Yogyakarta, bimasislam— Pada kegiatan Sekaten kali ini, Stand Bimas Islam dikunjungi oleh tamu kehormatan mantan pejabat di Direktorat Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah. Beliau adalah Drs.H. Muhyiddin, M.Si, mantan Kasubdit Pembinaan Syariah dan Hisab Rukyat (18/12). Pakar Ahli Falak yang sekarang menjadi Dosen UIN Yogyakarta ini mengungkapkan sejarah asal-usul kegiatan Sekaten. Seperti diketahui banyak orang bahwa Sekaten merupakan kegiatan rutin, diadakan setiap tahun di bulan Maulud (Rabiul Awwal) untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.
“Sekaten pertama kali diprakasai oleh Sultan Hamengkubuwono I. Sekaten digunakan sebagai sarana untuk menarik perhatian masyarakat, kemudian diberikan wejangan atau nasehat agama oleh pemuka agama, wejangan ini berupa pemahaman tentang kalimat Syahadatain, yang dalam logat Jawa menjadi Sekaten’, tuturnya.
Menjelang maulid, imbuh Muhyiddin, yaitu sebelum tanggal 7 Rabiul Awwal diadakan pameran dan pasar malam untuk rakyat. Mulai tanggal 7 s.d 12 Rabiul Awwal inilah yang disebut Sekaten. Acara sekaten diawali dengan dikeluarkannya dua gamelan dari Keraton sekitar jam 10 malam kemudian di arak dari Keraton menuju masjid Gede Kauman. Begitu juga pada malam selanjutnya setelah ba’da Isya gamelan tersebut dibunyikan dengan irama khas Jawa, kemudian dilanjutkan dengan nasehat agama. Puncak kegiatan sekaten berakhir pada 12 Rabiul Awwal, pihak keraton menyiapkan satu tumpeng besar yang diarak ke masjid Gede Kauman untuk di do’akan dan kemudian pada pukul 9 pagi tumpeng tersebut dipersembahkan kepada masyarakat yang dikenal dengan istilah grebek maulud. Tumpeng ini sebagai salah satu symbol yang menandakan sedekah dari pihak Keraton. Jelas Muhyiddin dengan logat Jawa yang kental.
“Sudah cukup bagus, namun ia berharap stand Bimas Islam tidak hanya ekspo saja, tapi lebih dapat meningkatkan pelayanan yang manfaatnya langsung dirasakan oleh masyarakat.” terang Ahli falak ini ketika dimintai pendapat mengenai stand bimasislam.
“Ada yang dirasa kurang lengkap”, lanjutnya, “Yaitu tentang sosialisasi kalender Islam, yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari tupoksi bimasislam. Stand Bimas Islam selalu ramai dikunjungi oleh masyarakat, tidak hanya bertanya persoalan tentang pernikahan, wakaf dan zakat, akan tetapi ada juga yang bertanya tentang tanggal, bulan dan tahun kelahiran menurut kalender islam. Hal ini tentunya menjadi menarik minat masyarakat, dahulu ketika saya aktif dalam pameran seperti ini, tidak kurang dari 100 orang perhari yang menanyakan tentang hal-hal terkait kalender Islam”, ungkap anggota Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama ini.
Muhyiddin menambahkan, bahwa sosialisasi kalender Islam atau Hijriyah sangat diperlukan sebagai acuan dalam menjalankan ibadah. Hal ini juga menjadi kekhawatiran mantan Menteri Agama Said Agil al-Munawwar, “Salah satu kerugian umat Islam Indonesia karena kalender Islam perlahan-lahan dilupakan oleh umat Islam itu sendiri”, tutupnya (JML/foto:bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



