Maunah, M. Hum
(Pelaksana pada Kementerian Agama Kabupaten Cirebon)
Sambil menenteng al-quran di dada, seorang anak perempuan usia 10 tahun menggamit tangan adik sepupunya dan berkata: Ayo, dek! Ikut, dengerin aja ngga apa-apa. Biar hafal quran kaya anak-anak yang di ‘Hafidz Indonesia. Anak kecil yang umurnya berkisar tiga tahunan tersebut bangkit mengikuti langkah kakaknya dan segera bergabung bersama puluhan anak lainnya ke ruang tengah rumah saya yang sengaja difungsikan untuk tempat mengaji. Tak berapa lama, lantunan hafalan surat pendek membahana, menggema ke setiap ruang rumah sederhana kami.
Saya tertegun memandangi mereka seraya bersyukur tak habis. Di era digital seperti ini, ketika televisi dibanjiri bernuansa pop tak mendidik, setidaknya saya menyaksikan sendiri masih banyak anak yang mengidolakan acara-acara yang baik. Anak di atas salah satunya. Bisa jadi, jumlahnya mungkin tidak banyak, seperti tidak banyaknya jumlah acara yang mendidik di televisi kita. Tapi itu bukan alasan bagi kita sebagai orang dewasa untuk apriori dengan kondisi saat ini.
Bagi saya, jika kita memang benar-benar ingin mewujudkan kemunculan generasi qurani, ada beberapa hal konkrit yang setidaknya bisa kita lakukan sebagai sebuah ikhtiar untuk mewujudkan hal tersebut. Diantaranya adalah, pertama, memberi dukungan kepada program-program televisi yang baik sesuai dengan misi mencetak generasi qurani, serta membuat atau mendukung secara langsung lingkungan qurani untuk anak-anak di sekitar kita.
Dukungan terhadap program televisi yang baik sangat penting untuk mengimbangi program yang bisa jadi merusak moral anak-anak kita. Acara ‘Hafidz Indonesia’ misalnya, kita bisa mendukung dengan cara menonton acara tersebut, memberi atensi dan testimoni positif mengenai acara tersebut, dan secara massif menggalang dukungan untuk keberlangsungan acara tersebut baik via social media maupun lainnya.
Semakin banyak masukan dan dukungan yang kita berikan kepada pembuat program, akan semakin banyak iklan yang masuk untuk acara tersebut dan pada akhirnya akan semakin besar pula kemungkinan acara baik tersebut bisa bertahan lama. Semakin lama acara tersebut bertahan, maka semakin mudah trendsetter dimunculkan. Karena bagaimanapun, dibandingkan media lainnya, televisi jauh lebih ampuh dalam membentuk opini dan pandangan masyarakat. Jika acara ‘Hafidz Indonesia’ dianggap ‘menjual’ dan berkualitas, maka bisa jadi akan banyak orang Indonesia yang tergerak untuk mendekatkan anak-anak mereka dengan Alquran. Terlepas dari masalah niat yang bisa jadi menimbulkan kontroversi, saya pikir hal ini bisa menjadi semacam awalan yang baik bagi Indonesia untuk membumikan Alquran pada anak-anak.
Abaikan pola pikirbahwa kita sedang ‘memberi makan’ orang-orang di balik tayangan tersebut. Anggap saja itu merupakan bagian dari kontribusi kita untuk munculnya tayangan-tayangan mendidik yang kita harapkan mampu membentuk karakter anak-anak. Menurut saya pribadi, jika kita enggan menonton atau mendukung program yang baik, dan akhirnya si pembuat program merugi, saya yakin mereka akan kapok membuat program yang sama dan justru berfikir untuk membuat program lain yang lebih ‘menghasilkan’ tanpa memperdulikan aspek edukasi. Seperti apa yang terjadi saat ini, di mana program ‘hore-hore’ justru mendapat ratting yang tinggi dan ada di mana-mana.
Jangan salahkan pembuat program, karena mereka bisa jadi hanya mengikuti kehendak pasar. Karena bagaimanapun, sebagai pengusaha mereka juga tentu tidak mau merugi. Maka mulai sekarang, mari mengambil bagian untuk menjadi ‘pasar’ yang aktif dan cerdas memilih program. Jika ada program yang kita anggap baik dan mendidik serta sesuai dengan pembentukan moral anak kita, maka mari bersama-sama kita dukung secara konkrit, kita tonton, kita beri masukan dan sekaligus apresiasi. Agar para pelaku seni di belakang program tidak merugi dan bisa membuat program sejenis di kemudian hari agar ikon-ikon generasi qurani, anak soleh yang hafal quran, semakin bermunculkan di layar kaca dan menjadi idola baru di Indonesia.
Kedua, hal konkrit yang bisa kita lakukan adalah dengan membuat atau mendukung lingkungan qurani untuk anak-anak di sekitar kita. Bagaimanapun, kita tidak bisa terus menerus mengharapkan orang lain melakukan apa yang kita inginkan. Langkah terbaik untuk mewujudkan harapan kita adalah dengan melakukan apa yang menjadi impian kita. Just do it by ourselves!
Jika kita berharap anak-anak kita bisa dekat dengan Alquran, maka mulailah kita mendekatkan Alquran kepada mereka. Pastikan telinga dan mata mereka akrab dengan Alquran. Dan itu tidak cukup hanya kepada anak-anak kita saja, karena mereka memiliki kawan bermain yang tentunya akan mempengaruhi cara bersikap dan pilihan hidup mereka. Langkah paling rasional adalah dengan juga mengajak kawan-kawan anak kita untuk dekat kepada Alquran. Salah satu caranya adalah dengan membuat pengajian rutin untuk anak-anak.
Jika pun kita tidak bisa membuat hal tersebut karena berbagai faktor seperti keterbatasan waktu, tempat, dan lain sebagainya, maka kita tetap bisa mengambil bagian dengan cara memberi dukungan dalam berbagai hal baik secara langsung maupun tidak langsung kepada mereka yang sudah membantu mengambil fardhu kifayah dengan menyelenggarakan dan memakmurkan majlis-majlis ilmu seperti pesantren, taman pendidikan Alquran, sekolah diniyyah, dan lain sebagainya. Satu hal yang tidak kalah penting adalah dengan memunculkan konstruksi bahwa ‘dekat’ dengan Alquran adalah sesuatu yang alamiah sekaligus prestatif dan membanggakan.
Saya menyadari sepenuhnya, bahwa membentuk generasi qurani bukanlah sesuatu yang mudah. Ada banyak tantangan yang bisa jadi sangat menghambat. Tapi hal tersebut tidak bisa dijadikan excuse bagi kita untuk berdiam diri dan tidak mengambil bagian. Sekecil apapun peran kita, tetap jauh lebih berarti daripada kita hanya sekedar menjadi penonton yang pasif dan membiarkan arus degradasi ahlak menghanyutkan anak-anak kita dan menjauhkan mereka dari Alquran. Wallahu a’lam.
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



