Jakarta, Bimas Islam — Direktorat Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kementerian Agama (Kemenag) kembali menggelar Kajian Rutin Rabu Berkah di Masjid Al-Ikhlas, Gedung Kementerian Agama, Jakarta (12/11/2025). Kajian yang diikuti jemaah salat Zuhur dari kalangan pegawai Kemenag ini menghadirkan KH. Ahmad Rosyidin Mawardi dari Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sebagai penceramah.
Dalam ceramahnya, KH. Ahmad Rosyidin membahas tentang pentingnya bersyukur. Ia mengingatkan bahwa sifat suka mengeluh merupakan bagian dari tabiat manusia yang mudah muncul saat menghadapi kesulitan.
“Sebenarnya tidak apa-apa karena sudah seperti software di manusia. Tapi ia juga harus sadar bahwa setiap ujian adalah bagian dari kasih sayang Allah, dan setiap nikmat sekecil apa pun adalah jalan menuju ketenangan,” ujarnya.
Menurutnya, mengeluh tidak akan mengubah keadaan. Sebaliknya, keluhan yang terus-menerus justru menutupi pandangan manusia terhadap banyaknya nikmat yang telah diberikan Allah.
"Kita ini sering sibuk menghitung apa yang hilang, sampai lupa berapa banyak yang masih tersisa,” ungkapnya.
Dalam kesempatan itu, Ahmad Rosyidin juga menjelaskan konsep qanaah, rasa cukup yang lahir dari hati yang bersyukur dan tidak bergantung pada keinginan duniawi. Ia menegaskan bahwa Islam tidak melarang ambisi atau kerja keras, tetapi mengingatkan agar manusia tidak diperbudak oleh hasil dunia.
“Bekerjalah dengan sungguh-sungguh, tetapi jangan biarkan hatimu bergantung pada hasil dunia. Karena hati yang penuh syukur akan selalu merasa cukup,” pesannya.
Ia menambahkan, rasa cukup bukan berarti berhenti berusaha, melainkan kemampuan menerima dengan lapang dada apa pun yang telah Allah tetapkan. “Orang yang qanaah bukan orang miskin, melainkan orang yang kaya hati. Kekayaan sejati bukan banyaknya harta, tapi tenangnya jiwa,” imbuhnya.
Dalam kajiannya, Ahmad Rosyidin juga mengutip Surah At-Takatsur ayat 1–2: “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.” Menurutnya, ayat tersebut menggambarkan bagaimana manusia sering terjebak dalam siklus membandingkan diri dengan orang lain, mulai dari urusan harta, jabatan, hingga penampilan, tanpa pernah merasa puas.
"Manusia tidak akan pernah puas dengan apa yang dimilikinya. Hari ini ia ingin lebih banyak, besok ingin lebih tinggi. Tapi yang lupa diurus adalah hatinya,” jelasnya.
Ia mengatakan, nafsu tidak akan pernah berhenti meminta. Karena itu, zikir dan rasa syukur menjadi benteng utama untuk menundukkan keinginan yang berlebihan. “Zikir menenangkan hati, syukur menenangkan jiwa. Itulah dua kunci kebahagiaan yang sering kita abaikan,” ucapnya.
Menutup kajian, KH. Ahmad Rosyidin mengingatkan bahwa manusia yang bersyukur dan tidak mudah mengeluh adalah pribadi yang kuat secara iman dan sabar dalam menjalani takdir. “Hidup ini tidak pernah kekurangan nikmat, hanya saja sering kekurangan rasa syukur,” tuturnya.
Fn/Mr



