Denpasar, bimasislam— Bangunannya besar, nampak kokoh,dan berarsitektur Bali, yang bila dilihat dari jauh tidak akan menyangka ia sebuah Musholla. Musholla Al-Qomar, begitu nama yang terpampang jelas di tembok depan masjid. Dari penampilannya tidak umum dikategorikan sebagai Musholla, lebih layak disebut Masjid, begitulah kesan Bimas Islam saat mengunjunginya dalam kunjungan dinas liputan ke Pulau Dewata hari Rabu (1/3) kemarin.
Saat ditanya kenapa tidak disebut Masjid, Ilham yang mengenalkan diri sebagai bagian humas Musholla ini menjelaskan bahwa sebenarnya Pengurus sudah lama mengajukan izin menjadi Masjid, namun belum turun juga izinnya sampai hari ini. “Ya sudah mas, kami namakan saja tetap Musholla. Karena bagi kami fungsinya, bukan namanya. Jangan sampai karena soal nama, Musholla ini justru tidak berjalan dengan baik”, imbuhnya kepada Bimas Islam dalam suasana santai pagi hari seusai Subuh di kedai depan Musholla.
Gedung Musholla Al-Qomar memiliki dua lantai. Di bawah untuk kegiatan sosial, termasuk pengajian anak-anak dan remaja, sedangkan lantai utama di atas untuk shalat berjamaah. Di sebelah depan kiri bawah ada Tempat Wudhu dan Toilet, sedangkan di atasnya disediakan ruangan untuk Marbot. Di sebelah depan kanan terdapat Kantor Sekretariat Masjid dan di luarnya kedai kecil, sedangkan di belakang gedung ada Sekretariat TK.
Musholla ini dulunya kecil berada di lorong jalan memanjang ke belakang, tepat di samping gedung yang megah sekarang. Dibangun pertama kali pada tahun 1980 atas kesadaran masyarakat muslim di sekitar Jalan Pura Demak, Kota Denpasar, untuk memiliki tempat ibadah sendiri. Komunitas mereka dengan motivasi bersama sebagai sesama muslim di tengah masyarakat Hindu Bali ini kemudian diresmikan dengan istilah “Rukun Warga Muslim”. Paguyuban inilah yang menjadi payung bersama kegiatan keagamaan mereka sampai sekarang. Di dalamnya berkumpul warga muslim pribumi juga pendatang dari Jawa, Sunda, Bugis, Padang juga Madura.
Rukun Warga Muslim kemudian memindahkan dan membangun Musholla yang lebih besar saat ada warga Muslim pada tahun 1997 yang berkenan menjual tanahnya seluas 400 meter di sebelah Musholla yang lama. Sejak saat itu dimulai pembangunan. Berjalan selama 10 tahun, dengan swadaya masyarakat muslim sekitar dan donasi terbuka melalui rekening, akhirnya selesai pada tahun 2007 dan diresmikan oleh Ketua MUI Provinsi Bali saat itu, Rahmatullah Amin.
Musholla perekat warga muslim ini, begitu Ilham menyebutnya dengan bangga, memiliki kegiatan yang cukup dinamis. Setiap malam Selasa dan malam Kamis ada pengajian ba’da ‘Isya. Setiap hari Ahad seusai Shalat Subuh diadakan pengajian khusus yang diisi beberapa tokoh agama Denpasar. Setiap Malam Jumat ada Pengajian Bapak-bapak, yang dilaksanakan di Musholla juga bergiliran dari rumah. Begitu juga Jumat sore untuk Ibu-ibu, hanya yang terakhir ini diset sekalian Arisan. Anak-anak diberikan pengajaran Alquran setiap hari jam 3 sore, sedangkan remajanya setiap hari jam 5.30 sore sampai selesai Shalat ‘Isya, kecuali hari Ahad. Jumlah anak-anak dan remaja total sejumlah 120 orang.
Jamaah shalat Fardhu sendiri rata-rata mencapai empat Shaf, begitu pula Shalat Subuh, demikian Ilham menceritakan. Kalau Shalat Jum’at bisa penuh dan berjubel dihadiri jamaah yang rutin juga dari luar. Ba’da Shalat jum’at malah disediakan Soto Ayam gratis yang disponsori oleh pemilik Hotel Alkyfa yang letaknya persis di depan Musholla Al-Qomar ini. Bahkan, saat Bimas Islam berkunjung nampak ibu-ibu yang sedang membersihkan Toilet Wanita, yang menurut info dari lelaki asal Tasik yang sudah 17 tahun di Bali tersebut, dilakukan secara rutin dan atas kesadaran sendiri. Sebuah dinamika keislaman yang menarik bagi sebuah Musholla di daerah minoritas Islam seperti Bali.
(edijun/bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



