dan para pimpinan tinggi Kemenag itu Harry Azhar Azis memberi sambutan, menyampaikan pesan-pesan yang ternyata menjadi “wasiat terakhirnya” sebagai pimpinan pemeriksa keuangan negara kepada jajaran Kementerian Agama dan instansi pemerintah pada umumnya. Pada kesempatan itu, almarhum menegaskan opini WTP (Wajar Tanpa Pengecualian) adalah “minimum requirement condition” yang harus dicapai oleh kementerian/lembaga. Namun lebih jauh perlu diperhatikan prinsip “anggaran untuk kemakmuran rakyat.” Hal ini sesuai dengan jiwa dan semangat Undang-Undang Dasar 1945. Ia juga mengingatkan agar menghindari belanja di luar ketentuan, karena pasti akan menjadi temuan pemeriksa BPK.
Pesan beliau dan sekaligus menjadi komitmen seluruh jajaran Kementerian Agama untuk dapat mempertahankan opini WTP. Kondisi yang selama ini sudah berjalan dengan baik, agar diteruskan. “Mau saya, kalau bisa, mencapai 0 persen, artinya tidak ada kesalahan," harapnya.
Harry Azhar Azis mengajak hadirin merenungkan kisah sahabat nabi, amirul mukminin Khalifah Umar bin Khattab sebagai teladan bagi para pemegang kekuasaan. Khalifah Umar rajin melakukan inspeksi malam hari meninjau kehidupan rakyatnya. Mendengar suara anak kecil menangis di sebuah gubuk, diketuk pintunya, dan ternyata anak itu belum makan, sementara ibunya hanya merebus batu sekedar cara membujuk anaknya agar berhenti menangis karena makanan lagi dimasak. Seisi rumah itu tak punya bahan makanan sama sekali untuk dimasak. Umar bin Khattab bergegas mengambil sekarung gandum di kediamannya. Ia memikulnya sendiri dan menyerahkannya kepada rakyat miskin di pinggiran kota Mdinah itu. Pengawalnya mau membawakan karung gandum itu, namun dicegahnya. Khalifah Umar selaku kepala negara yang terkenal kejujuran, keadilan dan sifat amanahnya itu mengatakan, “Biarlah saya memikul sendiri karung gandum ini. Sayalah yang akan diminta pertanggungjawaban nanti oleh Allah bila ada rakyat yang kelaparan.”
Kisah inspiratif ini telah pernah saya baca di dalam literatur sejarah umat Islam dan melalui ceramah para ustad. Tetapi hari itu, saya betul-betul terkesima menyimaknya dari “taushiyah” Anggota BPK Harry Azhar Azis, tujuh belas hari sebelum beliau dipanggil menghadap Allah SWT.
Saya mendengar banyak orang datang takziyah di rumah kediaman almarhum hari Sabtu malam. Esok harinya, pagi sampai zuhur saya menyaksikan sendiri ramainya pentakziyah, termasuk dari keluarga besar alumni HMI, hadir untuk memberi penghormatan terakhir kepada almarhum saat jenazah disemayamkan di Auditorium Badan Pemeriksa Keuangan. Masjid Baitul Hasib BPK dipenuhi jamaah dalam pelaksanaan shalat jenazah almarhum. Saya bersama Kepala Biro Keuangan dan BMN Drs.H. Subarja, M.Pd yang mewakili pimpinan Kementerian Agama ikut mengantar jenazah dari BPK ke Kalibata, bersama ratusan pelayat lainnya, ke tempat peristirahatan terakhir almarhum di Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata Jakarta, Ahad 19 Desember 2021.
Sosok Harry Azhar Azis dikenang sebagai orang baik, suka berinfak dan insya allah sesuai judul buku biografi yang diterbitkan dalam rangka ulang tahunnya ke-60 tahun 2016 yaitu Amanah Sampai Akhir. Benar sekali, amanah Badan Pemeriksa Keuangan ditunaikannya sampai tutup usia.
Semasa mudanya Harry Azhar Azis adalah aktivis mahasiswa dan menjadi Ketua Umum PB HMI periode 1983 – 1986. Sebagai aktivis mahasiswa, Harry Azhar Azis sempat merasakan menjadi tahanan akibat demonstrasi menentang Presiden Soeharto dipilih kembali menjelang Sidang Umum MPR tahun 1978. Ia kemudian melanjutkan kuliah S2 di University of Oregon USA dan S3 di Oklahoma State University Amerika Serikat sampai meraih Ph.D. Harry Azhar Azis mendalami bidang keilmuwan kebijakan ekonomi publik.
Sebelum menjabat Ketua BPK-RI sejak 21 Oktober 2014 sampai dengan 21 April 2019, Harry Azhar Azis berkiprah sebagai anggota legislatif dari fraksi Partai Golkar, Wakil Ketua Komisi XI DPR-RI periode 2009 – 2014 membidangi Keuangan, Perencanaan Pembangunan Nasional, Perbankan dan Lembaga Keuangan Bukan Bank. Ia pernah bertugas sebagai Tim Ahli Bidang Ekonomi PAH II BP MPR-RI (2001-2002), Anggota Komisi Konstitusi MPR-RI (2003-2004), Anggota Badan Legislasi DPR-RI, Ketua Badan Anggaran DPR-RI, serta Wakil Ketua Balitbang DPP Partai Golkar.
Sewaktu Harry Azhar Azis menjadi Ketua Badan Anggaran DPR-RI, dari Senayan ia mendorong Menteri Keuangan agar menyisihkan dana APBN sebesar Rp 2 triliun sebagai dana abadi pendidikan atau dikenal sebagai dana LPDP. Dana LPDP diperuntukkan untuk beasiswa S2 dan S3 ke luar negeri dan dalam negeri. Ia juga mendorong Pemerintah Daerah di seluruh Indonesia agar mengalokasikan dana abadi pendidikan untuk beasiswa putra-putra daerah.
Nukilan kata pengantar Anggito Abimanyu, mantan Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan dan kini Kepala BPKH, dalam buku biografi Harry Azhar Azis: Amanah Sampai Akhir, saya kira penting digaris bawahi. Kata Anggito, "Walau sudah bertemu berkali-kali, tidak satu kali pun Harry memperjuangkan kepentingan pribadi, termasuk untuk kepentingan perolehan suara di daerah pemilihan dan meminta hal-hal yang aneh-aneh. Pertemuan kami di berbagai kesempatan terfokus dan terbatas pada persoalan kebijakan ekonomi untuk memajukan kesejahteraan rakyat, mengurangi kemiskinan dan kesenjangan ekonomi antar daerah."
Sebelum terjun ke dunia politik, ia mengajar di Universitas Tarumanagara, UPN Veteran, dan Universitas Indonesia. Harry Azhar Azis memperoleh gelar Guru Besar dari Universitas Airlangga Surabaya. Dan sebagai Pimpinan BPK ia telah menunaikan tugas dengan penuh komitmen, profesional dan melepaskan diri dari segala kepentingan, selain kepentingan negara dan bangsa.
"Dunia terus berputar dan hidup terus mengalir. Saya telah sampai di ujung kehidupan yang harus saya selesaikan dengan baik. Usia semakin senja. Matahari telah sampai di ufuk yang setiap saat akan terbenam. Saya ingin menjadi orang yang dikenang dan didoakan dengan kenangan dan doa-doa yang baik," tulis Harry Azhar Azis dalam prolog buku biografinya.
Semoga almarhum Harry Azhar Azis dicatat di sisi Allah SWT sebagai orang yang amanah, diampuni segala dosanya, dilapangkan pintu surga untuknya dan jasa-jasa kebaikannya menjadi teladan.
*Sekretaris Ditjen Bimas Islam



