Pontianak, bimasislam— Dalam kesempatan kunjungan kerja ke Pontianak waktuhari lalu, bimasislam berkesempatan anjang sana ke Kanwil Kemenag Kalimantan Barat dan diterima langsung dengan Kepalanya, Yasrul Yadi. Dengan penuh keakraban, Kakanwil meladeni pertanyaan-pertanyaan bimasislam terkait dinamika keislaman masyarakat Kalimantan Barat (4/12) di ruang kerjanya.
Saat ditanya apa PR yang utama ke depan, dengan tegasYasrul mengatakan, “Kerukunan antar umat menjaditugas utama saya”. Sejarah kelam yang pernah terjadi di Sambas adalah pelajaran untuk kita semua, ingatnya. Sebagaimana kita ketahui, pada akhir tahun 1990-an di salah satu Kabupaten yang cukup jauh dari Ibu Kota Provinsi ini, pernah terjadi konflik sosial antara etnis Dayak dan etnis Madura yang telah mengorbankan banyak jiwa dari kedua belah pihak. Peristiwa itu menyisakan luka yang dalam bagi masyarakat Kalbar, bahkan seluruh masyarakat bangsa ini.
Dalam upaya menjaga kerukunan itu, disepakati oleh seluruh etnis dan agama di Kalbar untuk menjadikan Moto dan Falsafah Hidup orang Dayak sebagai prinsip kerukunan dan sekaligus salam lokal. Moto tersebut berbunyi, Adil Ka’ Talino, Bacuramin Ka’ Saruga, Basengat Ka’ Jubata, yang berarti adil ke sesama manusia, bercermin ke Surga, dan bernapas ke Tuhan. Secara bebas dikonsepsikan dalam istilah, “dengan rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa, dengan berpedoman pada Ajaran Agama, dan bersikap adil terhadap sesama manusia.” Moto ini jadi salam lokal dalam setiap pertemuan. Jika ada yang memberi salam dengan moto tersebut, maka yang diberi salam menjawab dengan kata “Arus, Arus, Arus” (Amin).
Menurut mantan Kepala Kankemenag Kapuas Hulu dan Kankemenag Bengkayang ini, upaya untuk menjaga kerukunan harus terus diupayakan agar generasi penerus siap menerima perbedaan. Dalam hal ini, sektor pendidikan yang bersifat formal maupun informal memiliki peran strategis, ujarnya. Guru jelas punya tanggung jawab akan hal ini, namun peran para da’i dan guru ngaji juga tidak kalah pentingnya dalam mengembangkan sikap “siap menerima perbedaan” pada masyarakat, jelasnya di akhir perbincangan.
Dalam kesempatan yang sama, Kasubag Hukum dan KUB Kanwil Kemenag Kalbar Helmy M. Yunus Mohan menguatkan, “Betul, kerukunan menjadi perhatian utama di sini, belajar dari kasus Sambas. Tapi yang harus digarisbawahi, yang terjadi sesungguhnya sampai hari ini adalah kesalahfahaman antar etnis saja, bukan konflik antar agama”. Alhamdulillah, dalam kurun waktu 10 tahun terakhir kehidupan masyarakat Kalbar relatif aman dan terkendali, imbuhnya. (edijun/foto:bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



