Kabupaten Tangerang, Bimas Islam — Industri produk halal atau Halal Value Chain (HVC) memberi kontribusi besar terhadap perekonomian nasional. Pada 2025, sektor halal tercatat menyumbang sekitar 26,7 hingga 27 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia atau setara Rp4.900 triliun.
Direktur Jaminan Produk Halal Kementerian Agama, M. Fuad Nasar, mengungkapkan, peningkatan kontribusi industri halal terhadap PDB nasional merupakan hasil kerja bersama seluruh elemen, baik dari sektor hulu maupun hilir.
“Produk-produk halal yang beredar di tanah air dari tahun ke tahun meningkat kontribusinya terhadap produk domestik bruto hingga hampir 27 persen dari keseluruhan PDB Indonesia,” ujar Fuad dalam acara Indonesia Halal Brands and Food Expo (IHBF) 2026 di Nusantara International Convention Exhibition (NICE), PIK 2, Kabupaten Tangerang, Banten, Jumat (29/5/2026).
Meski demikian, menurutnya, capaian tersebut tidak boleh membuat seluruh pihak berpuas diri. Masih banyak ruang industri halal yang perlu diisi. Karena itu, pemerintah akan terus mendorong penguatan industri halal nasional melalui berbagai program strategis lintas sektor.
Fuad menilai pengembangan industri halal juga sejalan dengan program ekoteologi yang digagas Menteri Agama Nasaruddin Umar, yaitu membangun kesadaran masyarakat dalam merawat kehidupan secara berkelanjutan dengan pijakan nilai-nilai agama.
Ia juga menjelaskan, Kementerian Agama memiliki jaringan kuat hingga tingkat akar rumput untuk mendukung edukasi dan literasi halal di masyarakat. Peran tersebut dijalankan melalui penyuluh agama, organisasi kemasyarakatan Islam, penghulu, pengelola masjid, pesantren, hingga majelis taklim.
“Ini merupakan ujung tombak dalam penyadaran masyarakat agar memperhatikan halal sesuai regulasi yang berlaku di negara kita,” tegas Fuad.
Sementara itu, Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal, Haikal Hassan, mengatakan, halal kini bukan lagi sekadar isu agama, melainkan telah berkembang menjadi gaya hidup global yang berkaitan dengan kesehatan, keamanan, dan kualitas hidup manusia.
“Halal bukan hanya untuk muslim. Halal itu for all, halal itu lifestyle, simbol kesehatan, dan keamanan dunia. Jadi halal-haram bukan semata urusan agama. Bahkan kita mencanangkan halal Indonesia untuk masyarakat dunia,” ujarnya.
Ia menambahkan, konsep halal tidak hanya menyangkut zat atau produk yang dikonsumsi, tetapi juga perilaku dan cara hidup manusia secara menyeluruh.
“Dalam lagu Indonesia Raya kita menyanyikan bangunlah jiwanya, bangunlah badannya. Makanan bergizi saja tidak cukup, tetapi juga makanan yang halal untuk membangun jiwa manusia,” ujarnya.
IHBF 2026 berlangsung mulai 29 hingga 31 Mei 2026 di Hall 8 NICE PIK 2, Banten. Pameran tersebut menghadirkan berbagai pelaku industri halal, mulai dari UMKM, pariwisata halal, ekonomi kreatif, hingga perbankan syariah. Dalam kegiatan itu, Kementerian Agama turut membuka stan layanan dan edukasi halal yang menyediakan berbagai informasi serta suvenir menarik bagi pengunjung.
Mwr/Mr
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



