Batam, bimasislam—Ustad Muhammad Anwar, seorang khatib di Masjid Al-Isra Tiban III, Sekupang, Batam yang mengisi khutbah pada tanggal 24 Fabruari 2017 mengaku sangat beruntung bisa mengikuti program sertifikasi khatib yang diadakan oleh Persatuan Muballigh Batam (PMB). Menurutnya, program sertifikasi sangat bermanfaat buat khatib, diantaranya dapat mengetahui kekurangan-kekurangan dan mendapatkan pembinaan secara rutin dari PMB, sehingga dapat meningkatkan kualitas khatib semakin baik.
“Program sertifikasi khatib ini sangat bermanfaat. Saya dapat mengetahui apa kekurangan pada diri saya. Juga kami mendapatkan pembinaan-pembinaan agar apa yang kami sampaikan sesuai dengan visi Kemenag, PMB, dan juga nilai-nilai yang tidak bertentangan dengan semangat NKRI”, katanya.
Saat diatanya apa saja materi yang diujikan saat mengkuti program sertifikasi, Anwar mengatakan bahwa ujian seputar wawasan atau penguasaan dalam ilmu agama serta bagaimana cara (metode) yang disampaikan saat memberikan khutbah atau ceramah di atas mimbar.
“Sebelum mendapatkan sertifikasi, kami diuji tentang wawasan keagamaan sejauhmana penguasaan terhadap ilmu keislaman, juga dilihat bagaimana dara atau metode yang digunakan dalam menyampaikan saat khutbah atau ceramah. Selain itu juga dites kualitas bacaan dan menulis ayat-ayat Alquran setelah dibacakan oleh dewan penguji. Kemudian diminta untuk menjelaskan apa yang ditulisnya”, ujarnya.
Satu hal yang menarik dari program ini adalah tentang intensitas pembinaan. Menurutnya, setiap dua minggu sekali seluruh Khatib di tingkat kecamatan dikumpulkan di satu tempat untuk berkoordinasi, saling mengisi dan bertukar fikiran tentang masalah keummatan. Lalu setiap dua bulans sekali ada kajian dan telaah atas masalah-masalah aktual umat.
“Kami di kecamatan Sekupang ada Khatib bersertifikat sebanyak 80 orang. Setiap dua minggu sekali kami berkumpul untuk berkoordinasi, saling mengisi, dan bertukar fikiran tentang masalah keummatn. Sedangkan setiap dua bulan sekali ada kajian khusus dan problem solving tentang masalah keummatan melalui berbagai pendekatan”, jelasnya.
Menurut khatib asli Jawa Tengah yang sudah mendapatkan sertifikat sejak tahun 2011 ini, bahwa kualitas khatib akan dievaluasi seiring dengan masukan dari masyarakat. Jika banyak masyarakat yang komplain, maka khatib yang bersangkutan akan mendapat teguran dari PMB. Jika masih tidak memperbaiki diri, maka PMB tidak akan memberikan jadwal khutbah atau ceramah.
“Masyarakat dapat memberikan masukan kepada khatib, misalnya terkait dnegan bacaan Alquran yang tidak bagus. Jika ada aduan, maka PMB akan memberikan teguran, dan jika belum ada perbaikan maka jadwal khutbah atau ceramah dikurangi, bahkan tidak diberi jadwal lagi”, tendasnya.
Ketika ditanyakan tentang bisyarah (honorarium) sebagai khatib, lelaki asal Rembang Jateng yang pernah mondok selama 5 tahun ini mengaku mendapatkannya dari masjid, bersifat sukarela. Kadang dikasih, kadang juga tidak. Namun, setiap khatib di Kota Batam mendapatkan tunjangan (insentif) setiap bulan dari Pemerintah Kota Batam sebanyak Rp 400 ribu. Program ini sudah berjalan lama (2011) dan akan terus dikembangkan. Berdasarkan informasi, program sertifikasi khatib yang sudah berjalan selama 6 tahun ini dilaksanakan secara independen dan tanpa pengaruh politik.
“Kami yang tergabung dalam PMB sudah sepakat tidak boleh dipengaruhi oleh politik. Kami terdiri dari berbagai ormas Islam dan bersatu, berkumpul di sini untuk memajukan umat Islam”, tutupnya.
(thobib/bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



