Semarang, Bimas Islam — Kapal Cheng Ho melintas di tengah rangkaian gerak para penari. Dari suasana tanah Jawa yang digambarkan tenteram, pertunjukan kemudian bergerak menuju konflik, kegelapan, dan akhirnya cahaya. Pada panggung pembukaan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI Tahun 2026 di Lapangan Pancasila, Simpang Lima, Semarang, Sabtu (12/9/2026), perjalanan itu menjadi cara untuk bercerita tentang perjumpaan Islam dengan kebudayaan Jawa dan Tionghoa.
Melalui tari kolosal Jejak Langit di Atas Tanah Jawa, sebanyak 300 penari dari Universitas Negeri Semarang (Unnes) dan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta tidak sekadar menyajikan rangkaian koreografi. Pertunjukan tersebut menyusun sejumlah simbol—kerajaan Jawa, pelayaran Cheng Ho, keresahan masyarakat, Sunan Kalijaga, Lir-Ilir, hingga cahaya menjadi satu narasi tentang perubahan dan pencerahan di tanah Jawa.
Cheng Ho dan Pertemuan Berbagai Budaya
Koordinator Program Studi Pendidikan Sendratasik FBS Unnes Eny Kusumastuti mengatakan kapal Cheng Ho sengaja dihadirkan karena memiliki keterkaitan dengan Semarang dalam ingatan sejarah dan kebudayaan masyarakat. Dalam pertunjukan, kapal itu menjadi simbol perjalanan sekaligus perjumpaan masyarakat Jawa dengan kebudayaan dari luar.
“Kita merepresentasikan ada kapal Cheng Ho, karena wilayah Semarang terkenal sekali hadirnya kapal Cheng Ho,” ujar Eny dalam keterangan tertulis, Minggu (13/9/2026).
Kehadiran simbol Cheng Ho kemudian ditempatkan dalam lanskap kebudayaan Jawa. Pertunjukan tidak menggambarkan perjumpaan tersebut sebagai dua kebudayaan yang berdiri sendiri, melainkan sebagai bagian dari perjalanan masyarakat yang terus berinteraksi. Unsur Jawa dan Tionghoa hadir bersama elemen keislaman dalam satu panggung, memperlihatkan bagaimana kebudayaan dapat menjadi ruang perjumpaan.
Narasi itu dimulai dari gambaran kejayaan tanah Jawa. Suasana kerajaan, panji, mahkota, dan gerak para penari membangun kesan tentang sebuah peradaban yang telah memiliki tradisi dan kebudayaannya sendiri. Dari situ, cerita bergerak menuju perjalanan, persinggahan, dan kehidupan masyarakat yang lebih beragam.
Ketika Dakwah Hadir sebagai Pencerahan
Perubahan suasana menjadi titik penting dalam pertunjukan. Setelah menggambarkan kehidupan yang tenteram, panggung memasuki fase konflik dan kegelapan. Gerak, musik, dan tata cahaya ikut berubah sehingga penonton dibawa dari suasana yang terang menuju keadaan yang penuh ketegangan.
Dalam narasi pertunjukan, keresahan tersebut kemudian menemukan jalan keluar melalui hadirnya Sunan Kalijaga. Sosok tersebut digunakan sebagai simbol pencerahan, sekaligus menggambarkan pendekatan dakwah yang berkelindan dengan kebudayaan masyarakat Jawa.
“Sedikit ada kerisauan di masyarakat, kemudian muncullah pencerahan dari Sunan Kalijaga, jadi munculnya agama Islam di wilayah Semarang,” kata Eny.
Penggambaran itu kemudian diperkuat melalui Lir-Ilir, yang ditempatkan sebagai bagian dari transisi menuju suasana yang lebih spiritual. Penggunaan karya yang lekat dengan tradisi Jawa tersebut menjadi salah satu cara pertunjukan mempertemukan ekspresi budaya lokal dengan pesan keislaman tanpa menempatkannya sebagai dua hal yang saling berjarak.
Dari Gelap Menuju Cahaya
Cahaya menjadi benang merah yang mengikat keseluruhan cerita. Ia bukan sekadar perangkat tata panggung, melainkan simbol perubahan dari kegelapan menuju keadaan yang lebih terang. Dengan cara itu, Islam dalam pertunjukan diposisikan sebagai pencerahan yang hadir di tengah kehidupan masyarakat dan kebudayaan yang telah berkembang sebelumnya.
“Cahaya terang itu menyinari tanah Jawa ini, agama Islam memberikan pencerahan di wilayah Jawa,” ujar Eny.
Pada bagian akhir, lantunan kalimat tauhid mengubah suasana pertunjukan menjadi lebih khidmat. Para penari kemudian membawa lentera dan menyusunnya hingga membentuk lafaz Allah. Simbol tersebut menjadi klimaks visual dari perjalanan yang sejak awal dibangun melalui gagasan tentang cahaya.
Di acara MTQ, pesan semacam itu memperluas cara publik melihat perhelatan Al-Qur’an. Dirjen Bimas Islam Kemenag sekaligus Ketua Umum Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Abu Rokhmad menempatkan MTQ bukan hanya sebagai ajang kompetisi membaca dan menghafal Al-Qur’an, tetapi sebagai bagian dari pembinaan yang menghadirkan nilai Al-Qur’an dalam kehidupan masyarakat. Karena itu, seni dan budaya menjadi salah satu ruang yang dapat mempertemukan pesan keagamaan dengan pengalaman sosial masyarakat.
Arah tersebut sejalan dengan tema MTQ Nasional XXXI, “Menebar Cahaya Al-Qur’an dalam Harmoni Menuju Indonesia Emas yang Berkeadaban”. Dalam konteks pembinaan Kementerian Agama di bawah kepemimpinan Menteri Agama Nasaruddin Umar, cahaya Al-Qur’an tidak berhenti pada kemampuan melafalkan ayat, tetapi diarahkan untuk hadir sebagai nilai yang membentuk perilaku, hubungan sosial, dan kehidupan bersama.
Pertunjukan Jejak Langit di Atas Tanah Jawa pada akhirnya menjadi bagian dari pesan tersebut melalui bahasa seni. Islam, Jawa, dan Tionghoa tidak disajikan semata sebagai identitas yang berbeda, tetapi sebagai unsur yang bertemu dalam perjalanan kebudayaan. Dari kapal yang datang melalui jalur pelayaran, tradisi Jawa yang menjadi medium ekspresi, hingga Sunan Kalijaga dan simbol cahaya, seluruhnya dirangkai untuk menggambarkan pencerahan yang tumbuh melalui perjumpaan.
MTQ sebagai Ruang Perjumpaan
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi sebelumnya menyebut MTQ bukan hanya lomba membaca dan menghafal Al-Qur’an, tetapi juga “pesta rakyat” yang menyatukan masyarakat lintas agama dan latar belakang. Pandangan itu menemukan bentuk visualnya dalam pembukaan MTQ XXXI ketika kisah kebudayaan Jawa dan perjumpaan antarkultur dibawa ke tengah panggung.
“MTQ ini tidak hanya merupakan lomba untuk membaca dan menghafalkan Alquran, tetapi di dalamnya mempunyai makna sebagai pesta rakyat yang menyatukan masyarakat di lintas agama maupun di lintas latar belakang,” ujar Luthfi dalam pembukaan MTQ Nasional XXXI.
MTQ Nasional XXXI diikuti 2.242 peserta dari 37 provinsi, dengan delapan cabang, 24 golongan, dan 48 kategori. Selain musabaqah, rangkaian kegiatan juga menghadirkan Kemenag Expo, bazar UMKM dan produk halal, pameran mushaf dan khazanah manuskrip Al-Qur’an, muzakarah ilmiah Al-Qur’an, serta panggung seni dan budaya Islami.
Pembukaan MTQ Nasional XXXI dihadiri Menko PMK Pratikno, Menteri Agama Nasaruddin Umar, Wakil Menteri Agama Romo R. Muhammad Syafi'i Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifah Fauzi, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen, dan Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti. Hadir pula jajaran Forkopimda Jawa Tengah dan Kota Semarang, pimpinan Kementerian Agama dan LPTQ, serta para gubernur dan wakil gubernur dari berbagai daerah.
Di tengah pertemuan 37 kafilah dari berbagai penjuru Indonesia, Jejak Langit di Atas Tanah Jawa menempatkan panggung MTQ sebagai ruang untuk membaca kembali hubungan agama dan kebudayaan. Cahaya yang pada akhir pertunjukan membentuk lafaz Allah sekaligus menjadi penutup cerita: sebuah simbol bahwa pesan keislaman dapat hadir melalui kebudayaan, perjumpaan, dan kehidupan masyarakat yang beragam.
An/Mr
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Lantik Pejabat Eselon II Ditjen Pesantren, Menag: Perhatikan Masa Depan Santri dan 42 Ribu Pesantren
Jakarta, Bimas Islam --- Menteri Agama Nasaruddin Umar hari ini melantik lima pejabat eselon II Direktorat Jenderal Pesantren Kementerian Agama. Pelantikan…



