Jakarta, bimasislam– “Manusia perlu waktu, Allah tidak”, begitu prolog Khutbah Jumat di Masjid Istiqlal kemarin (10/1). Begitu pentingnya waktu, hampir di setiap etnis memiliki filosofi sendiri-sendiri tentang pentingnya waktu, lanjut Drs. Nandi Naksabandi, MM. sang Khatib tersebut menjelaskan. Masyarakat Arab menyebut “Waktu itu bagaikan pedang” (Al-Waqtu kas sayf), masyarakat Barat menganggap bahwa “Waktu adalah uang” (Time is money), sedangkan masyarakat Tionghoa memiliki ungkapan “Waktu yang hilang tidak bisa dicari gantinya”.
Waktu disebut dalam Alquran dengan lima istilah berbeda, begitu menurut paparnya. Pertama, As-Sa’ah yang berarti cepat dan singkat, sebagaimana disebut dalam QS. Yunus: 45; Kedua, Al-Waqtu yang berarti yang disekat-sekat atau dibatasi oleh detik, menit, jam dan seterusnya, sebagaimana termaktub dalam QS. Annisa: 103; Ketiga, Al-‘Ashr yang berarti jangka waktu yang lebih lama, sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-’Ashr. Dalam istilah kita biasanya disebut sebagai fase atau orde. Keempat, Ad-Dahr yang berarti kehidupan di dunia, sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-Jatsiyah: 24; Kelima, Al-Ajal yang berarti habisnya waktu, sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-A’raf: 34.
Dalam ceramahnya di hadapan jamaah yang memadati masjid negara ini, Nandy menggambarkan bahwa hidup itu bagaikan pintalan benang yang ujungnya terus terbakar oleh waktu, detik, menit, jam, hari, minggu, bulan dan tahun, sampai pada saatnya habis. Itulah sifat umur yang Allah berikan kepada kita, ada batasnya, tidak bisa mundur ataupun maju. Karena itu, ingat mantan Kasubdit Penyiaran dan HBI Direktorat Penais ini, mau tidak mau dan suka atau tidak suka, umur kita akan habis. Sejauhmana kita sudah memanfaatkannya untuk melakukan kebajikan dan mengingat Allah? Itu yang harus selalu dicamkan dalam diri kita, agar kita tidak menyesal pada saatnya nanti, tegasnya.
Nabi Adam As. diberikan usia 1000 tahun, sedangkan Nabi Nuh As. berusia 950 tahun. Adapun Rasulullah Saw. Hanya berumur 63 tahun. Jadi, usia umat manusia semakin ke sini semakin pendek. Seraya menyitir Sabda Rasulullah yang diriwayatkan Imam At-Tirmidzi, “A’maru ummaty baina sittiin wa sab’iin”, Nandi menjelaskan bahwa usia umat Nabi terakhir ini hanya berkisar antara 60 sampai 70 tahun, sedikit yang lebih dari itu. (edijun/foto:pm-ukm)



