Mataram, Bimasislam— Direktur Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Irfan Idris, mengatakan bahwa tidak ada satu agama pun yang mengajarkan terorisme. Hal itu disampaikan Irfan saat berceramah pada Sarasehan Penanggulangan Radikalisme Berbasis Agama di Hotel Lombok Raya, Mataram, Kamis (25/10).
Dikatakan Irfan, agama adalah sumber kedamaian dan ketentraman, tetapi sebagian orang ada yang keliru dalam menafsirkan agama.
“Pemahaman yang keliru itu karena terjadi tafsiran monopolistic, misalnya atas penafsiran jihad. 28 kali Allah SWT menyebutkan kata hijrah yang artinya berpindah, tapi sebagian memaknainya sebagai berpindah dari negara aman seperti Indonesia kepada negara yang kacau seperti Suriah. Ini adalah model-model radikal di dalam menafsirkan agama,” katanya.
Terkait radikalisme, lebih lanjut Irfan mengatakan bahwa radikalisme adalah ibu kandung dari terorisme, meski tidak semua radikalis merupakan teroris. Menurut Irfan, radikalisme menjadi negatif saat digunakan dengan cara mengatasnamakan agama. Itu sebabnya, Irfan menambahkan, terorisme memiliki dua ciri, yaitu mudah memberikan gelar kafir kepada kelompok lain, dan memahami jihad secara sempit. “Ini adalah contoh dari paham radikalisme yang berjubah agama.” ujarnya.
Di akhir pemaparannya, Guru Besar UIN Alauddin Makassar itu juga berpesan kepada para orangtua, untuk memperhatikan aktivitas putra dan putrinya saat berselancar di dunia maya.
“Cuci otak di internet, belajar merakit bom, dan seterusnya. Itu berbahaya bagi generasi muda kita. Itu yang menyebabkan kami dulu menutup situs-situs bermuatan negatif, bukan situs Islam. Tapi (penutupan) itu karena ada kontennya yang mengajari cara merakit bom, memprovokasi ISIS, dan sebagainya.” pungkasnya.(thobib/bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



