Jakarta, Bimas Islam— Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam (Bimas Islam) Kementerian Agama (Kemenag) memperkenalkan makna filosofis di balik logo The Wonder of Harmony 2025 sebagai bagian dari rangkaian perayaan keindahan keberagaman bangsa. Kegiatan ini akan digelar sepanjang November hingga awal Desember, bertepatan dengan peringatan Hari Toleransi Internasional pada 16 November.
Dirjen Bimas Islam, Abu Rokhmad, menjelaskan, logo berbentuk bunga mekar ini menjadi simbol kuat tentang harmoni kehidupan yang tumbuh dari nilai-nilai kebersamaan, perbedaan, dan keseimbangan.
Abu menyebut, setiap elemen dalam logo tersebut dirancang dengan penuh makna. “Logo ini menggambarkan bunga yang mekar dari berbagai kelopak dengan warna berbeda. Filosofinya, kita semua berasal dari latar yang berbeda, namun berpadu indah dalam satu pusat keseimbangan, yaitu Indonesia yang damai,” ujarnya dalam Konferensi Pers di Jakarta, Rabu, (5/11/25).
Menurutnya, logo ini tidak hanya menjadi identitas visual semata, tetapi juga mengandung pesan moral dan sosial yang sangat relevan dengan kondisi bangsa. Di tengah dinamika kehidupan beragama dan berbangsa yang plural, logo The Wonder of Harmony mengajak masyarakat untuk meneguhkan kembali nilai-nilai toleransi, saling menghormati, dan gotong royong.
“Bunga itu tumbuh karena disirami kasih sayang, bukan kebencian. Begitu pula harmoni bangsa ini, ia hanya akan mekar bila kita rawat dengan empati dan penghargaan terhadap perbedaan,” tutur Abu.
Ia menjelaskan, warna-warna dalam logo pun tidak dipilih secara acak. Warna hangat seperti jingga dan merah melambangkan semangat, cinta kasih, dan energi kebersamaan. Sedangkan warna hijau dan biru menggambarkan kesejukan hati, ketenangan, serta keterbukaan dalam menerima perbedaan. “Warna-warna ini adalah bahasa visual dari nilai-nilai kemanusiaan yang hidup dalam setiap agama,” terangnya.
Abu menambahkan, makna logo ini juga sejalan dengan visi besar Kemenag dalam membangun living harmony,yaitu harmoni yang hidup dan bekerja dalam kehidupan sosial masyarakat. “The Wonder of Harmony bukan hanya tema acara, tetapi ajakan moral agar kita menumbuhkan harmoni sebagai gaya hidup,” katanya.
Lebih lanjut, ia menyebut bahwa filosofi logo ini mencerminkan gagasan unity in diversityyang menjadi fondasi berdirinya bangsa Indonesia. Setiap kelopak yang berbeda, menurutnya, adalah simbol dari keragaman suku, agama, ras, dan budaya yang berpadu indah tanpa kehilangan jati diri masing-masing. “Kita tidak perlu menjadi sama untuk bersatu. Justru perbedaan itu yang menjadikan Indonesia indah,” ujar Dirjen Bimas Islam tersebut.
Ia juga menggarisbawahi pentingnya literasi visual dan simbolik dalam memperkuat pesan moderasi beragama. Menurutnya, komunikasi visual yang sarat nilai seperti logo ini dapat menjadi sarana edukatif untuk memperkenalkan konsep toleransi kepada publik secara lebih ringan namun bermakna.
“Logo ini adalah bentuk dakwah kebangsaan yang meneduhkan, karena pesan-pesannya disampaikan dengan cara yang indah dan mudah diterima semua kalangan,” jelasnya.
Pihaknya berharap, filosofi di balik logo The Wonder of Harmony dapat menjadi inspirasi bagi seluruh masyarakat untuk menanamkan nilai-nilai kasih sayang dalam kehidupan sehari-hari. “Kalau bunga bisa tumbuh karena sinar dan air, maka kehidupan berbangsa bisa tumbuh karena kasih dan pengertian,” ujarnya.
Menurutnya, kerukunan bukanlah hasil dari keseragaman, melainkan buah dari kesadaran akan nilai kemanusiaan yang universal. “Kerukunan sejati lahir dari kemampuan kita melihat manusia lain sebagai saudara, bukan sebagai lawan. Inilah pesan spiritual yang ingin disampaikan melalui logo tersebut,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Abu menyebut bahwa The Wonder of Harmony 2025 bukan sekadar ajang perayaan, tetapi refleksi nasional untuk merawat Indonesia yang damai, inklusif, dan beradab. “Kita ingin masyarakat memahami bahwa harmoni adalah keindahan yang tumbuh dari nilai-nilai kebersamaan. Itulah pesan mendalam yang ingin kami sampaikan kepada publik,” tutupnya.
Hadir dalam konferensi pers tersebut, Dirjen Bimas Islam Abu Rokhmad, Direktur Bina KUA dan Keluarga Sakinah Ahmad Zayadi dan Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Arsad Hidayat, serta Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik Thobib Al-Asyhar.
An/Mr



