Jakarta, bimasislam— Saat ini telah berkembang isu gerakan keagamaan Islam di Iraq dan Syria bernama Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) yang perlu mendapatkan perhatian dari para pemimpin Islam. ISIS merupakan kelompok kekuatan militer di Irak dan Suriah yang muncul dan menggemparkan dunia. ISIS terbentuk 2013, tidak hanya memiliki ideologi ekstrem, tetapi juga menebarkan teror dan kekerasan terhadap publik.
Menurut dokumen Badan Keamanan Nasional (NSA) Amerika Serikat, pemimpin ISIS, Abu Bakar Al-Baghdadi, mendapatkan pelatihan militer setahun penuh dari Mossad, Israel, dan mendapatkan kursus teologi dan retorika dari lembaga intelijen zionis.
Menyikapi hal tersebut, Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin secara tegas menyatakan, ideologi Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS) bertentangan dengan ideologi Pancasila. Pernyataan ISIS yang mengatakan bahwa Pancasila adalahthogut atau berhala yang harus diperangi, sudah amat kelewat batas. ISIS merupakan suatu organisasi pergerakan yang berpaham radikal, dan menggunakan kekerasan demi memperjuangkan apa yang diyakininya. Yakni memperjuangkan negara Islam di Iraq dan Suriah. Umat Islam Indonesia tak perlu terpengaruh dan ikut-ikutan. Demikian pesan blackberry messenger yang disebarkan Menag kepada pers Sabtu (2/8).
Belakangan banyak para tokoh Islam menyerukan kepada masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh ajakan ISIS yang dapat membahayakan kehiupan harmoni umat. Ketua MUI, Din Syamsuddin, menyerukan agar umat Islam tidak terpengaruh oleh ajakan ISIS sebagai ideologi radikal yang bertentangan dengan ajaran Islam. "ISIS menempuh cara-cara kekerasan, memaksakan kehendak, mengancam/meneror, dan membunuh orang yang tidak berdosa," kata Din dalam keterangan tertulisnya, Senin (4/8/2014).
Demikian juga pernyataan tertulis pengamat Timteng, Cholil Nafis, Ph.D, ISIS mengusung gerakan transnasional yang menggunakan cara teror, tidak menghargai perbedaan yang bertentangan dengan cara nabi dalam berdakwah, tegasnya. “ISIS itu bertentangan dengan konsep NKRI, sehingga pemerintah harus bersikap, namun tidak serampangan menuduh setiap Ormas Islam agar tidak terjadi kecemasan. Pemerintah bersama masyarakat harus bersatu untuk menanggulangi ancaman dari luar demi keutuhan NKRI dan nilai-nilai Pancasila”, pinta Sekretaris Program Kajian Timteng dan Islam PPs Universitas Indonesia ini.
Menurut rencana, sebagai upaya untuk pencegahan pengaruh ISIS di Indonesia, Ditjen Bimas Islam akan menyelenggarakan Seminar Nasional dan Silaturahim Menag dengan Pimpinan Ormas Islam pada tanggal 9 Agustus 2014 di Auditorium, Gedung Kemenag, Jl. MH. Thamrin 6 Jakarta. Peserta kegiatan akan dihadiri oleh para pimpinan Ormas Islam, dan stake holders Bimas Islam. (thobib/foto:AFP)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



