Jakarta, Bimas Islam — Kementerian Agama mendorong distribusi hewan kurban menjelang Iduladha 1447 H diprioritaskan ke wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), daerah pascabencana, serta kantong-kantong kemiskinan ekstrem. Langkah tersebut dilakukan agar manfaat kurban lebih merata dan mampu menjangkau masyarakat yang selama ini masih terbatas aksesnya terhadap protein hewani.
Hal itu disampaikan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Abu Rokhmad saat menjadi narasumber dalam kegiatan BAZNAS Fundraising Forum: Kurban Experience – Memberi Makna Lebih untuk Indonesia yang digelar secara daring, Jumat (8/5/2026).
Abu mengatakan, ibadah kurban tidak hanya memiliki dimensi spiritual, tetapi juga sosial dan ekonomi. Menurutnya, distribusi kurban yang tepat sasaran dapat memperkuat solidaritas sosial sekaligus membantu masyarakat yang membutuhkan.
“Kurban selain memberikan tambahan protein dan gizi terbaik bagi masyarakat, juga dapat memberdayakan ekonomi umat, khususnya saudara-saudara kita yang memiliki usaha di bidang peternakan,” ujar Abu Rokhmad.
Ia menuturkan, potensi kurban nasional setiap tahun sangat besar. Namun, penghimpunan dan distribusinya masih perlu terus diperkuat agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas, terutama di daerah dengan tingkat konsumsi daging yang masih rendah.
Menurut Abu, masih banyak masyarakat yang memiliki kemampuan berkurban, tetapi pelaksanaannya belum terdata atau belum terhubung dengan lembaga pengelola zakat dan kurban. Karena itu, penguatan edukasi dan literasi kepada masyarakat menjadi bagian penting dalam pengembangan ekosistem kurban nasional.
“Kita perlu terus mendorong edukasi kepada masyarakat agar pelaksanaan ibadah kurban memberikan dampak yang nyata bagi masyarakat secara luas,” katanya.
Abu menjelaskan, Kementerian Agama melalui jaringan penyuluh agama dan penghulu terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat menjelang Iduladha. Saat ini terdapat sekitar 38 ribu penyuluh agama dan lebih dari 13 ribu penghulu yang aktif memberikan edukasi keagamaan di berbagai daerah.
Selain mengedukasi tentang ibadah haji dan Iduladha, para penyuluh juga didorong menyampaikan pentingnya kurban sebagai instrumen kepedulian sosial dan penguatan kesejahteraan masyarakat.
Ia menilai kolaborasi antara Kementerian Agama, BAZNAS, dan lembaga amil zakat perlu terus diperkuat agar gerakan kurban lebih terorganisasi dan mampu menjangkau daerah-daerah prioritas, termasuk wilayah 3T dan kawasan terdampak bencana.
“Kami berharap kolaborasi dengan BAZNAS RI di provinsi dan kabupaten/kota, termasuk lembaga amil zakat, dapat terus ditingkatkan agar bersama-sama memberikan literasi dan edukasi kepada masyarakat,” ujarnya.
Menurut Abu, distribusi kurban yang merata dapat membantu mengurangi kesenjangan akses pangan bergizi di sejumlah wilayah. Karena itu, pengelolaan kurban perlu diarahkan tidak hanya pada aspek penghimpunan, tetapi juga pemerataan manfaat dan keberlanjutan dampaknya bagi masyarakat.
“Selain itu, perlu adanya inovasi distribusi melalui pengolahan daging kurban menjadi produk kaleng untuk memperluas jangkauan penyaluran, terutama ke wilayah 3T dan daerah yang membutuhkan penanganan khusus pascabencana,” jelasnya.
Ia juga mengajak masyarakat Muslim yang memiliki kemampuan ekonomi untuk melaksanakan ibadah kurban melalui lembaga yang terpercaya agar penyalurannya lebih terukur, tepat sasaran, dan mampu menjangkau masyarakat di daerah yang membutuhkan.
“Kami berharap forum yang digelar BAZNAS tersebut dapat memperkuat sinergi antarlembaga dalam membangun gerakan kurban yang lebih inklusif, berdampak, dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat di seluruh Indonesia,” tandasnya.
An/Mr
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



