Oleh:
M. Fuad Nasar*
Umat Islam menyambut dan merayakan Idul Fitri dengan menyerukan kalimat-kalimat takbir dan tahmid. Takbir mensyiarkan keagungan Allah, Tuhan sekalian alam dan segala manusia. Tahmid memuji dan mensyukuri rahmat dan karunia-Nya yang tidak terhingga. Ibadah puasa Ramadhan diakhiri dengan menunaikan zakat fitrah sebelum pelaksanaan shalat Idul Fitri secara berjamaah di lapangan terbuka atau di masjid. Kewajiban zakat fitrah berlaku untuk seluruh umat Islam yang mempunyai persediaan makanan untuk hari raya. Zakat fitrah dibayarkan menjelang berakhirnya Ramadhan untuk setiap jiwa orang dewasa maupun anak kecil.
Zakat fitrah selain sebagai pembersih bagi orang-orang berpuasa dari perkataan dosa dan ucapan sia-sia, namun lebih jauh bertujuan untuk melindungi fakir miskin dari berkeliling menadahkan tangan di Hari Raya Idul Fitri. Islam menginginkan semua manusia merasa gembira dan bahagia pada hari raya yang mubarak. Seorang muslim yang baik tidak akan membiarkan kemiskinan di tengah masyarakat tanpa berbuat untuk membantu orang miskin atau mengeluarkan kebijakan yang berpihak pada rakyat miskin ketika memegang amanah kekuasaan.
Dalam suasana Idul Fitri, umat Islam dianjurkan saling memaafkan dan mendoakan: taqabbalallahu minna wa minkum, minal aidin wal faizin, mudah-mudahan Allah menerima amal ibadah kita semua dan semoga kita kembali dari medan juang sebagai orang yang menang. Saling memaafkan dan mendoakan menghadirkan suasana jiwa yang tenang dan damai.
H.S.M. Nasaruddin Latif dalam artikel “Berhari Raya Idul Fitri 1392” (Majalah Kiblat, November 1972) menulis, “Fajar yang menyingsing di Hari Raya 1 Syawal adalah fajar yang menyerukan lisanul-hal-nya keagungan Ilahi, persaudaraan dan kedamaian bagi manusia yang hidup di muka bumi ini. Kalau sekiranya persaudaraan dan kedamaian itu belum bisa diwujudkan di seluruh dunia, namun setidak-tidaknya dalam hati kita selaku mukmin-muslim, tentunya kita dapat menghidupkan dan menyuburkannya.”
Ketakwaan kepada Allah dan kepedulian kepada sesama manusia merupakan dua aspek yang tidak boleh dipisahkan. Pengamalan ajaran agama bukan hanya berorientasi pada pembentukan keshalehan pribadi, tetapi juga keshalehan sosial yang berdimensi hubungan baik dan memberi manfaat kepada sesama manusia. Keshalehan sosial tidak terbatas hanya di bulan Ramadhan saja, tetapi seyogyanya menjadi kesadaran sepanjang waktu tanpa tergantung momen dan suasana.
Sejalan dengan hikmah mengumandangkan takbir dan tahmid di Hari Raya Idul Fitri, setiap muslim membesarkan Allah SWT dalam kebersamaan dengan umat muslim lainnya. Setiap muslim tidak boleh melepaskan diri dari persaudaraan antara sesama muslim dan manusia lainnya. Ibadah puasa dan Hari Raya Idul Fitri meneguhkan nilai-nilai substansial keshalehan beragama yang perlu diamalkan dalam mata rantai perjalanan hidup manusia.
Meski Ramadhan telah berlalu, namun nilai-nilai ibadah puasa diharapkan menumbuhkan ketahanan mental dan mewarnai kehidupan muslim selama sebelas bulan mendatang. Penghayatan nilai-nilai ibadah puasa diharapkan menumbuhkan solidaritas Islam sebagai solusi persoalan umat dan kemanusiaan. Sebagaimana digambarkan dalam Hadis, tidak beriman orang yang tidur nyenyak dalam keadaan kenyang, sementara ada tetangga di sekitarnya yang tidak bisa tidur karena menahan lapar.
Nabi Muhammad SAW bersabda,
“Sebaik-baik manusia adalah yang memberi manfaat kepada manusia lainnya.” (HR Tabrani).
Dalam hadis lain, “Seorang muslim adalah saudara muslim yang lain. Jangan ia menganiaya saudaranya. Jangan pula menghinanya. Barangsiapa memberi kecukupan kebutuhan saudaranya, Allah akan memberi kecukupan kebutuhannya. Barangsiapa melapangkan kesempitan seorang muslim, Allah akan melapangkan kesempitannya kelak pada hari Kiamat. Barangsiapa menjaga aib seorang muslim, Allah akan menjaga aibnya kelak pada hari Kiamat.Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba-Nya itu suka menolong saudaranya.”(HR Bukhari dan Muslim).
Orang Islam yang baik – ungkap Nabi Muhammad – adalah yang aman dan selamat orang Islam lainnya dari gangguan lidah (ucapan) dan tangannya (perbuatannya). Seorang muslim haram hukumnya merendahkan, menjelekkan dan memfitnah orang lain, baik orang yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Dalam Islam, segala perilaku yang merusak persaudaraan sesama umat harus dicegah bahkan dipandang sebagai dosasehingga harus dihindari. Nabi mengingatkan, “Janganlah kamu saling mendengki, saling membenci, saling mencari kesalahan yang lain, saling mengumpat dan jangan pula saling menipu. Jadilah kamu sekalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR Bukhari dan Muslim).
Umat Islam dipersatukan dalam satu akidah tauhid sebagai umat yang satu atau ummatan wahidah. Segala perbedaan pendapat yang muncul di kalangan umat Islam maupun di antara pemimpin dan tokoh-tokoh umat tidak boleh menimbulkan kebencian, pertentangan, permusuhan, apalagi perpecahan. Perbedaan organisasi dan pandangan politik tidak boleh memutus silaturahim di antara tokoh-tokoh Islam dan umat Islam. Di bawah naungan panji-panji kalimat tauhid Lailaha Illallah Muhammadar Rasulullah dan di bawah sang saka Merah Putih di negeri ini, segala perbedaan tidak boleh memutus silaturahim dan merenggangkan persaudaraan sesama umat Islam dan sesama anak bangsa.
Dalam sebuah hadis Nabi Muhammad SAW mengajak umatnya memandang dan berpikir jauh ke depan dengan melontarkan satu pertanyaan kepada para sahabatnya ketika itu:
“Jika negara-negara Persia dan Romawi sudah takluk kepadamu, menjadi manusia macam manakah kalian kalian waktu itu?”
Dijawab oleh Abdurrahman bin Auf, “Kami akan menjalankan hukum sesuai dengan yang telah diperintahkan Allah kepada kami.”
Disambut oleh Nabi, “Atau lain dari itu?”
Kemudian Rasulullah SAW mengatakan,
“(Dikhawatirkan) kalian bersaing antara satu dengan yang lain. Dan sebagai akibat dari saling bersaing itu, kalian saling dengki satu sama lain. Kemudian kalian saling benci-membenci. Kemudian kalian bertindak sewenang-wenang kepada golongan miskin dan lemah. Lalu kalian tempatkan golongan yang satu di atas yang lain.”
“Jatuh dan bercerai-berainya umat Islam ialah karena mereka meninggalkan Qur’an dan melupakan persatuan yang dianjurkan agama Islam.” demikian kata K.H. Mas Mansur, Ketua Umum PB Muhammadiyah periode 1936-1942 dan Pahlawan Nasional, yang patut kita renungkan.
Spirit Idul Fitri sebagai syiar ibadah tidak dapat dipisahkan dari spirit untuk membangun persatuan umat. Persatuan umat seagama merupakan unsur yang sangat penting sebagai landasan dalam membina persatuan antarumat beragama di negara kita yang berdasarkan Pancasila. Seiring dengan itu umat Islam dihimbau agar melaksanakan pesan Allah dalam Al-Qur’an, “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) kamu bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara.” (QS Ali Imran [3]: 103)
Suatu bangsa dan negara akan mencapai kemakmuran dan kemajuan bukan semata-mata karena pembangunan fisik material. Tetapi kemakmuran dan kemajuan akan terwujud jika para pemimpin dan masyarakat memiliki akhlak mulia (akhlaqul karimah) dan menjauhi sifat-perilaku yang merusak dan membahayakan kehidupan bersama. Akhlak mulia merupakan hasil dari penanaman nilai-nilai moral, karakter dan budi pekerti di dalam keluarga dan di lingkungan sekolah.
Semangat Ramadhan dan hikmah Idul Fitri yang membuat kita semakin dekat dengan Allah, semakin baik dan peduli kepada sesama, diharapkan terus menyala di segala sudut kehidupan. Selain itu, generasi muda muslim perlu memiliki kesadaran sejarah agar pengalaman perpecahan di kalangan umat Islam dan bangsa-bangsa muslim di masa lampau yang membuka pintu masuk bagi kolonialisme dan imperialisme tidak terus terulang dalam sejarah modern.
Semoga Allah SWT menerima amal ibadah kita semua dan semoga kita dipertemukan dengan Ramadhan tahun depan dalam kondisi yang lebih baik daripada tahun ini. Di hari Idul Fitri yang istimewa ini mari memohon ampun kepada Allah, semoga virus global Covid-19 cepat berlalu.
Allaahu Akbar. Allah Maha Besar.
*Sekretaris Ditjen Bimas Islam



