Oleh:
Jaja Zarkasyi*
Ini Ramadhan ke 28 saya jika dihitung dari usia baligh 10 tahun. Kadang saya bertanya, seberapa besar Ramadhan memberi dampak pada perubahan hidup? Jika dihitung sebagai jenjang pendidikan, maka 28 kali Ramadan adalah jenjang waktu yang sewajarnya telah berhasil merubah kualitas kehidupan.
Lalu pertanyaannya, sudahkah hidup saya semakin baik dari Ramadan ke Ramadan lainnya?
Adalah sangat wajar kita mempertanyakan kualitas puasa. Sebagai amaliah yang berlipat pahalanya, ibadah puasa seyogyanya memberi dampak besar terhadap perkembangan emosi dan spiritual setiap muslim. Idealnya, mereka yang berpuasa Ramadan dapat merasakan perubahan dalam hidupnya menjadi lebih tenang, lebih nyaman dan lebih optimis, setidaknya itulah indikator keberhasilan puasa Ramadan. Kadang saya sendiri malu, bagaimana bisa setiap waktu berdoa untuk diberikan hidayah, lalu apakah hidayah yang Allah tunjukan sudah diamalkan?
Seberapa banyak hidayah yang Allah turunkan sementara kita abai untuk mengamalkannya? Ah, rasanya kita lebih banyak berdoa daripada mengamalkan doa itu sendiri.
Di saat bersamaan, sifat manusia yang selalu merasa kurang kadang menghalangi hati untuk mensyukuri apa yang telah diperoleh. Ada saja alasan untuk menyebut diri ini kurang dan miskin. Untuk alasan inilah banyak di antara kita yang akhirnya mengemis atau melakukan hal-hal tak terpuji untuk dapat menutupi “rasa kurang” itu. Meski akhirnya tak pernah bisa memupus rasa kurang tersebut, karena satu keinginan terpenuhi akan muncul ribuan keinginan.
Mungkin inilah yang menjadikan jiwa kita terasing di tengah melimpahnya Rahmat dan Karunia Allah. Ada banyak kebaikan yang Allah turunkan, namun kita tak mampu menangkapnya; kita membisu dilanda stress tak berujung bingung hendak melakukan apa untuk kebaikan dunia. Hati kita tertutup untuk memilih kebaikan apa yang dapat diperbuat, semuanya tertutup oleh hijab yang menghalangi kita menerima hidayah-Nya.
Kejadian seperti ini sangat sering menimpa kita, khususnya ketika Allah menurunkan cobaan berupa sakit, kekurangan sandang-pangan, menipisnya tabungan dan diberhentikan dari pekerjaan. Seperti anak kecil yang kebingungan hendak ke mana dan melakukan apa, kita berubah menjadi sosok yang asing, sosok yang tak mencerminkan siapa diri kita sesungguhnya. Rasa khawatir begitu cepat merusak imun tubuh, merusak optimisme, menjauhkan kita dari solusi.
Ada banyak kelalaian yang kita perbuat. Kita lupa untuk menjaga konsistensi ibadah, bahkan sebagian meninggalkannya. Kita abai untuk menjaga anugerah sehat, kita lupa merawatnya. Kita cuek dengan anugerah bahagia, kita gadaikan dengan ragam aktivitas yang tak kenal waktu. Pada akhirnya kita terdampar di dasar penyesalan yang sangat dalam. Dan saat kembali akan selalu dirindukan agar dapat bisa merasakan nikmatnya hidup.
Allah Maha Kaya. Dia takkan membiarkan hambanya terus terpuruk dan terdampar dalam kehinaan dan penyesalan. Dialah Dzat yang akan selalu memberi jalan keluar bagi setiap jiwa yang merindukan hidayah. Dan anugerah itu bernama Ramadhan. Ya, Ramadhan adalah anugerah terindah yang diturunkan bagi segenap hamba yang mengimaninya.
Di Ramadan ini jiwa-jiwa yang rindu akan ketenangan akan mendapatkan momentum terbaiknya. Ada banyak waktu yang menyajikan keindahan berdoa, khusyuknya berzikir, atau ringan tangan untuk bersedekah. Allah menjanjikan pahala berlipat untuk setiap kebaikan Ramadan, dan setiap muslim pun berlomba mengisi bulan Ramadan dengan berbagai amaliah.
Inilah mengapa setiap muslim akan sangat bahagia dengan tibanya Ramadan. Baiklah Ramadhan, izinkan kami mengisi kemuliaanmu, berharap dapat meraih keberkahanmu dan menjadikan kami bagian di antara hamba-Nya yang beryukur.
Saya teringat dengan nasihat seorang sahabat, ia yang tak pernah marah meski sandalnya dipinjam tanpa izin. Dahulu kami menghabiskan lebih dari 3 (tiga) tahun nyantri di Pesantren Geongan, Cirebon, Jawa Barat. Ia adalah satu-satunya santri yang istiqomah mengamalkan tasawuf, bahkan hingga kini meski ia bekerja sebagai abdi negara.
Di suatu sore Kota Cirebon yang tampak mendung, kami duduk di atas bantalan rel kereta tebu, kami biasa menyebutnya gotrok. Mendekap kitab kifayah al-Akhyar, ia mengajak saya berbincang ringan tentang apa yang akan terjadi 10 tahun dari sekarang (saat itu tahun 1996).
“Saya mungkin sudah di bangku kuliah kang,” saya menjawab dengan singkat.
“Lalu bagaimana dengan imanmu. Apakah akan sama antara hari ini dengan 10 tahun ke depan?”
Saya tak berani menjawab, seperti hari-hari sebelumnya sangat susah menjawab pertanyaannya. Kadang apa yang ia ucapkan, tak secepat itu pula saya bisa mencernanya. Baiklah sahabat. Ia pun melanjutkan perbincangan tak seimbang sore itu.
Izinkan saya bercerita tentang hari esok yang tak pernah kita tahu apa yang terjadi. Seandainya iman itu tumbuh dengan baik, niscaya ia akan semakin membuatmu bahagia, mengikis segala kekhawatiran hidup dan menjagamu dari putus asa. Jika kualitas bahagiamu hari ini tak beranjak baik di 10 tahun ke depan, itu tandanya imanmu tak beranjak membaik.
Seperti puasa yang engkau tunaikan setiap tahun, sudah berapa kuat Ramadan mendidikmu menjadi manusia bersyukur? Seberapa banyak proteksi diri yang engkau dapatkan dari Ramadhan?
Ataukah sebaliknya, Ramadan hanya rutinitas tahunan yang datang dan berlalu tanpa sempat kau menikmatinya?
Sahabatku. Ramadan bukan sekedar “mengistirahatkan” lambung dari makanan dan minuman, namun juga mengistirahatkan ragam keinginan dan kehendak yang melampaui batas. Ada banyak kebaikan yang terhalang oleh keserakahan, hingga engkau tak kuas mengendalikan diri.
Sudah sewajarnya manusia memiliki keinginan dan cita-cita, namun menjadi tidak sehat ketika keinginan tersebut melebihi kebutuhan yang sesungguhnya. Seperti makan dan minum yang berlebihan, keinginan dan kehendak yang melampaui batas dapat menyerang kesehatan mental dan bahkan spiritualnya.
Kadang, bahagia itu sangat sederhana; tak perlu mahal apalagi lengkap. Namun, keinginan yang menggunung sering mengubah makna bahagia yang awalnya sederhana menjadi rumit, kompleks dan banyak syarat.
Dahulu, di desa nan jauh dari peradaban, bahagia itu ketika berenang di sungai atau mencari ikan di selokan persawahan yang tengah menghijau bersama teman-teman. Para petani begitu bahagia meski makan dengan sepotong ikan asin. Ibu-ibu begitu bergembira saat sore menjelang, sambil menanak nasi mendengarkan dongeng Sunda di Radio lokal. Anak-anak gadis bergembira ria bermain di halaman rumah tanpa alas. Begitulah, desa adalah gambaran sederhana akan makna bahagia. Begitulah, did esa makna bahagia dijabarkan secara sederhana, tak perlu mahal.
Keinginan yang kadang disertai keserakahan, telah mendorong manusia untuk sebanyak-banyak meraih keinginannya dan mengabaikan sebatas kebutuhannya. Ia bekerja dan melakukan apapun untuk memenuhi keinginannya, namun ia mengabaikan arti bahagia untuk dirinya. Ia lupa olahraga, lalai memberi istirahat cukup untuk badannya, enggan mengistirahatkan pikirannya dari kesibukan duniawi. Di titik itulah sesungguhnya ia telah menggadai bahagianya dengan fatamorgana dunia yang tak pernah benar-benar ia butuhkan keseluruhannya.
Dialog itu masih saya ingat hingga hari ini, lebih dari 25 tahun berlalu. Dan untuk Ramadan tahun ini, di saat wabah Covid 19 memaksa manusia menghentikan aktivitiasnya, rasanya nasihat itu sangat nyaring terdengar, memaksa saya untuk kembali memeriksa akan hakikat Ramadhan yang bisa jadi datang dan berlalu tanpa sempat menikmatinya, hanya sebuah rutinitas menunaikan kewajiban. Wallahu'alam.
*ASN Ditjen Bimas Islam/Penulis Buku Magnet Cinta Tanah Haram



