M. Fuad Nasar
(Kasubdit Pengawasan Lembaga Zakat)
Siang itu Ibu Dr. Hj. Siti Chalimah Fadjrijah hadir di Kantor BAZNAS Gedung Arthaloka, Jalan Jenderal Sudirman Jakarta. Saya ingat yang diperbincangkan sekitar upaya untuk meningkatkan pengelolaan zakat pada BAZNAS. Menurut pejabat Bank Indonesia itu perlu diusulkan kepada pemerintah agar mengeluarkan regulasi yang mengatur setiap pemberi kerja wajib memotong zakat sebesar 2,5 persen dari gaji karyawannya yang beragama Islam.
Siti Chalimah Fadjrijah yang biasa disapa Ibu Fadjrijah menjadi Pengurus BAZNAS mulai periode pertama (2001 – 2004) dan dua periode berikutnya, sebagai anggota Komisi Pengawas dan Kepala Divisi Pengumpulan. Keberadaan Ibu Fadjrijah sebagai pengurus BAZNAS, semakin memperkuat posisi BAZNAS untuk menjalin kemitraan dan partisipasi kalangan perbankan nasional dalam program-program BAZNAS.
Kenangan lain tentang Ibu Fadjrijah, sekitar tahun 2007 saya bersama beliau menghadiri acara serah terima sumbangan mobil ambulance dari UPZ Bank BNI untuk menunjang kegiatan Unit Kesehatan Keliling (UKK) BAZNAS. Sumbangan ambulance diserahkan langsung oleh Direktur Utama BNI saat itu Bapak Gatot M. Suwondo dan diterima oleh Ibu Fadjrijah.
Sebuah media mengangkat sosok Ibu Fadjrijah sebagai “tokoh di balik layar” pengusung ekonomi syariah di Indonesia. Dalam kapasitasnya sebagai pejabat bank sentral, beliau ikut menata perkembangan sistem keuangan syariah demi kemaslahatan bangsa dan negara.
Selama 26 tahun ia meniti karier di Bank Indonesia mulai dari staf bagian pemeriksaan bank. Pernah memimpin Biro Penelitian dan Pengembangan Perbankan, Direktur Pengawasan Bank, Direktur Perizinan dan Informasi Perbankan, dan terakhir menjabat Deputi Gubernur Bank Indonesia (2005 – 2010). Pengawasan bank umum dan bank syariah berada di bawah lingkup tugasnya.
Latar belakang keluarga amat besar pengaruhnya dalam membentuk watak dan kepribadian seseorang. Ibu Fadjrijah yang lahir di Temanggung, Jawa Tengah 2 September 1951 dibesarkan dalam keluarga santri. Orang tua dan kakeknya guru mengaji serta pengasuh pesantren. Ia menempuh pendidikan SMP dan SMA Muhammadiyah. Menamatkan sarjana ekonomi di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, dan meraih gelar doktor dari Universitas Indonesia tahun 2008. Semasa mudanya aktif dalam organisasi Pelajar Islam Indonesia (PII).
Saat diwawancarai wartawan seputar pernak-pernik perjalanan hidupnya Ibu Fadjrijah menuturkan, “Saya salut kepada orang tua. Ayah bilang: kalau mau jadi orang Islam harus mumpuni. Karena itu ayah membekali anak-anaknya dengan pendidikan agama dan umum. Ayah juga sering berkata: saya tidak bisa meninggalkan buat kamu harta, tapi ilmu.”
Kegiatan agama tidak asing baginya. ‘’Saya selalu berusaha mengamalkan Hadis Nabi yang mengatakan, “Sampaikanlah apa yang engkau ketahui, walaupun satu ayat’,’’ ujarnya. Saat bulan Ramadhan pada pagi hari dari pukul 07.00- 08.30 WIB, Ibu Fadjrijah memimpin tadarus Al Quran kelompok pegawai Bank Indonesis di kantornya. Mengutip ucapannya, “Bacaan yang paling saya senangi adalah Al Quran.’’ Semasa tinggal di Komplek Perumahan Bank Indonesia Cipinang Jakarta Timur, ia merasa terpanggil untuk mengajar ibu-ibu di kompleknya membaca Al Quran tiap hari Sabtu. Pesertanya mulai dari yang sama sekali belum mengenal huruf Al Quran sampai yang sudah mulai kenal huruf, tapi belum lancar mengaji. Ia juga membaca buku-buku Islam untuk memperdalam pengetahuan agama.
Menyingggung pendidikan agama yang diterapkannya dalam keluarga kepada anak-anaknya, Ibu Fadjrijah mengatakan, ‘’Saya mengajarkan anak membaca Al Quran sampai mereka bisa, baru kemudian saya memanggil guru mengaji. Dua hal yang selalu saya ingatkan kepada anak-anak, yakni belajar shalat dan mengaji.’’
Ibu Fadjrijah adalah contoh wanita karir yang sukses, namun di rumah tetap menjalankan tugas mulia sebagai ibu rumah tangga. ‘’Kalau saya di rumah, orang tidak akan menyangka saya pejabat. Saya ikut belanja ke pasar. Saya pun membersihkan kamar mandi. Saya tidak merasa jabatan itu jadi beban. Jabatan itu di kantor, di rumah saya adalah ibu rumah tangga.” ucapnya.
Perjalanan karier Ibu Fadjrijah di Bank Indonesia dapat dilukiskan dengan ungkapan: tak selalu berhiaskan mawar dan melati. Di tengah tugas dan tanggungjawab kebanksentralan sebagai Dewan Gubernur Bank Indonesia, dengan takdir Allah tahun 2009 Ibu Fadjrijah jatuh sakit karena stroke. Hari-hari sunyi dilaluinya pasca-operasi dan menjalani fisioterapi secara rutin. Kesabaran dan keikhlasannya lagi-lagi diuji ketika suaminya Bapak Sumardi Muchayat meninggal tahun 2010. Saya terharu melihat Ibu Fadjrijah duduk di atas kursi roda dalam keterbatasan gerak dan kemampuan berkomunikasi dengan tabah menerima ucapan belasungkawa dari para pentakziyah.
Ibu Fadjrijah kini sudah dipanggil oleh Tuhan. Ia menghembuskan nafas terakhir Selasa 16 Juni 2015 pukul 20.30 WIB di Rumah Sakit Harum Sisma Medika Jakarta Timur, dalam usia 63 tahun dan meninggalkan tiga orang anak. Menurut cerita keluarganya dalam perjalanan menuju rumah sakit beberapa jam sebelum meninggal lisannya masih menyebut asma Allah.
Rabu menjelang Subuh (17 Juni), hari terakhir bulan Sya’ban 1436 H, jenazah almarhumah Ibu Fadjrijah diberangkatkan dari kediamannya di Jalan Teluk Tomini Duren Sawit Jakarta Timur menuju Bandar Udara Soekarno-Hatta untuk dimakamkan di kampungnya di Temanggung, sesuai wasiatnya. Sebuah ungkapan menyatakan; kadang orang baik cepat dipanggil karena Allah menyayanginya dan melindunginya dari fitnah orang-orang yang jahat.
Selamat jalan muslimah di garis depan perbankan Indonesia. Semoga Allah SWT mengampuni segala kekhilafannya dan menerima arwah beliau dalam naungan keridhaan-Nya.
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



