Jambi, bimasislam—Dakwah di era globalisasi memiliki tantangan yang lebih berat dan kompleks. Salah satu tantangan itu adalah kehadiran media elektronik baik radio maupun televisi. Kehadiran televisi mampu mendesain iklim masyarakat, menyebarkan informasi sekaligus memberikan suguhan bermanfaat bagi masyarakat.
Hal tersebut di atas disampaikan Kepala Seksi Naskah Rekaman dan Siaran Keagamaan, Subdit Publikasi Dakwah dan HBI, Direktorat Penerangan Agama Islam, Subhan Nur, Lc, dihadapanpeserta Workshop Siaran Dakwah Melalui Media, di Cosmo Hotel, Jambi (11/4).
Dikatakan Subhan, jika kreatifitas program dakwah di televisi sangat bergantung kepada 3 (tiga) unsur. “Ada tiga unsur penting dakwah melalui media, Pertama kualitas pengisi acara (da’i), kedua, kreasi format acara, dan ketiga waktu penanyangan”, ungkapnya.
Ketiga unsur ini, kata Subhan saling melengkapi dalam menunjang kesuksesan sebuah program dakwah di televisi. Unsur pengisi acara (da’i-red) sangat penting yang tidak hanya mengandalkan aspek kualitas keilmuan tetapi juga aspek performance dalam rangka menarik perhatian pemirsa.
Mengingat dampak televisi yang luar biasa bagi masyarakat, lanjut Subhan, maka kegiatan-kegiatan dakwah pada era sekarang perlu diarahkan kepada pemanfaatan media elektronik, khususnya televisi. Selain itu, Subhan juga menyoroti pentingnya kemampuan menyeluruh bagi seorang da’i yang akan menghiasai layar kaca atau radio.
“Kita perlu menggalakkan dakwah melalui media, dengan catatan kemampuan berdakwah terus ditingkatkan, seperti public speaking, dan itu dapat diraih melalui workshop yang lebih banyak praktek daripada berteori”, terang Subhan.
Workshop diikuti oleh 50 peserta yang terdiri dari penyuluh agama Islam se-Provinsi Jambi, ormas Islam dan penggiat media. Untuk hasil maksimal panitia menggandeng media consulting, biz communication.
Workshop diselenggarakan selama tiga hari, 11-13 April 2016. Seluruh peserta tampak antusias. Sessi rekaman merupakan moment yang paling seru. Peserta dibagi empat kelompok, masing-masing diambil gambar dan suara layaknya disebuah studio. Dua kelompok membuat naskah dan mempraktekkannya. Ada sutradara, pengarah, timer, narasumber, host, bahkan masyarakat yang seolah bertanya melalui sambungan telepon. Diakhir, semua hasil dievaluasi sehingga potensi dan kekurangan dapat ditemukan solusinya. Menarik bukan! (syam/foto:bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



