Sukabumi, bimasislam—Kiprah Penyuluh Agama Islam (PAI) dalam melayani masyarakat, tak terbantahkan. Selain memberi bimbingan keagamaan di masjid dan majelis taklim, kini perannya juga merambah bidang lain yang sebelumnya belum tersentuh secara terorganisir. Para penyuluh kini terlibat aktif dalam pembinaan secara luas, salah satunya pada Lembaga Pemasyarakatan atau LAPAS.
Adalah Budi Gunawan, lelaki asli Sukabumi ini menjadi satu diantara penyuluh yang mendapat mandat melakukan pembinaan pada warga Lapas, tepatnya di LAPAS Kelas III Warungkiara. Lapas ini merupakan salah satu (UPT) Unit Pelaksana Teknis pada wilayah Kemenhumham Jabar. Berdiri di atas tanah hibah dari Perkebunan Sugih Mukti Halimun seluas 10 H Tahun 2005, Lapas Warungkiara dibagun dari mulai Tahun 2007-2011 dan diresmikan oleh Menteri Hukum dan HAM pada tanggal 04 Mei 2012. Lapas Kelas III Warungkiara kini dihuni lebih dari 429 orang, dengan rincian 26 orang perempuan dan 403 laki-laki. Mereka merupakan Napi Tindak Pidana Umumsebanyak 316 orang, Narkotika141orangdan tindak pidana korupsi2 orang
Kepada bimasislam, Budi Gunawan berbagi kisahnya yang begitu hebat ia rasakan. Baginya, para Napi adalah saudara, sudah semestinya mereka mendapat pembinaan sekaligu rangkulan. Karena itulah, sejak 2012 ia pun sangat gembira ketika diminta bergabung memberi pembinaan keagamaan.
“Secara psikis, dalam kondisi terkurung dan tidak memiliki kebebasan seperti itu, narapidana cenderung mengalami tekanan kejiwaan, seperti depresi, kecemasan, merasa tidak berguna, minder dan munculnya kekhawatiran yang sangat kuat dirasakan oleh narapidana, yaitu stigma negatif dari masyarakat. Nah, di sinilah peran pembinaan keagamaan, kita arahkan agar kelak mereka bisa kembali dan diterima masyarakat,” tuturnya.
Pelajaran membaca al-Qur’an merupakan materi pokok yang disampaikan. Budi yakin, dengan membaca al-Qur’an, mereka kelak akan memiliki kelembutan hati dan sekaligus kemapanan jiwa untuk berubah dna kembali ke jalan yang baik. Untuk memperkaya, ia pun menambahkan materi tentang fikih, aqidah dan lainnya. kesemuanya dilakukan melalui metode dialogis.
Dalam pelaksanaannya, ia tak melulu sebagai narasumber. Baginya, partisipasi warga Lapas terhadap kelangsungan pembinaan keagamaan adalah sebuah keharusan. Karena itulah, ia selalu melibatkan warga Lapas yang memiliki kemampuan untuk turut serta mengisi pengajian.
“Insya Allah tahun 2016 ini kami akan memulai pengajian berbasis kitab kuning. Mengapa? Kami lihat perkembangannya sangat bagus dalam membaca al-Qur’an, jadi perlu ditingkatkan materi pengajiannya,” ujarnya penuh senyum.
Sosok Budi Gunawan patut kita apresiasi. Sebagai garda terdepan Bimas Islam, ia dan para penyuluh agama pada Lapas di seluruh Indonesia telah menunjukkan dedikasi dan loyalitas terhadap pembinaan keagamaan. (thobib-jaja/foto;bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



