Wanita berkacamata itu menyambut ramah saat bimasislam menyambangi ruang kerjanya di Gedung Kementerian Agama Lt.9, Jakarta. Obrol-obrol dengan pegawai yang sudah mengabdi sebagai ASN sejak 1989 itu berlangsung akrab, mengalir dan santai, namun runut. Kesannya, nampak benar betapa hati-hati dan sistematisnya jebolan manajemen STIA LAN, Jakarta itu dalam memilah kata.
Wanita itu bernama ibu Wida Sukmawati, seorang perempuan yang menjabat sebagai Kepala Subbag Tata Usaha pada Direktorat Pemberdayaan Zakat, Ditjen Bimas Islam. Dalam obrolan selama 30 menit, bimasislam mengulik sisi personal wanita berdarah Sunda itu mulai dari suka duka bekerja, hingga bagaimana membagi waktu untuk kehidupan keluarga. Untuk urusan keluarga ini, harap maklum, membagi waktu antara kesibukan kerja dan urusan rumah tangga bagi seorang ibu bukanlah perkara mudah. Lebih-lebih, ibu dari Annisa Nurwidya Purnomosiwi (20), Arya Wirawan Purnomo (17), dan Daifa Widya Purnomosiwi (8) itu tinggal Bogor yang lumayan jauh dari tempatnya bekerja.
Visinya, istri dari pengusaha Suryo Purnomo itu bertutur, keluarga perlu dibangun dengan landasan religius yang kuat. Itu sebabnya, ketiga anaknya mendapatkan pendidikan di salah satu Sekolah Islam Terpadu (SIT) terbaik di Kota Bogor, Perguruan Ummul Qura. Hasilnya, kini ia sudah memetik sebagian buah dari penanaman basic keislaman putra-putrinya itu. Annisa, si Sulung yang saat ini tengah menimba ilmu di Universitas Trisakti, adalah aktivis mahasiswa yang aktif dalam kegiatan sosial dan pemberdayaan masyarakat. Mahasiswi semester 6 itu bahkan menolak program kunjungan ke Jerman yang schedule-nya hanya berisi jalan-jalan. Ketimbang jalan-jalan ke Jerman, calon arsitek itu justru lebih memilih bergabung dalam acara bakti sosial di Kabupaten Malang, Jawa Timur.
“Basic keagamaan yang tumbuh sejak kecil di lingkungan yang baik menumbuhkan spirit untuk terus berbuat baik. Sekalipun demikian, saya juga memperkenalkan mereka ke dunia luar. Sebab, lingkungan di sekolah terpadu itu kan relatif homogen, semua sama, mindsetnya sama, kulturnya sama. Padahal tentu Anak saya juga perlu tahu bagaimana dunia luar yang lebih luas,” tutur wanita kelahiran 28 Desember 1968 itu.
Memiliki seorang suami berprofesi bukan PNS, bu Wida, demikian akrab disapa, mengaku ingin anak-anaknya berkarir di dunia swasta. Saat ini, putri sulungnya sudah menerima sejumlah job desain arsitektur gedung sebagai seorang freelancer. Khusus untuk desain masjid, Bu Wida memberi pesan spesial kepada putri tercintanya itu, “untuk arsitektur masjid, berikanlah harga yang khusus, sekalian sedekah untuk akhirat,” pesannya.
Terkait pekerjaan, wanita yang sudah 27 tahun berkarir sebagai pegawai negeri itu merasa bahwa iklim bekerja zaman dulu dan sekarang sudah berbeda. Saat ini, fasilitas bekerja sangat memadai, gedung yang megah, sarana transportasi juga lengkap. Dengan dukungan fasilitas semacam itu, suhu bekerja pada saat ini sudah seharusnya memang jauh lebih baik.
Menurutnya, perlu ada spirit bersama untuk berkomitmen mengerjakan hari ini apa yang seharusnya selesai hari ini. Spirit tersebut hanya bisa tumbuh jika pegawai punya rasa cinta terhadap pekerjaannya.
“Kalau tidak ada rasa memiliki terhadap pekerjaan, saat ada masalah dia akan sabodo teuing (Sunda: tidak peduli), dan tak memiliki kepedulian atas masalah dalam pekerjaannya,” jelasnya.
Satu hal menarik dari perbincangan bimasislam dengan bu Wida. Kita, katanya melanjutkan, mungkin tak perlu terlalu luas berpikir untuk menyelamatkan negara, “aksi kita lokal, lingkupnya kecil. Tapi aksi lokal kita dalam bekerja dengan baik itu pasti akan berpengaruh positif terhadap negara kita pada akhirnya,” terangnya.
Dalam kapasitasnya sebagai kasubag TU Ditdaya Zakat, saat ditanya tentang harapannya pada pemberdayaan zakat nasional, bu Wida berharap performa perzakatan nasional terus meningkat pasca lahirnya regulasi tentang zakat dan terpilihnya 11 anggota Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) yang baru.
“BAZNAS pusat maupun daerah perlu terus membangun performance yang optimal sehingga masyarakat semakin menaruh trust kepada BAZNAS, baik tingkat pusat maupun daerah. Ini penting agar apa yang selama ini sudah berjalan baik semakin bertambah kebaikannya, dan masyarakat mau menyetorkan zakatnya ke Badan Amil Zakat,” katanya.
Mengakhiri obrolan dengan bimasislam pagi itu, wanita yang tinggal di Tamansari, Cimanggu, Bogor, menyebut sebuah catatan penting untuk mencapai goal dari organisasi, yaitu kemampuan dalam menjalin Komunikasi. Dalam dunia kerja, komunikasi berperan amat penting untuk mencapai goal dalam pekerjaan. “Komunikasi yang baik akan membuahkan koordinasi yang baik. Kerjasama yang baik lahir bersama koordinasi yang baik. Oleh sebab itu, untuk mencapai goal dari satu organisasi, kemampuan komunikasi yang baik memiliki peran yang sangat penting,” pungkasnya. (sigit)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



