Batam, bimasislam— Saat pertama kali berkeliling melihat pemandangan kota Batam di pagi hari, perhatian bimasislam terhenti pada sebuah gedung dengan towernya yang cukup mencolok dari kejauhan. Kemudian bimasislam berkunjung dan ternyata sebuah masjid yang cukup eksentrik dan tampak modern dengan nama “Jabal Arafah”. Berada di atas bukit, seakan masjid ini mengayomi lingkungan sekitarnya. Harap dimengerti bila nama masjid ini menggunakan istilah “Jabal” karena posisinya di atas bukit. Bagian luar masjid dihiasi dengan taman kecil yang bernuansa tropis, juga kedai-kedai seperti Kafe atau Resto.
Masjid ini baru akan menginjak usia 2 tahun. Diresmikan tanggal 13 Juli 2012 lalu, namun sudah sangat menarik perhatian para pengunjungnya, yang bukan saja datang dari masyarakat lokal tapi juga para pendatang dari luar kota yang sengaja berwisata ataupun karena ada urusan dinas. Peletakan batu pertamanya sendiri diadakan pada 8 Januari 2010 oleh Hatta Radjasa.
Berdiri di atas lahan seluas 4600 M2, masjid Jabal Arafah sementara baru terbangun 1 lantai untuk perkantoran seadanya dan sebagian besar untuk shalat. “Sedari awal masjid ini direncanakan memiliki 4 lantai; Lantai 1 untuk perkantoran, lantai 2 dan 3 untuk shalat, sedangkan lantai 4 untuk kegiatan kajian dan bimbingan umat”, terang Pak Alamsyah Ketua DKM yang ditemui seusai shalat Jumat (2/5) lalu di ruangan kantornya lantai 1 masjid. Letak persisnya di Jalan Imam Bonjol, Lubuk Baja, samping Nagoya Hill Batam, pusat perdagangan terkenal di Kota Batam, Kepulauan Riau.
Sejarahnya, gagasan pembangunan masjid ini dipelopori oleh Pak Asman Abnur, seorang perantau dari Sumatera Barat yang sudah lama sukses menjadi pengusaha di kota yang seringkali dijadikan pintu masuk ke Singapura ini. Secara adminstratif Masjid Jabal Arafah berada di bawah Yayasan Arafah Batam, yang dipimpin langsung oleh Pak Asman yang pada Pemilu Legislatif tahun ini terpilih kembali menjadi Anggota DPR RI Pusat dari Partai Amanat Nasional (PAN) untuk Periode 2014-2019.
Selain aspek peribadatan, secara kelembagaan masjid ini memiliki beberapa unit, antara lain: Perpustakaan Umum, Lembaga Amil Zakat (LAZ), Badan Wakaf, Lembaga Bimbingan dan Konsultasi Umat, dan Lembaga Pengembangan Usaha. Yang menarik, walaupun masih baru, tapi masjid yang didesain terbuka tanpa tembok ini telah mencapai pendapatan bulanan sekitar 70 juta. Pendapatan dimaksud berasal dari donasi para jamaah, dari penyewaan lahan utk Kafe dan Resto, juga tiket masuk naik Tower setinggi 37 meter dari permukaan tanah yang baru berdiri 2 bulan.
Menurut Ketua DKM, kegiatan-kegiatan yang sudah berjalan sejauh ini adalah Pengajian Rutin Ba’da Zhuhur, Kajian Magrib sampai Ísya, Pembinaan Pra-Nikah, Remaja Masjid, Majelis Taklim Ibu-ibu dua minggu sekali Sabtu siang. “Ke depan, diharapkan masjid ini semakin berkembang dan semakin terasakan manfaatnya untuk umat”, harapnya di akhir obrolan singkat dengan bimasislam (edijun/foto:bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



