Bogor, Bimas Islam -- Kementerian Agama mendorong Kampanye Nasional “Hijrah dari Israf dan Tabdzir: Muharam Peduli Pangan 1448 H”. Kemenag meminta para Penyuluh Agama Islam di seluruh Indonesia untuk menjadi pelopor kampanye ini.
Hijrah dari Israf dan Tabdzir digulirkan bersamaan menyambut tahun baru 1 Muharam 1448 H. Ini merupakan gerakan yang mendorong masyarakat untuk mengurangi pemborosan pangan dan membangun budaya syukur sebagai bagian dari pengamalan ajaran Islam.
Gerakan ini digulirkan bersamaan 100.000 Khataman Al-Qur’an dan Doa Bersama untuk Bangsa di Auditorium Pusat Literasi Keagamaan Islam (PLKI), Ciawi, Bogor.
“Kita tidak ingin khataman Al-Qur’an berhenti pada bacaan. Al-Qur’an harus hadir dalam perilaku kita sehari-hari. Salah satu pesan yang sangat relevan dengan kondisi bangsa saat ini adalah larangan israf dan tabdzir, yakni perilaku berlebih-lebihan dan menyia-nyiakan nikmat Allah,” ujar Direktur Penerangan Agama Islam Muchlis M Hanafi di Bogor, Rabu (17/6/2026).
Muchlis menjelaskan bahwa Indonesia saat ini masih menghadapi persoalan sampah susut dan sisa pangan (food loss and waste) dalam jumlah yang besar. Berdasarkan kajian Bappenas, Indonesia menghasilkan sekitar 23 hingga 48 juta ton sampah pangan setiap tahun. Kondisi tersebut tidak hanya menimbulkan kerugian ekonomi yang besar, tetapi juga berdampak pada lingkungan dan kehidupan sosial masyarakat.
“Di satu sisi masih banyak makanan yang terbuang. Di sisi lain masih ada saudara-saudara kita yang menghadapi kesulitan memenuhi kebutuhan pangan dan gizi. Karena itu, persoalan ini bukan hanya persoalan lingkungan atau ekonomi, tetapi juga persoalan moral, sosial, dan keagamaan,” katanya.
Menurut Muchlis, Islam telah memberikan panduan yang jelas mengenai pentingnya menghargai nikmat pangan. Al-Qur’an memerintahkan umat Islam untuk makan dan minum tanpa berlebih-lebihan serta melarang perilaku tabdzir yang disamakan dengan perbuatan setan.
Karena itu, lanjutnya, upaya mengurangi pemborosan pangan merupakan bagian dari implementasi ajaran Islam sekaligus wujud syukur atas nikmat Allah Swt.
Kampanye Nasional “Hijrah dari Israf dan Tabdzir: Muharram Peduli Pangan 1448 H” merupakan bagian dari implementasi Program Prioritas Menteri Agama Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar dalam penguatan Ekoteologi. Kampanye ini juga sejalan dengan agenda asta cita pembangunan nasional yang menekankan penguatan ketahanan pangan, pembangunan manusia yang berkarakter, serta pembangunan berkelanjutan.
Melalui kampanye tersebut, para penyuluh agama akan menggerakkan masyarakat melalui berbagai kegiatan, antara lain kampanye digital nasional, khutbah Jumat tematik, webinar nasional, Gerakan “Piring Bersih Muharram”, serta Deklarasi Muharram Peduli Pangan.
Salah satu kegiatan yang menjadi fokus kampanye adalah Gerakan Piring Bersih Muharram, yaitu gerakan edukatif yang mengajak masyarakat mengambil makanan secukupnya, menghabiskan makanan yang telah diambil, mengurangi pemborosan pangan, dan membiasakan berbagi kepada sesama.
“Gerakan ini sederhana, tetapi dampaknya besar. Mengambil makanan secukupnya, menghabiskan apa yang kita ambil, dan tidak menyia-nyiakan nikmat Allah adalah bagian dari akhlak Islam yang perlu terus kita hidupkan,” ujarnya.
Muchlis berharap para Penyuluh Agama Islam dapat menjadi agen perubahan dalam membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menghargai pangan sebagai amanah Allah sekaligus bagian dari tanggung jawab terhadap sesama dan lingkungan.
“Momentum Muharram harus menjadi momentum hijrah, termasuk hijrah dari budaya pemborosan menuju budaya syukur, dari menyia-nyiakan nikmat menuju memuliakan nikmat. Melalui gerakan ini, kita ingin menghadirkan ajaran Islam sebagai solusi atas persoalan nyata yang dihadapi masyarakat,” pungkasnya.
(Kemenag.go.id)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



