Jakarta, bimasislam—“Ini pertama dalam sejarah. Sejak Indonesia merdeka, program Menag Menyapa Penyuluh baru kali ini dilakukan. Sebab, selama ini kami tidak pernah disapa”, tegas wakil penyuluh dari provinsi Kepulauan Riau.
Kesempatan langka ini benar-benar dijadikan ajang curhat dan minta perhatian penyuluh kepada Menag. Melalui teknologi video conference (V-Con), Menag mendengar dan menjawab aspirasi dan harapan para penyuluh.
Secara umum, para penyuluh yang diwakili oleh 6 provinsi, yaitu DKI Jakarta, Gorontalo, Bengkulu, Jatim, Jateng, Kepulauan Riau menyampaikan beberapa unek-unek selama ini. Rata-rata mereka mengharapkan kesejahteraannya lebih diperhatikan sambil menegaskan komitmennya untuk meningkatkan kinerja demi Kementerian Agama yang lebih baik. Mereka juga berharap memperoleh bantuan sarana dan prasarana, seperti kendaraan motor yang memadai dalam pelaksanaan tugas.
Beberapa materi curhat penyuluh diantaranya terkait dengan perlunya program beasiswa pendidikan S2 dan S3 demi meningkatkan kualitas penyuluh, permintaan agar usia pensiunya ditambah menjadi 60 – 65 tahun, peningkatan honorarium bagi penyuluh Non PNS, dan perlunya pemeritah mengalokasikan menjadi petugas haji bagi penyuluh teladan nasional.
Menanggapi berbagai curhatan penyuluh, Menag menegaskan pentingnya peningkatan kapasitas bagi para penyuluh. Menurutnya, penyuluh berada di garda terdepan Kemenag yang harus memiliki kemampuan merespon berbagai isu aktual yang berkembang di masyarakat. Menag menegaskan bahwa beasiswa untuk penyuluh harus lebih diprioritaskan.
“Saya akan usulkan kepada Dirjen Pendis (terkait hal ini),” tegas Menag.
Soal usia pensiun, Menag mengatakan bahwa itu menjadi domain Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan RB). Menag mengatakan kalau penyuluh minta tambah usia pensiun nanti yang lain juga meminta hal yang sama.
Terkait dengan masalah kecilnya honor penyuluh honorer, Menag memandang insentif para penyuluh honorer memang perlu ditambah dan saat ini, Kementerian Agama sedang memproses penambahan insentif penyuluh dan mudah-mudahan segera terealisasi.
Terkait harapan para penyuluh agar bisa menjadi pembimbing haji, hal itu akan dijadikan bahan pertimbangan pada tahun mendatang, karena tahun ini sudaj tidak memungkinkan. Menag mengaku akan membicarakan hal ini dengan Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah.
“Terimakasih kepada penyuluh di seluruh Indonesia atas kerja dan keikhlasannya,” katanya.
Kesempatan menyapa para penyuluh juga dimanfaatkan Menag untuk menyampaikan permohonan maafnya. Saat ini, Kementerian Agama membina tidak kurang dari 4.016 penyuluh PNS dan 75.313 penyuluh Non PNS.
“Saya merasa perlu menyampaikan maaf. Sudah lebih dari satu tahun, baru kali ini para penyuluh disapa Menag secara formal,” jelasnya.
Hadir dalam kesempatan ini, pejabat Eselon I Kementerian Agama, para pejabat Eselon II Ditjen Bimas Islam, Kepala Pusat Informasi dan Humas, serta para Kabid Penerangan Islam dan Zakat-Wakaf Kanwil Provinsi seluruh Indonesia.
(thobib/bimasislam)



