Jakarta, Bimas Islam— Direktorat Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kementerian Agama menggelar Kajian Ba’da Zuhur di Masjid Al-Ikhlas Kemenag, Rabu (3/12/2025). KH. Firman Arifandi Amin dari Lembaga Dakwah PBNU hadir sebagai penceramah dan membawakan materi tentang pentingnya menyeimbangkan semangat ibadah dengan tanggung jawab sosial.
Dalam ceramah berdurasi sekitar tiga puluh menit itu, KH. Firman mengatakan, seorang muslim tidak hanya diperintahkan taat beribadah, tetapi juga wajib memahami fondasi kehidupan sosial sebagai bagian dari ajaran Nabi Muhammad Saw. “Rasulullah selalu melihat sisi sosial dalam setiap ritus ibadah,” ujarnya.
Ia mencontohkan peristiwa ketika Mu’adz bin Jabal memperpanjang bacaan salat sebagai imam hingga sebagian makmum meninggalkan salat. Nabi kemudian menegurnya dengan lembut sambil bersabda, “Jika kamu menjadi imam, salatlah dengan standar orang yang paling lemah di antara mereka.”
Menurut KH. Firman, peristiwa tersebut menunjukkan bahwa ibadah tidak dapat dipisahkan dari realitas sosial masyarakat. “Ketika kita salat, terutama di kampung-kampung, kita harus memahami kondisi makmum. Apakah ada yang sedang terburu-buru, kelelahan, atau sakit? Setelah salam, imam dianjurkan melihat kondisi jamaah,” jelasnya.
KH. Firman juga mengulas gaya hidup Nabi Muhammad Saw. yang jauh dari sikap berlebih-lebihan. Meski memiliki kecukupan harta, Nabi tetap hidup sederhana di tengah masyarakat miskin. “Beliau menanamkan empati terhadap kaum lemah. Bahkan, riwayat menyebutkan Nabi tidur di atas pelepah kurma hingga meninggalkan bekas di punggungnya,” tuturnya.
Ia menekankan bahwa keberhasilan meneladani Nabi tidak hanya diukur dari banyaknya ibadah, tetapi juga dari perhatian terhadap kondisi sosial sekitar, seperti keluarga, tetangga, dan masyarakat yang membutuhkan. “Jangan sampai ada yang gila terhadap ibadah, tapi lupa kewajiban terhadap orang lain. Jangan sampai rajin iktikaf, tetapi lupa memberi nafkah kepada keluarga,” tegasnya.
KH. Firman menutup ceramah dengan doa agar jemaah mampu menjaga keseimbangan dunia dan akhirat melalui kepedulian sosial. Ia juga berpesan khusus kepada para pemimpin. “Pemimpin jangan sampai terjebak dalam formalitas melayani publik. Mereka harus benar-benar berbaur dan berempati terhadap keluh kesah masyarakat,” pungkasnya.
Mwr/Mr



