Mataram, bimasislam-- MTQ Nasional XXVI Tahun 2016 telah memasuki hari kedua. Ajang bergengsi 2 tahun sekali ini menampilkan para peserta yang memang berbakat di bidangnya masing-masing.Tidak terkecuali pada cabang musabaqah Fahmil Quran.
"Materi yang disiapkan sangat jauh berbeda dengan materi pada MTQ sebelumnya," ungkap Prof. Amir TjonengMA, Ketua majelis hakim Musabaqah Fahmil Quran membuka wawancara tim reportase bimasislam.(01/08)
“Kita telah sepakati bahwa MTQ tahun ini adalah MTQ perubahan, dalam arti ke arah yang positif. Kalau pada MTQ sebelumnya 80% soal-soal lama kembali ditanyakan kepada para peserta pada MTQ berikutnya, akan tetapi pada MTQ tahun ini hampir 80% materinya baru. Struktur yang ada juga berubah, sehingga soal sulit ditebak, bahkan diprediksi oleh para peserta.” Ungkap Prof. Amir yang sudah 8 tahun menjadi dewan hakim pada MTQ cabang Fahmil Quran.
Bertempat di Aula Utama gedung Bank Indonesia cabang Mataram sekitar 100 m dari arena utama MTQ, tim reportase bimasislam berkesempatan hadir menyaksikan babak penyisihan Musabaqah Fahmil Quran pada group 6. Hari itu adalah babak kedua penyisihan para peserta pasca masuk ke babak semifinal .Musabaqah cabang Fahmil Quran adalah salah satu cabang bergengsi, di mana para kafilah seluruh Indonesia mengutus 3 (tiga) orang putra/putri terbaiknya dari berbagai sekolah Madrasah Aliyah atau yang sederajat untuk mengikuti kompetisi pemahaman tentang isi kandungan Al-Quran. Peserta dituntut untuk lebih fokus kepada pemahaman tentang Al-Quran, termasuk di dalamnya pemahaman tentang ilmu nagham (seni bacaan tilawah Al-Quran).
“Peserta musabaqah Fahmil Quran kali ini lebih dituntut bukan hanya teks book dari buku-buku pelajarandan dari soal-soal yang sudan ditanyakan, akan tetapi lebih menggunakan nalar dan pemahaman akan isi kandungan Al-Quran.Hal tersebutbisa diperoleh dengan mempelajari buku-buku ensiklopedi Islam dan sejarah Islam kontemporer, karena pertanyaan yang diajukan tidak bisa diprediksi lagi, strukturnya sudah berubah, bahkan dewan hakim tidak mengetahui pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan ke peserta, karena soal-soal tersebut disegel dan baru dibuka pada saat peserta memilih pertanyaan dalam amplop besar dan diserahkan pada dewan hakim.” Ungkap Prof.Amir.
“Pasti ada kesulitan yang dihadapi para peserta”, tegas Amir. Menurutnya, sebagian besar mereka mempelajari dari soal-soal yang sudah diajukan, hal ini terbukti pada babak penyisihan kali ini perolehan nilai para peserta lebih rendah dari MTQ tahun lalu yang mencapai 2000 poin.” Tambahnya.
Pada babak penyisihan ini yang keluar sebagai pemenang dan berhak masuk ke babak semifinaladalah delegasi dari Kalimantan Selatan dengan perolehan nilai 1035 point.
(jamal/bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



