Solo, bimasislam— Kedatangan pengungsi Gafatar dari Kalimantan dalam jumlah besar telah menyita banyak pihak untuk terlibat aktif menangani permasalahan di lapangan. Dalam pantauan bimasislam di Asrama Haji Donohudan Solo (28/1), rombongan pengungsi dengan kapal yang datang terakhir sebanyak 1287 orang. Para pengungsi terdiri dari orang dewasa pria wanita, remaja, dan anak-anak. Bahkan ada sebagian dari perempuan dalam keadaan hamil tua.
Pengamatan langsung bimasislam di lokasi pengungsian sedang dilakukan pendataan oleh pihak Kepolisian, Catatan Sipil dan Kependudukan, Dinas Sosial setempat, dan Kementerian Agama sendiri. Dari pihak Kepolisian telah melakukan pendataan intelijen dengan sidik jari, pelayanan kependudukan oleh Dukcapil, dan bimbingan rohani oleh Kementerian Agama Karang Anyar dan Kota Solo.
Saat ditanyakan bimasislam kepada para penyuluh agama yang mendapatkan tugas pembinbingan, semebtara ini mereka sedang melakukan pendataan dan aspek kebutuhan lapangan. Proses pendataan tersebut memerlukan waktu karena banyaknya jumlah pengungsi dengan keragaman masalah di lapangan.
“Kami selama 3 hari terakhir melakukan pendataan dan wawancara kepada beberapa pengungsi tentang masalah-masalah yang dihadapi. Kami telah mencoba melakukan pendekatan kepada mereka, khususnya anak-anak yang sangat banyak dan membutuhkan pembinaan”, tegas penyuluh ibu Umma saat diwawancarai bimasislam.
Lebih lanjut Umma mengatakan bahwa pihaknya sudah mewawancarai diantara mereka soal motivasi keterlibatan mereka bergabung dengan Gafatar. Rerata mereka menjawab ingin memperbaiki nasib ekonomi menjadi lebih banyak.
“Saat diwawancara, mereka rata-rata mengaku ingin memperbaiki nasib dengan bercocok tanam di Kalimantan. Tanah di Kalimantan katanya murah dan banyak penduduk yang minta kepada mereka untuk menggarap lahan-lahan kosong,” tuturnya.
Ditanya tentang program penanganan yang akan dilakukan penyuluh, Umma bersama dengan beberapa penyuluh lainnya mengatakan akan terlibat aktif menangani mental mereka agar bisa kembali sebagaimana sebelumnya. Meskipun nampak agak sulit karena tingginya fanatisme merek atas ajaran yang dipegangi, namun berbagai metode penyuluhan akan diterapkan, karena mereka meembutuhkan pendampingan.
“Terus terang pak, kami sebenarnya kasihan banget sama merek. Dari sisi kemanusiaan kasihan sekali, mereka orang-orang kampung yang perlu bimbingan. Bayangkan bagaimana anak-anak dan remaja yang tidak atau belum mengerti permasalahan ini menjadi korban orang-orang dewasa. Tapi kami penyuluh memiliki beban moral agar mereka mau kembali kepada ajaran Islam pada umumnya,” tukasnya (tobib-tomo/bimasislam).
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



