Jakarta, Bimas Islam — Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag, Abu Rokhmad, mengungkapkan, hilal tidak hanya berkaitan dengan penentuan awal puasa, tetapi juga menyangkut dimensi agama, sains, dan tata kelola negara. Hal itu disampaikannya dalam kegiatan Hilal Observation Coaching yang digelar di Jakarta, Selasa (17/2/2026). Kegiatan itu diikuti 31 peserta secara langsung dan menarik antusiasme sekitar 2.000 pendaftar dari kalangan influencer muda untuk mengikuti secara virtual.
Abu mengatakan, pemahaman tentang hilal, hisab, dan rukyat merupakan bagian penting dari literasi keagamaan yang perlu diperkuat, terutama di kalangan anak muda. “Kalau kita berbicara tentang hilal, kita berbicara tentang agama, sains, dan juga negara. Ini bukan sekadar soal mulai puasa, tetapi bagaimana keputusan itu diambil secara ilmiah, sesuai syariat, dan berdasarkan regulasi,” ujar Abu Rokhmad.
Ia menjelaskan, penetapan awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah oleh pemerintah dilakukan melalui sidang isbat yang mempertimbangkan tiga landasan utama, yaitu sains (astronomi/falak), syariat, dan aturan perundang-undangan. Pemerintah, kata dia, hadir untuk memfasilitasi umat agar pelaksanaan ibadah yang berdampak luas pada kehidupan publik dapat berjalan tertib dan, sejauh mungkin, serentak.
Menurutnya, perbedaan metode penentuan awal bulan adalah hal yang wajar. Namun generasi muda diharapkan mampu menjelaskan perbedaan tersebut secara edukatif, bukan memprovokasi. "Kalau terjadi perbedaan, itu biasa. Tugas kita adalah memberikan penjelasan yang mencerahkan,” katanya.
Sementara itu, Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kemenag, Arsad Hidayat, menyampaikan bahwa kegiatan ini mengusung tema “Yas’alunaka ‘anil Ahillah”, merujuk pada Surah Al-Baqarah ayat 189 tentang pertanyaan mengenai hilal sebagai penanda waktu bagi manusia dan ibadah haji.
Ia menilai, minat generasi muda terhadap ilmu falak masih terbatas, padahal ilmu tersebut memiliki peran strategis dalam menentukan awal bulan Hijriah, waktu salat, hingga fenomena gerhana.
Melalui kegiatan ini, Kemenag berharap generasi Z tidak hanya memahami dasar-dasar hisab dan rukyat, tetapi juga mampu memproduksi konten edukatif yang memadukan sains dan agama secara konstruktif di ruang digital.
Arsad juga menekankan bahwa penguatan literasi falak merupakan investasi jangka panjang, mengingat generasi Z dan milenial saat ini mendominasi struktur demografi Indonesia dan akan menjadi penentu arah bangsa menuju 2045.
Dengan pendekatan berbasis Al-Qur’an, sains, dan regulasi, Kemenag berharap pemahaman tentang hilal tidak berhenti pada ritual tahunan, melainkan berkembang menjadi kesadaran ilmiah dan keagamaan yang berkelanjutan di kalangan generasi muda.
Mr
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



