Banten, bimasislam, -- Pada hari Kamis (20/11), bimasislam melakukan blusukan di Provinsi Banten. Tujuan pertama adalah Kantor Urusan Agama (KUA Kecamatan Anyer Kabupaten Serang. Menempati tanah seluas + 150 m2, KUA Kecamatan Anyer berdiri tepat di pinggir jalan pusat Kota Kecamatan Anyer. Adalah Drs. H. Nur Sa’ad, sosok nahkoda KUA Kecamatan Anyer sejak 2012, memimpin jajarannya untuk memberikan pelayanan masyarakat di 9 desa. Dengan beranggotakan 5 orang berstatus PNS dan 2 orang pegawai honorer, KUA Kecamatan Anyer melayani pencatatan nikah 90 peristiwa setiap bulan.
Wilayah Kecamatan Anyer pusat destinasi wisata yang menyajikan keindahan. Tak heran jika di akhir pekan kunjungan wisatawan memacetkan arus menuju Anyer sepanjang 17 Km dari pintu tol Cilegon Barat. Bukan hanya itu, kawasan industri Krakatau Steel yang berlokasi di Kota Cilegon menambah beban jalan sehingga memperparah kemacetan. Tak mengherankan jika waktu tempuh bisa menembus 1-2 jam.
Sebagai pusat destinasi wisata dan berdekatan dengan kawasan industri, permasalahan sosial kerap dihadapi jajaran KUA Anyer. Nur Sa’ad mengisahkan, kemiskinan menyebabkan pendidikan agama di wilayahnya belum maksimal. Majelis Taklim dan Masjid memang telah berdiri, namun belum sepenuhnya dijadikan pusat pembinaan. Tidka hanya itu, masyarakat mudah tersulut emosi ketika terjadi gesekan. Ia mencontohkan, saat pertandingan sepakbola adalah momen yang tak jarang menimbulkan percekcokan yang berujung adu fisik. Pada sata yang bersamaan, pihaknya hanya memiliki satu orang Penyuluh Fungsional, dan itu pun harus merangkap di dua kecamatan lainnya, yaitu Kecamatan Pabuaran dan Ciomas.
“Kami akui bahwa 1 orang penyuluh itu jauh dari cukup, apalagi tenaganya juga digunakan di dua kecamatan lainnya. Ada 13 penyuluh honorer memang yang membantu di Kecamatan Anyer ini,” tuturnya.
Kondisi ini sejak dua tahun belakangan mendapat perhatian dari pemerintah daerah. Melalui bidang Kesra Pemda Kabupaten Serang, guru ngaji tradisional, petugas pengurusan mayat dan guru Madrasah Diniyah mendapatkan bantuan honorarium setiap bulan. Pria murah senyum ini merespon bantuan pemda ini sebagai modal meningkatkan pembinaan keagamaan di wilayahnya. Kini, para guru ngaji, guru MD dan para petugas pengurusan mayit di wilayahnya semakin giat mendedikasikan waktunya demi melayani umat.
Disinggung perihal perubahan regulasi pencatatan peristiwa nikah, Nur Sa’ad berseloroh, bahwa sejak diterbitkannya PP 48 Tahun 2014 Tentang Biaya Nikah dan Rujuk, angka pernikahan di kantor meningkat tajam dengan perbandingan 50:50. Menurutnya, masyarakat menyambut baik regulasi ini, mereka yang berada di garis kemiskinan memilih menikah di KUA, sehingga uang yang ada dapat dibelikan hal lain.
“Sejak disosialisasikan, kami merasa lebih ringan dan nyaman dalam bekerja, karena ada yang melindungi. Begitu pula, masyarakat lebih mudah dengan memilih mau gratis atau bayar. Cuman dalam penerapannya kami masih terus melakukan sosialisasi, terutama pada masyarakat yang masih awam,” ujarnya.
Pihaknya mengakui, pencatatan peristiwa pernikahan sering mendapat sorotan dari masyarakat, terutama adanya tarikan uang menurut beberapa pihak. Menyikapi hal ini, ia dan jajarannya intensif melakukan sosialisasi diterbitkannya PP 48 Tahun 2014 Tentang Biaya Nikah dan Rujuk ini, baik melalui edaran, pengajian Majelis taklim dan forum-forum keagamaan lainnya, sehingga masyarakat mengetahui ketentuan yang berlaku dan menghindari jika ada pungutan yang mengatasnamakan penghulu.
Sebagai unit terdepan dalam pelayanan, KUA memang tidak hanya mengurusi pencatatan pernikahan. Tugas-tugas lain seperti pencatatan perwakafan, bimbingan ibadah haji, penyuluhan agama dan pembinaan majelis taklim, merupakan bukti beratnya tugas jajaran KUA di daerah. Nur Sa’ad berharap, beban KUA yang cukup berat ini diiringi dengan penguatan regulasi dan pembangunan infrastruktur sehingga citra KUA profesional dan bersih dapat diwujudkan.
“Dengan segala keterbatasn yang ada, Kami semua siap mewujudkan KUA profesional dan bersih, memberi pelayanan yang cepat dan efisien. Tentu ini semua membutuhkan dukungan dari semua pihak, termasuk masyarakat,” pungkasnya seraya tersenyum penuh optimisme.
Selamat bekerja Pak Penghulu!. (bieb-kangjeje/foto:bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



