Oleh:
Drs. H. Subiono Faqih, Mpd
Sebagaimana firman Allah SWT di dalam beberapa ayat di Al-Qur’an bahwa tujuan utama di turunkannya ayat-ayat Al-Qur’an yang utama adalah untuk petunjuk dalam kehidupan manusia, untuk itu bagi umat Islam Al-Qur’an hendaknya bukan sekedar kita jadikan pajangan dalam bingkai yang indah lantas kita taruh di diinding ruang tamu rumah kita meskipun itu juga memperoleh pahala, bukan pula hanya sekedar dibaca ataupun kita lantunkan dengan suara merdu kita, meskipun itu juga bernilai pahala, akan tetapi yang lebih utama dari itu semua adalah bagaimana Al-Qur’an juga sebagai pedoman dalam hidup kita dan untuk mengatur seluruh aspek kehidupan kita. Hal tersebut sebagaimana firman Allah di beberapa ayat didalam Al-Qur’an antara lain di dalam Surat Al-Baqarah ayat: 185 yang artinya , “Bulan Ramdhan adalah bulan di turunkannya Al-Qur’an untuk petunjuk bagi kehidupan manusia dan penjelasan-penjelasan dari petunjuk itu dan pembeda antara yang hak dan yang batil….”. Dan Alif Lam Mim, Kitab Al-Qur’an ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa (Q.S. Al-Baqarah: 1-2).
Petunjuk di dalam kitab suci Al-Qur’an tersebut tidak hanya menyangkut aspek ubudiyah (ibadah), mu’amalah (perdagangan), syari’ah (hukum), akhlak (perilaku), tetapi juga aspek-aspek kehidupan kita yang lain, termasuk memberikan petunjuk bagaimana idealnya orang tua memberikan nilai-nilai pendidikan kepada anak-anaknya agar tidak tersesat jalan keluar dari nilai-nilai agama Allah.
Pendidikan dengan mengacu pada nilai-nilai Al-Qur’an tersebut pada saat ini sangat penting untuk kita terapkan dalam rangka mendidiik anak-anak kita menjadi anak-anak yang sholeh dan sholihah yang tentunya nanti akan menjadi kebahagiaan kita tidak hanya di dunia tetapi juga menjadi harapan dan tabungan amal kebaikan kita di alam akhirat kelak tatkala orangtua sudah meninggalkan alam fana ini dan menuju di alam baqa.
Pada saat ini zaman telah berubah, tantangan orang tua dalam mendidik anak juga mengalami probematika yang lebih berat dan beragam, pola hidup masyarakat dan anak-anak kita yang serba permisif, pola hidup yang hedonis, pergaulan antar anak dan remaja juga tidak lagi di batasi oleh sekat tempat, jarak dan waktu karena mereka setiap saat dan waktu bisa bergaul dengan siapa sajabaik secara langsung maupun tidak langsung misalkan melalui media sosial yang semakin canggih dan beragam.
Pola pergaulan anak-anaki kita yang semakin susah dikontrol oleh orang tuanya inilah kalau orangtua tidak berhati-hati dan membekali anak-anak kita dengan metode pendidikan yang tepat, maka tidak jarang kita temuai kejadian-kajian yang sungguh miris yang terjadi di masyarakat, terutama dikalangan remaja. Pergaulan sehari-hari yang semakin bebasyang berakibat pada semakin tingginya angka kehamilan pra nikah bahkan yang sungguh mengiris hati sudah marak terjadi pada anak-anak usia Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama, remaja yang mabuk-mabukan, terlibat obat-obatan terlarang seperti sabu-sabu, ekstasi, narkoba, anak yang berani melawan orang tua bahkan tega membunuhnya padahal hanya terkait dengan masalah-masalah yang sepele dan sejenisnya.
Menyikapi kejadian yang semacam ini kadang kala orang tua banyak yang hanya mengecam, mengutuk bahkan ada yang sumpah serapah, tanpa mau merenung sebenarnya apa yang terjadi sehingga kejadian ini bisa terjadi. Apakah kejadian yang semcam ini semata-mata hanya ksalahan mereka ataukah orang tua juga ikut andil karena selaku orang tua tidak memberikan pendidikan yang tepat menurut konsep Al-Qur’an, karena kalau kita melihat realitas orang tua pada saat ini mereka lebih mementingkan pendidikan umum di bandingkan dengan basik pendidikan agama, begitu lahir mata mereka sudah meloihat tontonan di TV, di internet, cara main HP, Gadget, Laptop main game dan sejenisnya, meskipun hal ini juga tidak di haramkan oleh agama Islam.Akan tetapi jika hal yang demikian ini tidak disikapi dengan bijak oleh orangtua, membiarkan anak-anak kita tidak mempunyai basic agama yang benar, maka kemajuan yang semacam ini akan dapat merusak moralitas mereka.
Pendidikan anak dalam konsep Al-Qur’an menurut Lukmanul Hakim
Para ahli tafsir berbeda pendapat tentang siapa sebenarnya sang bijak Lukmanul Hakim yang namanya di abadikan oleh Allah di dalam Al-Qur’an dan menjadi nama salah satu surat di di dalam Al-Qur’an tepatnya surat Luqman. Ibnu Abbas menyatakan bahwa Lukmanul Hakim adalah seorang tukang kayu yang berasal dari daerah Babsy, Ada pula yang mengatakan bahwa ia adalah orang yang mempunyai ciri fisik dengan tubuh pendek dan berhidung mancung yang berasal dari daerah Nubah, dan ada pula yang mengatakan bahwa Lukmanul Hakim yang mempunyai nama lengkap Lukman bin Unaqa’ bin Sadun dengan bentuk kulit yang hitam legam bersal dari daerah Sudan (Afrika).
Namun demikian hampir semua ulama bersepakat bahwa Lukmanul Hakim bukanlah seorang Nabi ataupun Rasul, namun bagi kita apakah Lukmanul Hakim itu nabi ataupun bukan itu tidak terlalalu penting, yang terpenting adalah bahwa Allah SWT saja memberikan pengharagaan yang istimewa, tentunya ada pula hal-hal yang istimewa pula untuk kita umat Islam, sehingga patut kita meneladinya dalam mendidik anak-anak kita, terutama dalam memberikan fondasi pendidikan untuk anak kita.
Lantas bagaimana kah idealnya kita mendidik anak-anak kita dengan meneladani Lukmanul Hakim agar anak-anak kita dapat menjadi anak yang beriman, bertaqwa, sholeh dan sholihah, sehingga tidak mudah terombang ambingkan oleh perubahan zaman. Lukmanul hakim memberikan tahapan dalam mendidik anak kita dengan tahapan sebagai berikut:
1. Kokohkan akidahnya
Akidah bagi seorang muslim adalah laksana fondasi bangun yang akan sanggup menopang bagian-bagian lain dari sebuah bangunan. Tidak banyak berarti bangunan itu meskipun dindingnya bercat warna warni, atapnya dengan genting yang mahal, lantainya keramik yang mewah, kalau fondasinya tidak kuat maka semua akan rapuh, mudah roboh, mudah ambruk tat kala diterjang bencana.
Disinilah perumpamaan pentingnya akidah (keyakinan) dalam kehidupan seseorang. Dan hal ini yang pertama kali dilakukan oleh Lukmanul Hakim pada anak-anaknya sebagaimana firman Allah SWT yang pertama dikokohkan adalah akidahnya sebagaimana perkataan Lukman kepada anak-anaknya: “Dan Ingatlah ketika Luqman berkata pada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya, Wahai anak-anaku janganlah sekali kali engkau mensekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan allah adalah benar-benar kedzaliman yang besar” (Q.S. Lukman: 13).
Oleh karena itulah pengenalan taukhid adalah hal yang pertama dilakukan oleh orang tua, begitu lahir Rasulullah SAW memerinrahkan sebelum mengenal dan mendengar kata lain yang pertama adalah mengadzani ditelnga kanannya dan mengiqomati di telinga kirinya. Lantas dengan berjalannya waktu tanamkanlah untuk mengenal rukun-rukun Iman dan perkenanlaah nama-nama baik Allah yang terdapat dalam Asmaul Husna serta pengamalannya dalam kehidupan sehari-hari.
2. Ditanamkan rasa hormat kepada orang tua (birrul walidaini)
Sesudah bertaukhid yang benar, maka selanjutnya adalah ditanamkan hormat dan bakti kepada orang tua. Akhir-akhir ini banyak kejadian-kejadian yang miris, seorang anak tega membunuh bapak atau ibunya kadang kala hanya di picu oleh hal hal yang sangat sepele, tidak mau menuruti kemaunnya.Agar hal tersebut tidak terjadi pada kita contohkanlah lukmanul hakim dalam keluarga kita. Seperti perkataan Lukmanul Hakim:“dan kami perintahkan kepada manusia (untuk berbuat baik) kepada kedua orang tuanya, ibunya telah mengandung dalam keadaan lemah yang bertambah lemah dan menyapihnya dalam dua tahun….,” (Q.S. Lukman: 14).
Untuk itu tanamkanlah kepada anak anak kita untuk tahu bakti kepada orang tua bahwa keberadaannya adalah karena jerih dan peluh ibunya, orang tua bekerja siang malam adalah untuk anak-anaknya, tanamkanlah dengan secara pelan-pelan dengan bahasa perbuatan selain bahasa kata, seperti membiasakan cium tangan bapak dan ibu setiap akan pergi ataupun membiasakan pamit dan hal-hal yang nampak kita anggap kecil lainnya padahal itu semuanya akan terpatri dalam hatinya.
3. Pendidikan Akhlak
Betapa banyak orang tua yang kurang bahkan tidak memperhatikan akan urgennya pendidikan moral ini, sehingga banyak anak-anak yang cerdas tetapi secara akhlak sangat rendah. Untuk itu perlulah ditanamkan kepada anak-anak kita bahwa dalam kehidupan kita ada yang senantiasa mengawasi kita yakni Allah SWT dan pentingnya seseorang untuk banyak menabur benih kebajikan karena kebajikan yang barang kali sangat kecil akan dilihat dan di balas Allah apalagi kebaikan yang banyak dan besar. Lukmanul Hakim berrkata kepada anak-anaknya: “Wahai anaku bila ada kebaikan yang kamu kerjakan, kecil dan tidak nampak oleh pandangahn mata dzahir, yang kecil itu tersembunyi dipuncak langit dan di dasar bumi yang paling dalam atau ditengah tengah batu hitam sekalipun, Allah pasti akan mengetahuinya dan pasti Allah akan membalasnya dengan yang seadil-adilnya,”(Q.S. Lukman: 17).
Disamping itu juga pentingnya sikap andab asor, tawadhu’ dalam kehidupan anak-anak kita, “Wahai anaku janganlah memalingkan wajahmu tatkala berbicara karena sombong, jangan angkuh dan melunakan suara pada waktu berbicara,”(Q.S. Lukman: 19-20).
4. Tatanandalam kehidupan anak
Selanjutnya di dalam surat Lukman ayat 17 Allah SWT berfirman, “wahai anaku dirikanlah sholat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang di wajibkan Allah,”(Q.S. Lukman 17).
Metode pendidikan dengan basic seperti apa yang telah dicontohkan oleh Lukmanul Hakim di dalam Al-Qur’an pada saat ini sudah banyak yang mulai dilupakan orang sementara tantangan jaman yang di hadapii bandingkan dengan jaman dahulu lebih berat dan beragam. Oleh karena itulah seharusnyalah bagi kita orang tua dapat memberikan tahapan pendidikan seperti di atas dengan mengokohkan akidahnya, kecintaan pada keluarga terutama orang tua, pendidikan akhlakul karimah dan menata kehidupannya sesuai dengan fondasi agama.
InsyaAllah jika kita sebagai orang tua sudah menamakan metode semacam ini, anak kita akan menjadi anak yang tangguh, cerdas, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi sekaligus akan menjadi anak yang religius dan berakhlakul karimah, sehingga tidak mudah di ombang ambingkan oleh perubahan zaman yang kadang kala tidak sesuai dengan tuntunan Allah karena dalam dirinya punya prinsip agama yang kuat. Punya daya saring yang baik ibarat ikan di laut meskipiun setiap saat dan waktu hidup di air yang asin, namun tidak membuat dirinya berubah jadi asin, itulah idealnya putra dan putri anak anak orang muslim. Semoga. Allah SWT memberikan taufiq dan hidayahnya kepada kita. Amin.
*Penulis Penghulu Madya KUA Kec. Arut Selatan



