Berau, bimasislam – Malam itu penyebrangan ke pulau Derawan dari pelabuhan Tanjung Batu, Berau, terpaksa ditunda. Angin terlalu kencang, tidak ada jaminan speedboat mendarat ke tempat tujuan dengan aman. Ust Muhmmad Arifin, seorang penyuluh honorer, beberapa kali kelihatan menghubungi orang di pulau Derawan. Bukan apa-apa, "Di sana sudah disiapkan makanan," katanya.
Masyarakat kampung Derawan sebenarnya minta penyuluh bisa datang malam itu, menunggu ombak sedikit tenang. Larut malam juga tidak apa, agar penyuluhan bisa dilakukan selepas sholat shubuh. Namun sampai larut malam, angin masih kencang. "Di darat saja cukup kecang, apalagi di laut," kata Arifin. Ia pernah tinggal di Makassar dan punya hoby menyelam samapi berjam-jam. Jadi bukan soal takut. Pihak pemilik speedboat yang kami sewa juga tidak mau menyebrang jika angin terlalu kencang.
Perjalanan ke pulau Derawan dilanjutkan pagi hari sekitar pukul 07.00 WITA. Speedboat kecil ditumpangi lima orang. Dua orang penyuluh, Ust Syarifuddin dan Ust Muhammad Arifin, kami berdua dari Jakarta, serta seorang pengemudi speedboat yang hampir tidak pernah menoleh ke belakang. Menurut Arifin, pagi itu angin sudah tenang meskipun beberapa kali kali merasakan speedboat melompat-lompat karena gelombang. Kecepatan speedboat bisa mencapai 80-100 km/jam.
Ketika sampai di tempat tujuan, penyuluhan tidak bisa langsung dilakukan. Masyarakat sedang beraktifitas. Anak-anak juga masih sekolah. Penyuluhan baru bisa dilakukan nanti selepas shalat dzuhur sehingga kami sempat berkeliling ke hampir seluruh penjuru seluruh pulau.
Kampung Pulau Derawan hanya seluas 4 x 1 km yang secara administratif hanya menjadi satu kelurahan. Menurut tokoh setempat, di kampung itu hanya ada 1600 jiwa yang terdiri dari 300 kepala keluarga.
Kampung itu berpenduduk 100 persen muslim. Ada satu rumah dengan hiasan seperti kubah masjid di depannya. Hiasan itu menandakan bahwa salah seorang penghuni rumah itu sedang menunaikan ibadah haji.
Kami juga sempat mengunjungi makam tua yang disebut dengan makam kuda, karena batu nisan makam itu berbentuk kuda. Konon itu adalah makam seorang keluarga kerajaan yang diasingkan karena melakukan sebuah kesalahan. Namun ia diduga menjadi penyebar agama Islam untuk pertama kali di kampung itu. Sayang, tidak ada catatan sejarah yang tertulis di makam kuda itu.
Selepas shalat dhuhur penyuluhan dimulai. Masjid al-Ihlas, satu-satunya masjid di kampung itu, yang berkapasitas 500 orang hampir terisi penuh terutama oleh anak-anak yang memakai seragam sekolah. Meskipun tinggal di pulau terluar, anak-anak ini kilihatan sangat aktif dan jukup komunikatif berdialog dengan orang-orang yang berkunjung.
Pesan Ust Syarifuddin kepada masyarakat setempat saat memberikan penyuluhan, jangan sampai pola hidup masyarakat yang sudah agamis berubah gara-gara masuknya para wisatawan. Jangan sampai mengikuti pakaian orang asing, katanya sambil menyampaikan materi agama Islam mengenai aurat.
"Tolong diingatkan para wisatawan agar memakai pakaian sopan. Orang luar itu biasanya saangat taat aturan. Kita saja yang kadang-kadang tidak taat dengan aturan agama kita sendiri. Kalau tidak diingatkan nanti mereka mengira bebas berpakaian model apapun," katanya.
Pulau Derawan mendapatkan berkah pelaksaan PON 2008 Kalimantan Timur. Kampung pulau Derawan menjadi tuan rumah beberapa cabang olah raha. Beberapa infrastruktur dibenahi sehingga memungkinkan kawasan ini menjadi destinasi wisata.
Kami juga dikira penyuluh dan diminta berdiri di depan menyampaikan taushiyah. Kepada anak-anak sekolah, kami berpesan, meskipun tinggal di wilayah terluar, kesempatan untuk maju dan berkembang seperti anak-anak di pulau lain atau di pusat kota sama saja. Pemerintah saat ini juga memberikan perhatian khusus dan beasiswa bagi anak-anak di pulau terluar.
Di sela penyuluhan juga terlihat beberapa orang memencet-mencen smartphone mereka. Kami juga mengingtakan, alat komunikasi bisa kita manfaatkan untuk banyak hal, terutama untuk mencari informasi penting untuk pengembangan diri. Alat komunikasi bisa juga dimanfaatkan untuk belajar agama. Jangan sampai smartphone digunakan untuk menyebarkan hoax atau berdebat mengenai hal-hal yang tidak penting seperti di Jakarta.
Menjelang akhir penyuluhan, tiba-tiba banyak sekali nampan, piring dan gelas yang diedarkan. Rupanya, sudah menjadi adat di kampung itu, setiap kali ada kegiatan di masjid, apalagi jika ada tamu dari luar, warga menyiapkan makanan dan minuman sekenanya untuk dimakan bersama-sama.
Kegiatan siang hari itu selesai. Kami pun kembali ke pelabuhan Tanjung Batu sambil masih sempat melihat-lihat penyu raksaasa di laut dangkal.
Perjalanan dari pulau Derawan itu cuma butuh waktu 20 menit karena speedboat melaju kencang. Kata seorang penyuluh, pulau Derawan ini masih tidak ada apa-apanya. Ada pulau lain di kabupaten Berau, Maratua namanya, yang lebih jauh lagi dan lebih dekat dengan negara tetangga. Butuh waktu perjalanan speedboat selama 2 jam. Jika tiba-tiba speedboat mati, dan tidak ada pertolongan, maka speedboat bisa mendarat di Filipina. Lalu, dari pulau Maratua, masih ada pulau lebih kecil yang juga wajib didatangi oleh penyuluh agama Islam Kementerian Agama.
(anam/bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



