Disela kesibukannya, kami mencoba meminta waktu untuk melakukan wawancara tatap muka. “Silahkan mas, ayo duduk, apa yang bisa saya bantu?” begitu sapaan ramah menyambut reporter bimasislam Ahmad Syamsuddin. Diruang kerjanya, pejabat muda ini mulai menceritakan lika-liku kiprahnya di Kementerian Agama, khususnya di Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam. Salah satu perkataan kunci yang keluar dari Putri Ketua Umum MUI ini adalah “saya setiap bekerja itu selalu dari hati”.
Profil tokoh kita di akhir tahun ini adalah pejabat muda yang energik, banyak ide dan memiliki segudang obsesi. Adalah kepala seksi Pembinaan Manajemen Masjid, Subdit Kemasjidan, Direktorat Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah, Ditjen Bimas Islam, Hj. Siti Nur Azizah, SH, M.Hum. Saat ini dirinya mendapatkan kesempatan dan kepercayaan untuk menyiapkan berbagai hal terkait pembinaan manajemen masjid di seluruh Indonesia. Di era Teknologi Informasi ini merupakan tantangan sekaligus peluang, masjid merupakan tempat ibadah yang tidak terpisahkan dengan kehidupan sehari-hari umat Islam, disisi lain kemakmuran masjid mesti menjadi prioritas peningkatan dari segi kualitas.
Bu Azizah, begitu panggilan akrab rekan kerjanya. Lahir di Jakarta, 5 September 1972, usianya menginjak 43 tahun, tapi kelincahan serta daya kritisnya seolah dirinya masih seperli kala aktif di organisasi gerakan mahasiswa. Pendidikan di keluarga dan figur orang tua yang aktif dalam organisasi sedikit banyak mempengaruhi karakternya saat ini yaitu memiliki target dalam bekerja. Tidak hanya itu, baginya, kegiatan sosial kemasyarakatan merupakan input terbesar dalam proses pembentukan karakter dan pola kepemimpinan Ibu Azizah.
Selama menjadi abdi negara, Bu Azizah banyak memiliki pengalaman yang sangat berharga, salah satunya saat mewakili Indonesia promosi halal di Malaysia. Saat itu dirinya ikut menangani sertifikasi dan registrasi halal dan berkesempatan ikut menghadiri IMT-GT di Slangor Malaysia tahun 2008 untuk menjelaskan tentang RUU jaminan produk halal ke forum teresebut bersama Kementerian Pertanian dan Badan Standar Nasional.
“Merupakan kebanggaan tersendiri bagi kami Indonesia saat itu sebagai negara muslim terbesar yang memiliki potensi sebagai pasar halal terbesar didunia dansudah memiliki RUU jaminan produk halal”, kenang Bu Azizah.
Disinggung mengenai prioritas saat ini, Bu Azizah mengungkapkan, saat ini sedang menyiapkan rusumsan regulasi bidang kemasjidan yang sudah usang atau lama tahun terbitannya. Juga sedang menyiapkan pola standar masjid berkualitas dari aspek, idarah, imarah maupun riayah melalui program masjid percontohan yang baru saja dilaksanakan.
Perbicangan pun semakin hangat, sesekali saling tukar cerita semasa kuliah dulu. Ditanya apa harapan Bu Aziah kedepan terkait dengan tupoksi sebagai Kepala Seksi Pembinaan Manajemen Masjid Subdit Kemasjidan. Ke depan, urai Bu Azizah, dirinya berharap akreditasi kualitas layanan masjid, standarisasi dan sertifikasi imam maupun khotib dapat direalisasikan. Program lain yang sedang dilakukan adalah membangun sistem data dan informasi kemasjidan yang diberi nama sistem informasi masjid (SIMAS) sebagai sistem layanan data dan informasi kepada masyarakat, sumber kebijakan bidang kemasjidan dan pengendalian data pertumbuhan serta perkembangan masjid di indonesia.
Sistem ini nantinya, Bu Azizah menambahkan, dibangun berbasis web yang mampu menyajikan data masjid dengan nomor ID Nasional sesuai tipologi masjid, apakah itu masjid negara, Raya, Besar, Jami atau masjid di tempat publik. “Melalui data tersebut kami Membuat ID card nasional masjid sebagai kartu identitas masjid yang dilengkapi dengan QR code. Harapannya Ke depan ID nasional masjid ini akan menjadi dokumen storage yang dapat diintegrasikan pemanfaatannya dengan sistem layananan pemerintah lainnya terkait degan masjid. Selain itu kami sudah menyiapkan sistem layanan informasi masjid berbasis mobile”, imbuh bu Azizah.
Ditanya mengenai bagaimana idealnya pengelolaan masjid di era modern ini? Mantan aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia ini menegaskan, idealnya masjid dikelola secara profesional dan modern sebagai pusat pembinaan umat. “Peran dan fungsi Masjid nempengaruhi sendi-sendi kehidupan umat. Masjid diharapkan tidak mengandalkan bantuan tetapi mampu melakukan empowerment atau pemberdayaan terhadap potensi modal sosial masjid yang dimiliki yaitu diantaranya kekuatan jamaah masjid”, tegas Bu Azizah.
Diakhir pembicaraan, Bu Azizah menularkan prinsip-prinsip yang patut direnungkan. Pertama, Istiqomah untuk bergerak, ihtiar dan berproses menjadi pelayan umat yang lebih baik. Selalu memperbaiki integritas dan kompetensi, serta berorientasi melayani umat. [syam]
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



