Oleh:
Jaja Zarkasyi*
Tahun ini, Ramadan saya lalui dengan berkunjung ke Ibu Kota Nusantara (IKN). Rasanya berbeda. Ramadan hadir di sebuah ruang yang juga sedang mencari bentuknya. IKN belum selesai. Di beberapa sudut, pembangunan masih berlangsung. Gedung-gedung berdiri dengan wajah yang belum sepenuhnya sempurna, jalan-jalan masih dalam proses pematangan. Namun justru di tengah proses itu, terasa denyut kehidupan yang kuat: sesuatu sedang bertumbuh.
Masjid Negara mulai beroperasi. Azan berkumandang menembus udara pagi yang masih bersih. Saf-saf dirapatkan. Di sana, pembangunan fisik dan pembangunan batin bertemu pada satu titik yang sederhana, tetapi sarat makna.
Lalu muncul pertanyaan yang tak terhindarkan: apakah kita sedang membangun sekadar pusat pemerintahan, atau sedang menanam fondasi peradaban? Pertanyaan ini bukan retorika. Ia menuntut kejujuran. Kota bisa dibangun dengan anggaran, tetapi peradaban hanya dapat dibangun dengan nilai.
Pertanyaan berikutnya pun hadir: nilai apa yang sedang kita wariskan melalui cara kita membangun hari ini? Sebab yang diwariskan bukan hanya gedung dan infrastruktur, melainkan juga cara berpikir, cara memperlakukan alam, cara memaknai kekuasaan, serta cara menjaga keseimbangan antara ambisi dan tanggung jawab.
Ramadan di IKN terasa tenang. Tidak gegap gempita. Justru dalam kesederhanaannya, ia menghadirkan kesadaran yang dalam: setiap awal membutuhkan ruh agar tidak kehilangan arah.
---
Niat: Dasar Transformasi Peradaban Setiap perubahan besar selalu dimulai dari sesuatu yang tak terlihat: niat. Gedung dapat dirancang, sistem dapat disusun, regulasi dapat diterbitkan. Namun tanpa niat yang lurus, semuanya hanya akan menjadi struktur kosong. Niat adalah fondasi yang tak kasatmata, tetapi menentukan arah bangunan di atasnya.
Dalam konteks IKN, niat menjadi sangat penting. Kita tidak sekadar memindahkan pusat administrasi negara. Kita sedang membuka lembar baru tentang bagaimana Indonesia membayangkan dirinya di masa depan. Apakah ia ingin hanya tampak modern, atau juga menjadi lebih adil, lebih bijak, dan lebih berimbang?
Niat yang benar akan melahirkan cara yang benar. Jika niatnya kemaslahatan, kebijakan akan berpihak pada keberlanjutan. Jika niatnya keadilan, pembangunan tidak akan meninggalkan yang lemah. Jika niatnya amanah, kekuasaan tidak akan berubah menjadi kesewenang-wenangan.
Ramadan adalah bulan yang melatih kejujuran niat. Puasa tidak terlihat oleh manusia lain, tetapi sangat terasa di hadapan Tuhan. Di sinilah pelajaran besarnya: transformasi peradaban tidak dimulai dari apa yang tampak di luar, melainkan dari kesadaran batin di dalam.
IKN, dengan segala dinamika dan pertumbuhannya, adalah ruang menuju ke sana. Ia dapat menjadi simbol percepatan pembangunan, tetapi juga simbol pematangan niat kolektif. Jika sejak awal yang ditanam adalah kesadaran untuk membangun dengan nilai, transformasi peradaban bukan sekadar wacana, melainkan proses yang benar-benar sedang dimulai.
---
Spirit Wakaf untuk Ekologi
Kami datang membawa spirit wakaf. Bukan sekadar dalam makna administratif, melainkan sebagai cara pandang. Wakaf adalah komitmen jangka panjang untuk kebermanfaatan: menahan yang pokok, mengalirkan yang baik.
Di IKN yang masih dikelilingi bentang alam yang luas, wakaf menemukan ruang refleksinya. Ekologi bukan sekadar isu teknis pembangunan, melainkan persoalan amanah. Hutan bukan hanya latar, tetapi penyangga kehidupan. Air bukan sekadar sumber daya, melainkan sumber keberlangsungan.
Secara filosofis, wakaf mengajarkan satu prinsip mendasar: menahan diri demi keberlanjutan. Bukankah Ramadan juga latihan menahan diri? Di titik inilah keduanya bertemu. Ramadan membentuk manusia yang terkendali. Wakaf membentuk pembangunan yang berkelanjutan.
Krisis lingkungan kerap lahir dari ketidakmampuan menahan diri: eksploitasi berlebihan, konsumsi tanpa batas, ambisi yang melampaui daya dukung alam. Maka jika IKN sejak awal ditanamkan spirit wakaf untuk ekologi, yang dibangun bukan hanya kota modern, melainkan kota yang sadar.
Ramadan pertama di IKN terasa seperti napas panjang yang bersih. Udara pagi terasa segar, angin bergerak pelan, suasana seolah lebih teduh. Ada kesejukan yang bukan hanya karena alamnya, tetapi juga karena kesadaran yang mulai tumbuh di dalamnya.
Mungkin di situlah maknanya: IKN tidak hanya memulai babak baru secara administratif, tetapi juga menghadirkan udara segar nilai-nilai—nilai pengendalian diri, keberlanjutan, dan niat yang lurus sebagai dasar transformasi peradaban.
*Kasubdit Pengamanan dan Pengawasan Harta Benda Wakaf
Jaja Zarkasyi*
Tahun ini, Ramadan saya lalui dengan berkunjung ke Ibu Kota Nusantara (IKN). Rasanya berbeda. Ramadan hadir di sebuah ruang yang juga sedang mencari bentuknya. IKN belum selesai. Di beberapa sudut, pembangunan masih berlangsung. Gedung-gedung berdiri dengan wajah yang belum sepenuhnya sempurna, jalan-jalan masih dalam proses pematangan. Namun justru di tengah proses itu, terasa denyut kehidupan yang kuat: sesuatu sedang bertumbuh.
Masjid Negara mulai beroperasi. Azan berkumandang menembus udara pagi yang masih bersih. Saf-saf dirapatkan. Di sana, pembangunan fisik dan pembangunan batin bertemu pada satu titik yang sederhana, tetapi sarat makna.
Lalu muncul pertanyaan yang tak terhindarkan: apakah kita sedang membangun sekadar pusat pemerintahan, atau sedang menanam fondasi peradaban? Pertanyaan ini bukan retorika. Ia menuntut kejujuran. Kota bisa dibangun dengan anggaran, tetapi peradaban hanya dapat dibangun dengan nilai.
Pertanyaan berikutnya pun hadir: nilai apa yang sedang kita wariskan melalui cara kita membangun hari ini? Sebab yang diwariskan bukan hanya gedung dan infrastruktur, melainkan juga cara berpikir, cara memperlakukan alam, cara memaknai kekuasaan, serta cara menjaga keseimbangan antara ambisi dan tanggung jawab.
Ramadan di IKN terasa tenang. Tidak gegap gempita. Justru dalam kesederhanaannya, ia menghadirkan kesadaran yang dalam: setiap awal membutuhkan ruh agar tidak kehilangan arah.
---
Niat: Dasar Transformasi Peradaban Setiap perubahan besar selalu dimulai dari sesuatu yang tak terlihat: niat. Gedung dapat dirancang, sistem dapat disusun, regulasi dapat diterbitkan. Namun tanpa niat yang lurus, semuanya hanya akan menjadi struktur kosong. Niat adalah fondasi yang tak kasatmata, tetapi menentukan arah bangunan di atasnya.
Dalam konteks IKN, niat menjadi sangat penting. Kita tidak sekadar memindahkan pusat administrasi negara. Kita sedang membuka lembar baru tentang bagaimana Indonesia membayangkan dirinya di masa depan. Apakah ia ingin hanya tampak modern, atau juga menjadi lebih adil, lebih bijak, dan lebih berimbang?
Niat yang benar akan melahirkan cara yang benar. Jika niatnya kemaslahatan, kebijakan akan berpihak pada keberlanjutan. Jika niatnya keadilan, pembangunan tidak akan meninggalkan yang lemah. Jika niatnya amanah, kekuasaan tidak akan berubah menjadi kesewenang-wenangan.
Ramadan adalah bulan yang melatih kejujuran niat. Puasa tidak terlihat oleh manusia lain, tetapi sangat terasa di hadapan Tuhan. Di sinilah pelajaran besarnya: transformasi peradaban tidak dimulai dari apa yang tampak di luar, melainkan dari kesadaran batin di dalam.
IKN, dengan segala dinamika dan pertumbuhannya, adalah ruang menuju ke sana. Ia dapat menjadi simbol percepatan pembangunan, tetapi juga simbol pematangan niat kolektif. Jika sejak awal yang ditanam adalah kesadaran untuk membangun dengan nilai, transformasi peradaban bukan sekadar wacana, melainkan proses yang benar-benar sedang dimulai.
---
Spirit Wakaf untuk Ekologi
Kami datang membawa spirit wakaf. Bukan sekadar dalam makna administratif, melainkan sebagai cara pandang. Wakaf adalah komitmen jangka panjang untuk kebermanfaatan: menahan yang pokok, mengalirkan yang baik.
Di IKN yang masih dikelilingi bentang alam yang luas, wakaf menemukan ruang refleksinya. Ekologi bukan sekadar isu teknis pembangunan, melainkan persoalan amanah. Hutan bukan hanya latar, tetapi penyangga kehidupan. Air bukan sekadar sumber daya, melainkan sumber keberlangsungan.
Secara filosofis, wakaf mengajarkan satu prinsip mendasar: menahan diri demi keberlanjutan. Bukankah Ramadan juga latihan menahan diri? Di titik inilah keduanya bertemu. Ramadan membentuk manusia yang terkendali. Wakaf membentuk pembangunan yang berkelanjutan.
Krisis lingkungan kerap lahir dari ketidakmampuan menahan diri: eksploitasi berlebihan, konsumsi tanpa batas, ambisi yang melampaui daya dukung alam. Maka jika IKN sejak awal ditanamkan spirit wakaf untuk ekologi, yang dibangun bukan hanya kota modern, melainkan kota yang sadar.
Ramadan pertama di IKN terasa seperti napas panjang yang bersih. Udara pagi terasa segar, angin bergerak pelan, suasana seolah lebih teduh. Ada kesejukan yang bukan hanya karena alamnya, tetapi juga karena kesadaran yang mulai tumbuh di dalamnya.
Mungkin di situlah maknanya: IKN tidak hanya memulai babak baru secara administratif, tetapi juga menghadirkan udara segar nilai-nilai—nilai pengendalian diri, keberlanjutan, dan niat yang lurus sebagai dasar transformasi peradaban.
*Kasubdit Pengamanan dan Pengawasan Harta Benda Wakaf
Baca Selanjutnya
Lihat semuaSekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Tarik 2.568 Pengunjung, Milfest Kemenag 2026 Catat Perputaran Ekonomi Hingga Rp234 Juta
Bogor, Bimas Islam — Muharam Islamic Literacy Festival (Milfest) Kementerian Agama 2026 mencatat capaian positif selama empat hari penyelenggaraan di Unit…
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Menag: Bukan Umat yang Memberdayakan Masjid, tetapi Masjid yang Memberdayakan Umat
Surabaya, Bimas Islam --- Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa masjid harus menjadi pusat pemberdayaan masyarakat, bukan sekadar tempat ibadah.…



