Jakarta, Bimas Islam — Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama akan menggelar International Seminar on Islamic Astronomy and Rashdul Qibla on The Spot pada Rabu (15/7/2026) di Unit Percetakan Al-Qur’an, Ciawi, Bogor. Seminar ini terbuka untuk masyarakat dan menghadirkan pakar astronomi Islam dari Indonesia, Turki, Singapura, dan Malaysia sebagai narasumber.
Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah, Arsad Hidayat, mengatakan, seminar internasional ini menjadi ruang berbagi pengetahuan sekaligus memperkuat literasi masyarakat tentang ilmu falak dan verifikasi arah kiblat berbasis astronomi. Menurutnya, perkembangan ilmu pengetahuan perlu terus dihadirkan untuk memudahkan umat menjalankan ibadah secara tepat.
“Kami mengajak masyarakat memanfaatkan kesempatan ini untuk belajar langsung dari para pakar. Selain memahami teori, peserta juga akan memperoleh penjelasan mengenai praktik verifikasi arah kiblat melalui fenomena Rashdul Kiblat yang dapat dilakukan secara mudah dan ilmiah,” ujar Arsad di Jakarta, Selasa (14/7/2026).
Arsad menjelaskan, seminar menghadirkan Guru Besar Ilmu Falak UIN Walisongo Semarang Ahmad Izzuddin, Direktur Pemetaan Batas Wilayah dan Nama Rupabumi Badan Informasi Geospasial Khafid, Atase Agama Kedutaan Besar Turki di Jakarta Abdulhamid Eşmeli, Ahli Jawatankuasa Fatwa Majelis Ugama Islam Singapura (MUIS) Firdaus bin Yahya, serta Prof. Madya Akademi Pengajian Islam Universiti Malaya Mohd Saiful Anwar bin Mohd Nawawi. Kehadiran para narasumber tersebut diharapkan memperkaya wawasan peserta mengenai praktik penentuan arah kiblat di berbagai negara.
Ia menambahkan, seminar juga menjadi bagian dari upaya memperkuat kolaborasi internasional dalam pengembangan ilmu falak sekaligus mendukung peningkatan kualitas layanan keagamaan. Sejalan dengan arahan Menteri Agama Nasaruddin Umar, Kementerian Agama terus mendorong pelayanan keagamaan yang berdampak, adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Seminar akan berlangsung pukul 13.00–17.00 WIB, dilengkapi dengan sesi praktik Rashdul Kiblat, yaitu fenomena ketika Matahari berada tepat di atas Ka’bah sehingga bayangan benda tegak lurus dapat dimanfaatkan sebagai penunjuk arah kiblat yang sangat akurat.
Sementara itu, Kasubdit Hisab Rukyat dan Syariah, Ismail Fahmi, mengatakan, seminar ini menjadi bekal penting menjelang pelaksanaan Gerakan Nasional Indonesia Berkiblat yang akan berlangsung pada 15–16 Juli 2026.
“Kami ingin masyarakat memahami bahwa menentukan arah kiblat tidak harus rumit. Melalui fenomena Rashdul Kiblat, siapa pun dapat melakukan verifikasi secara mudah, praktis, dan akurat dengan memanfaatkan posisi Matahari,” kata Ismail Fahmi.
Menurut Ismail, pada 15 dan 16 Juli pukul 16.27 WIB atau 17.27 Wita, Matahari akan berada tepat di atas Ka’bah. Pada saat itu, bayangan tongkat atau benda yang berdiri tegak lurus akan menunjukkan arah kiblat secara presisi sehingga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mengecek arah kiblat di rumah, masjid, musala, sekolah, kantor, maupun fasilitas publik lainnya.
Ia menjelaskan, masyarakat yang ingin mengikuti seminar dapat mendaftar secara gratis mulai 12 hingga 14 Juli 2026 melalui laman https://s.id/rashdulqibla_2026. Kuota peserta dibatasi sebanyak 100 orang untuk wilayah Jabodetabek. Peserta akan memperoleh sertifikat, konsumsi, dan goodie bag.
Ismail juga mengajak masyarakat berpartisipasi dalam Gerakan Nasional Indonesia Berkiblat dengan mendaftarkan lokasi verifikasi arah kiblat melalui https://indonesiaberkiblat.kemenag.dev. Selain memperoleh panduan pelaksanaan, peserta yang mendaftar melalui sistem akan mendapatkan e-sertifikat sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi dalam gerakan nasional tersebut.
Seminar internasional ini merupakan rangkaian Peaceful Muharam 1448 H yang digagas Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama dengan tema “Menebar Maslahat, Menguatkan Umat.”
Melalui rangkaian kegiatan edukasi, sosial, dan keagamaan, program ini mengajak masyarakat memperkuat nilai persaudaraan, meningkatkan literasi keislaman, serta menghadirkan layanan keagamaan yang berdampak. Puncaknya adalah pelaksanaan Gerakan Nasional Indonesia Berkiblat pada 15–16 Juli 2026 yang menargetkan 1.448.000 titik verifikasi arah kiblat secara serentak di seluruh Indonesia sekaligus menjadi ikhtiar mencatatkan rekor dunia.
An/Mr



