Oleh M.Fuad Nasar
Aktivis Zakat di Pemerintahan
--
Siapa tidak tahu Masjid Salman ITB di Kota Bandung yang diresmikan penggunaannya tahun 1972. Masjid kampus pertama di Indonesia itu dibangun mulai 1964atas inisiatif para mahasiswa ITB. Nama masjid Salman merupakan pemberian Presiden Soekarnoyang terilhami nama seorang sahabat Rasulullah SAW dari Persia, Salman Al-Farisi, perancang parit ketika Perang Khandaq. Ir. H. Achmad Noe’man dikenang sebagai salah seorang yang menginisiasi dan gigih memperjuangkan dibangunnya masjid di dalam kampus Institut Teknologi Bandung (ITB) dan ia pula arsitek yang merancang Masjid Salman, masjid tanpa kubah dan tiang tengah pertama di tanah air. Masjid Salman ITB yang fenomenal dan tidak umum itu mengubah pola dan tradisi bangunan masjid yang selalu pakai kubah. Garis-garis vertikal pada bangunan Masjid Salman ITB menggambarkan hubungan antara manusia dan Tuhan, sedangkan garis-garis horizontal dimaknai sebagai hubungan antara manusia dengan sesamanya.
Dalam ide Achmad Noe’man,maestro dan inspirator arsitektur pembangunan masjid modern, bangunan masjid tetap anggun dan indah meski tanpa kubah. Kubah itu berat karena harus ditopang tiang penyangga. Kubah masjid menurutnya tidak diharuskandalam agama. Begitu pun tiang di dalam masjid menghalangi shaf (barisan shaf shalat), sedangkan shaf tidak boleh terputus. Oleh karena itu sebagian masjid hasil rancangannya tidak memakai kubah.
Tokoh muslim yang santun dan rendah hati itu berpulang keharibaan Allah SWT hari Senin 4 April 2016 di Bandungdalam usia 91 tahun. Dilahirkan di Garut Jawa Barat 10 Oktober 1924. Ayahnya H. Muhammad Noe’man seorang saudagar dan pelopor organisasi Muhammadiyah di Garut.
Salah satu pendiri Ikatan Arsitek Indonesia itu dikenal sebagai dosen luar biasa Interior Seni Rupa di ITB, di samping sebagai arsitek dan pelopor arsitektur masjid modern. Bangunan sejumlah masjid yang dirancang Achmad Noe’man memberi makna tersendiri bagi perkembangan dunia arsitek pada umumnya dan arsitektur masjid di Nusantara khususnya. Karya Achmad Noe’man bukan hanya dinikmati oleh umat Islam di dalam negeri, tapi mengharumkan nama bangsa Indonesia di luar negeri.Karya arsitekturnya dikagumi di manca negara. Dia menebar karya hingga ke pelosok dunia.
Selain Masjid Salman ITB, masjid pertama hasil rancangannya, karya monumental Achmad Noe’man lainnya ialah Masjid Istiqlal Indonesia di Sarajevo Bosnia (Masjid Muhammad Soeharto), Masjid Agung At-Tin Jakarta, Masjid Amir Hamzah di Taman Ismail Marzuki Jakarta (kini sudah dirobohkan), Masjid Al-Markaz Al-Islami Jenderal M.Yusuf di Makassar, Masjid Islamic Center Jakarta, Masjid Agung Al-Akbar Surabaya, Masjid Lambung Mangkurat Banjarmasin, Masjid Syekh Yusuf di Cape Town, Afrika Selatan, Masjid di Amterdam Belanda, Masjid Asy-Syifa Fakultas Kedokteran UNPAD Bandung, Masjid PT Pupuk Kujang, dan sekian banyak masjid lainnya yang dirancang Achmad Noe’man. Beliau juga perancang renovasi mimbar Masjid Al-Aqsha di Palestina tahun 1993. Ia sendiri tak pernah menghitung berapa banyak masjid besar maupun kecil hasil karyanya sehingga ia dijuluki Arsitek 1.000 Masjid. Sebagai kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ia konon juga terlibat dalam merumuskan logo organisasi HMI.
Bagi Achmad Noe’man, melahirkan karya arsitektur bukan hanya berfikir bagaimana menghasilkan sebuah karya rancangan agar terbangun, tapi lebih jauh memikirkan bagaimana berkarya yang diniatkan untuk Allah tanpa harus mengesampingkan kebutuhan dan keinginan klien. Untuk itu ia selalu berupaya menghadirkan dan memantulkan nilai-nilai islami dan spirit dakwah pada rancangan bangunan yang dibuatnya,khususnya pembangunan masjid. Ia juga hobi melukis kaligrafi dan senang mendengarkan suara mengaji Al Quran. Beliau pernah mendapat penghargaan sebagai penulis Khat Kufi dari Istambul, Turki.
Dalam riwayat hidupnya Achmad Noe’man semasa kuliah ikut berjuang membela kemerdekaan. Lulusan SMA Muhammadiyah Yogyakarta itu menempuh pendidikan di Fakultas Teknik Universitas Indonesia (kemudian menjadi Institut Teknologi Bandung). Sekitar tahun 1948/1949 dia sempat direkrut menjadi perwira TNI di masa perang membela kemerdekan dengan pangkat Letnan Dua. Ia kemudian mengundurkan diri sebagai tentara karena ingin kembali ke kampus menuntut ilmu pada jurusan teknik arsitektur.Achmad Noe’man pernah menjadi Ketua Yayasan Universitas Islam Bandung (Unisba).
Dalam suatu forum Achmad Noe’man mengutarakan jangan terjadi pemborosan dalam membangun masjid. Ia kurang setuju masjid yang terlalu mewah. Menurutnya, akan lebih bermanfaat jika uang untuk itu disalurkan buat keperluan lain yang bermanfaat bagi umat. Sebuah niat mulia yang dikemukakannya bahwa setiap masjid yang pernah dibuatnya semoga bisa mengalirkan manfaat bagi umat.
Achmad Noe’man menjalani profesi arsitek dengan lurus, bersih, konsisten,dan profesional. Beliau sosok panutan. Ia tidak menggunakan keahlian dan nama besarnya untuk memperkaya diri sendiri atau mengejar jabatan. Suatu hal yang mengesankandari almarhum, perusahaan jasa konsultanarsitektur yang dibukanya tidak tertarik ikut-ikut tender pemerintah. Persaingan tidak sehat, apalagi menutup rezeki orang, sangat dihindarinya, “Kami ingin agar pekerjaan kami lebih berkah” ujarnya dalam sebuah wawancara media. Tokoh profesional Muslim yang idealis dan memiliki jiwa dakwah sejak usia muda itu terbilang sosok yang langka. Ia memberi nilai dan kontribusi positif terhadap dakwah dan kerja mengharumkan Islam. Salah satu buku yang disusunnya berjudul The Mosque as A Community Development Centre.
Semasa hidupnya Achmad Noe’man memperoleh penghargaan Satyalencana Kebudayaaan dari Pemerintah. Kini ia telah tiada. Adalah kewajiban pemerintah menganugerahkan tanda jasa yang layak kepada putra terbaik bangsa yang telah memberikan darmabakti dan karya luar biasa yang bermanfaat bagi masyarakat. Achmad Noe’man layak memperoleh Bintang Mahaputra. Idealisme, kejujuran dan semangat kepeloporannya menjadi teladan bagi bangsa dan diharapkan menginspirasi generasi muda di tengah fenomena resesi moral leadership dan harga diri bangsa dewasa ini. Seperti dituturkan putranya Ir. Fauzan Noe’man yang mengikuti jejak ayahandanya sebagai arsitek, beliau berpesan kepada anak-anaknya agar menjadi muslim yang utuh.
Semoga amal shaleh dan goresan karya almarhum Ir. Achmad Noe’man dibalas Allah SWT dengan surga dan keridhaan-Nya.
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



