Bogor, Bimas Islam — Interfaith Harmony Camp bertema “Kolaborasi Lintas Agama untuk Ekoteologi, Harmoni, dan Kemanusiaan” yang digelar Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama, dibuka di Camp Hulu Cai, Ciawi, Bogor, Jumat (21/11/2025). Kegiatan yang diikuti lebih dari 400 peserta lintas agama ini menjadi ruang perjumpaan, dialog, dan kolaborasi generasi muda dari enam unsur agama di Indonesia. Selama dua hari, peserta akan mendapatkan penguatan wawasan kebangsaan, pemahaman ekoteologi, serta praktik harmoni dalam kehidupan sosial.
Plt. Direktur Penerangan Agama Islam, Ahmad Zayadi, menyampaikan bahwa keberagaman merupakan kekuatan historis sekaligus jati diri Indonesia. Para pendiri bangsa, ujarnya, sejak awal memahami bahwa negara dengan ratusan suku, bahasa, budaya, dan agama membutuhkan fondasi kebangsaan yang menjunjung tinggi nilai ketuhanan sekaligus menghormati keragaman. “Indonesia bukan negara agama, tetapi bangsa yang sangat religius. Nilai Ketuhanan Yang Maha Esa adalah inti Pancasila yang menuntun kehidupan berbangsa,” ungkapnya.
Menurut Zayadi, pemaknaan nilai ketuhanan dalam Pancasila tidak hanya menjadi dasar ideologis, tetapi juga menjadi etika sosial yang menuntun masyarakat untuk beradab, saling menghargai, dan menerima perbedaan sebagai bagian dari kekayaan bangsa. “Ini amanah para pendiri bangsa. Siapa pun yang hidup di Indonesia berkewajiban menjaga nilai-nilai itu,” ujarnya.
Dalam perspektif itu, Interfaith Harmony Camp menjadi sarana memperkuat infrastruktur sosial keagamaan, yaitu ruang bersama yang menumbuhkan rasa aman, kenyamanan, dan saling percaya antarwarga. “Pembangunan tidak dapat berjalan tanpa harmoni. Kerukunan adalah prasyarat bagi kemajuan. Karena itu kegiatan seperti ini penting untuk memperkokoh dasar sosial kita,” katanya.
Ia menjelaskan, program ini sejalan dengan tiga agenda strategis Kementerian Agama: ekoteologi, pedagogi berbasis cinta, dan penguatan kerukunan lintas agama. Ketiganya merupakan kelanjutan dari arah kebijakan moderasi beragama yang terus diperkuat dalam beberapa tahun terakhir. “Moderasi beragama menghasilkan kerukunan, dan kerukunan membuka jalan menuju masyarakat yang damai, inklusif, dan produktif,” jelasnya.
Zayadi juga mengingatkan bahwa tantangan kebangsaan yang luas dan beragam membutuhkan ruang perjumpaan antarelemen masyarakat. Ia mencontohkan rentang geografis Indonesia yang panjang dari Aceh hingga Papua, tetapi tetap dipersatukan oleh ikatan kebangsaan yang kokoh. “Generasi muda memerlukan cara-cara baru untuk saling memahami. Camp ini menjadi salah satu wadah strategisnya,” ujarnya.
Menutup paparannya, Zayadi berharap kegiatan ini tidak berhenti pada dua hari pelaksanaan, tetapi berlanjut dalam bentuk kolaborasi lintas komunitas dan gerakan nyata merawat lingkungan serta memperkuat harmoni. “Kita ingin nilai-nilai perjumpaan ini tumbuh dan menginspirasi komunitas di masing-masing daerah,” katanya.
Sementara itu, Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama, Adib Abdussomad, menjelaskan, masih banyak generasi muda yang belum memahami regulasi dasar kerukunan, termasuk Peraturan Bersama Menteri Nomor 9 dan 8 Tahun 2006. Menurutnya, pemahaman regulatif penting agar anak muda memiliki dasar yang kuat dalam memaknai kehidupan keagamaan di ruang publik. “PBM adalah instrumen penting dalam menjaga kerukunan. Mahasiswa dan pemuda perlu memahaminya,” ujarnya.
Adib menyampaikan bahwa PKUB mengembangkan tiga pendekatan dalam penguatan kerukunan: Jalur Emas (TGP), Structured Democratic Dialogue (SDD), dan pendekatan penyelarasan ego. Metode ini mendorong inklusivitas, konsensus, dan kemampuan melihat persoalan dari perspektif yang lebih luas. “Dalam TGP, kebenaran ditempatkan di tengah lingkaran, sehingga semua pihak duduk sejajar untuk mencari solusi bersama,” jelasnya.
Ia menambahkan, Indonesia memiliki modal kerukunan yang kuat dan telah menjadi perhatian banyak negara. PKUB baru saja menyelesaikan program Indonesia Interfaith Immersion Study (EIIS) bekerja sama dengan Australia. Program ini mengenalkan praktik kerukunan di Jakarta, Papua Barat, Magelang, Semarang, hingga Bali. “Mereka melihat langsung bahwa Indonesia sangat layak menjadi pusat harmoni dunia,” katanya.
Melalui Interfaith Harmony Camp, Adib berharap, peserta semakin memahami bahwa kerukunan bukan hanya slogan, tetapi praktik hidup yang dibangun melalui komunikasi, keterbukaan, dan kedewasaan sosial. “Generasi muda perlu terlibat aktif, karena masa depan kerukunan bangsa ada di tangan mereka,” tegasnya.
Adib menutup paparannya dengan ajakan agar peserta dan pemuda lintas agama terhubung melalui platform digital PKUB untuk memperluas akses informasi dan edukasi kerukunan. “Silakan ikuti kanal resmi PKUB. Kita ingin pesan harmoni diperkuat, diperluas, dan diamplifikasi bersama,” ujarnya.
An/Mr



