Bandung, Bimas Islam — Pelatihan Peer Educator Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS) di Kota Bandung, Rabu (29/10/2025), meninggalkan kesan positif bagi siswa-siswi madrasah asal berbagai daerah di Jawa Barat. Kegiatan ini menjadi ajang pembelajaran konkret bagi para remaja untuk memperkuat nilai Qur'ani, mengasah keberanian, dan menumbuhkan kepemimpinan di lingkungan sebaya.
Salah satu peserta, Fatina dari MAS Zakaria, mengaku mendapatkan pengalaman berharga yang melebihi ekspektasinya. Ia menuturkan, pelatihan ini tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga membangun kepercayaan diri.
“Awalnya saya kira cuma bakal dapat teman baru dan pengalaman baru, tapi ternyata lebih dari itu. Di sini benar-benar dilatih dan dikasih pengalaman konkret yang memperjelas pemahaman yang sebelumnya masih abstrak,” ujar Fatina.
Ia menambahkan, pelatihan BRUS telah mengubah cara pandangnya terhadap peran remaja di lingkungan sekolah. “Sebelumnya saya minder banget, tapi ternyata banyak orang keren dan inspiratif di sini. Sekarang saya sadar, kita harus jadi pelopor karena kita adalah peer educator,” tambahnya.
Peserta lain, Muhammad Tufatul Awaluddin dari MAN 1 Kota Bandung, juga menyampaikan hal serupa. Ia mengaku semula datang tanpa ekspektasi tinggi, namun justru terkesan dengan kualitas kegiatan yang diikutinya.
“Sebelum ke sini saya nggak tahu ini acara apa, dikira pelatihan biasa aja. Tapi ternyata wow, acaranya keren banget dan materinya bermakna,” tuturnya.
Tufatul berencana menerapkan hasil pelatihan ke dalam program kerja OSIS dan MPK di sekolahnya. “Ada materi keren Qur'ani dan public speaking. Ini bisa banget kita masukin ke program bidang moral dan takwa di sekolah,” ujarnya.
Kasubdit Bina Keluarga Sakinah, Zudi Rahmanto, menjelaskan, pelatihan ini merupakan bagian dari upaya Kementerian Agama dalam memperkuat ketahanan remaja berbasis nilai-nilai Qur'ani. Ia menilai pendekatan peer educator efektif karena menggunakan bahasa dan metode yang dekat dengan dunia remaja.
“Program BRUS ini menjadi salah satu cara kami menyiapkan remaja madrasah agar mampu menjadi pelopor kebaikan di lingkungan sebaya. Semoga mereka bisa sukses menerapkan apa yang mereka pelajari di sekolah masing-masing,” jelas Zudi.
Pelatihan BRUS dirancang untuk membentuk pelajar madrasah menjadi agen perubahan dengan pendekatan edukatif dan partisipatif. Para peserta tidak hanya diajak memahami isu-isu remaja secara teoritis, tetapi juga diberi kesempatan untuk melatih keterampilan komunikasi, kepemimpinan, dan empati sosial.
Dari antusiasme para peserta, terlihat bahwa kegiatan ini berhasil menumbuhkan rasa percaya diri dan semangat kolaboratif di kalangan pelajar madrasah. Pembelajaran yang mereka terima diharapkan berlanjut menjadi gerakan nyata di sekolah masing-masing.
Fn/Mr



