Jakarta, bimasislam-- Setiap insan memiliki ajal, batas waktu akhir hayatnya, demikian Allah Swt. tegaskan dalam firman-Nya. Bila sudah saatnya, maka tidak akan dipercepat ataupun diperlambat. Karenanya, "Janganlah kalian mati, kecuali dalam keadaan muslim", demikian nasehat Prof. M. Mahfudz MD, seraya menyitir Ayah 102 dari Surah Ali Imran, dalam ceramahnya di Masjid Istiqlal Jakarta hari Jumat (13/6) kemarin.
Pengertian “muslim” dalam ayat tersebut, menurut mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) ini, bisa berarti 2 (dua) pengertian, yakni: Pertama, seseorang yang memiliki identitas sebagai orang yang beragama Islam. Karenanya, ia wafat dalam keadaan berstatus sebagai pemeluk agama Islam. Kedua, seseorang yang meninggal dalam keadaan damai dan tenang, karena sebenarnya dari kata "islam" itu adalah dalami, tenang, selamat. Biasanya orang yang seperti ini memiliki amal yang bagus dan banyak. Inilah orang-orang yang akan selamat, bukan hanya di dunia tapi juga di akhirat.
Namun demikian, ingat Mahfudz, ternyata ada sebagian orang yang tetap menyesali kebaikannya. Alkisah ada seorang perempuan yang curhat kepada Rasulullah tentang kejadian yang menimpa suaminya saat sakit keras menjelang ajalnya. Sang suami tersebut mengalami siuman dan sadar tiga kali sambil tersenyum, seraya mengucapkan kalimat "idzaa ab'ad" (seandainya lebih jauh) pada siuman yang pertama, kemudian "idzaa ajadd" (seandainya lebih baru) pada siuman kedua, lalu "idzaa kulluh" (jika semuanya) pada siuman ketiga.
Sang perempuan tersebut bertanya kepada Rasulullah Saw. isyarat apa sebenarnya yang terjadi pada suaminya. Rasulullah pun menjelaskan bahwasanya kalimat pertama itu muncul karena saat sakaratul maut itu ditampilkan rekaman kebaikan sang suami ini selama hidupnya, yang pernah menggendong orang pincang utk shalat jamaah di masjid. Kalimat kedua, kata Rasulullah, karena pada masa hidupnya sang suami pernah menyelimuti seorang nenek yang tidur kedinginan saat malam hari di pinggir jalan. Adapun kalimat ketiga berkenaan dengan pengalaman semasa hidupnya yang berbagi sebagian makanannya kepada orang yang kelaparan.
Ini pelajaran buat kita, gugah mantan Menhankam ini, agar kita senantiasa melakukan yang terbaik dalam segala hal sebagai seorang muslim, walaupun itu kecil. Jangan sampai kita menyesal pada saatnya nanti, karena kita tidak berbuat yang terbaik, apalagi enggan untuk berbuat baik. Bangsa ini butuh karya dan peran serta terbaik dari warganya, jelas Mahfudz di akhir ceramahnya. (edijun/foto:)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



