Oleh:
M. Syafaat*
Mulai dari Alm. Kiai Khazin M (ex Kasubdit Bina Paham Keagamaan Islam, Alm. Kang A Khoirul Anam (Tim Implementasi & Tim Penulis Moderasi Beragama Bimas Islam) dan selasa tadi (20/7) sosok sepuh namun selalu berjiwa energik yaitu Alm. Duktur Kiai Abduh Al-Manar (LPBKI MUI dan Mitra Ahli Kepustakaan Islam) pun turut menyusul kemudian.
Ketiganya bagi saya adalah figur-figur tak tergantikan. Dan tak hanya bagi saya pada akhirnya, bahkan mestinya negara sangat berhutang besar kepada peran dan pengabdian ketiganya.
Leres bahwa ada banyak jalan pengabdian yang diambil-lalui para anak zaman negeri ini. Siapapun akan dapat memilih, dengan limpahan jariyah dan berkah yang mengiringi.
Dari ketiga kiai itu (kiai birokrat, kiai anom dan kiai sepuh) dimana rumah tua Kementerian Agama sempat menjadi wadah perjumpaan jalan-jalan sunyi itu, saya bersyukur karena sejak akhir 2016-2021 dapat turut belajar mengenal layanan-layanan inklusif (al-quran braille, fikih ibadah braille, penguatan disabilitas, standardisasi literasi keislaman moderat) keagamaan yang pernah mereka coba sumbang-lahirkan. Layanan inklusif keagamaan seakan menjadi kunci pembuka bagi berprosesnya kebijakan progressif lainnya yang ikhtiarnya benar2 menempatkan publik sebagai warga negara yang setara.
Dan jika ada hal lain di luar kekaguman itu, maka tak lain bahwa keberadaan ketiganya dalam mengawal beberapa program di Ditjen Bimas Islam sangat menjadi mahal dan berharga, seiring dengan ketulusan-ketawadhuan mereka dalam mengimbangi problem otoritas ilmu keislaman yang umumnya menjadi PR besar di kalangan para birokrat dengan kualifikasi yang masih sangat lemah dan lamban, di tengah kebutuhan trust (kepercayaan) publik yang kian tinggi.
Semoga segala jariyah kebaikan terus abadi dan menular.
Al Fatihah
Keterangan: Obituari untuk Dr. KH. Abduh Al Manar, MA (Mitra Ahli Kepustakaan Islam 2017-2021). Dalam gambar, duduk paling kanan berpeci hitam.
*Penyunting Naskah Penerbitan Buku



