Jakarta, bimasislam--Lelaki yang akrab disapa Kak Poer ini adalah sosok Praja Muda Karana yang menginspirasi banyak orang. Giat beramal dan tekun bekerja menjadi aktivitas rutinnya. Berbekal pendidikan Pramuka yang dikaderkan Sultan Hamengkubuono IX, menjadikan Pramuka sebagai kegiatan yang menyenangkan baginya.
Dibesarkan dilingkungan pesantren dan menjadi guru ngaji, ternyata menjadi modal dasar bagi Kak Poer malang melintang di dunia Pramuka. Menerapkan nilai-nilai agama pada setiap momen aktifitasnya, menjadi prinsip lelaki yang berusia 76 tahun ini. Tidak heran kalau Kak Poer menjadi kader Pramuka yang senantiasa teguh dalam penerapan nilai-nilai agama. Kak Poer yang memiliki nama lengkap H.S. Poernoto pada masa aktifnya adalah dosen Universitas Negeri Jakarta dan Pengurus Kwarnas. Berkarir didunia pendidikan semakin mengukuhkan dirinya berbakti kepada Pramuka Indonesia.
Bagi Kak Poer, jika seseorang menjadi anggota Pramuka maka kualitas ketakwaannya kepada Tuhan Yang Maha Esa juga harus meningkat pula. Untuk itu Kak Poer menekankan kepada setiap Pramuka harus mengedepankan nilai-nilai agama pada setiap kegiatan kepramukaan. Bagi Pramuka yang muslim, pelaksanaan ibadah shalat berjamaah menjadi wajib dilaksanakan. “Termasuk di Jambore Nasional, jangan sampai muslim melalaikan shalat”, terang Kak Poer.
Selain teguh dalam pelaksanaah ibadah, modal utama kak Poer dalam membesarkan Pramuka adalah ikhlas. Gerakan Pramuka adalah gerakan pendidikan. Dalam hal ini Pramuka menghasilkan generasi-generasi yang berkarakter. “Pramuka harus dididik oleh orang-orang yang ikhlas dalam perbuatannya”, tambah Kak Poer.
Laki-laki yang sangat menjaga kelestarian alam ini, senantiasa giat menyuarakan hasil musyawah nasional gerakan pramuka pada setiap kesempatan. Pada penutupan Pra Jambore Nasional X 23 Juli yang lalu di Bumi Perkemahan Pramuka Cibubur, Kak Poer menyuarakan kembali tentang tiga gerakan yang menjadi hasil musyawah nasional gerakan pramuka sebelumnya. Yaitu gerakan nasional anti narkoba, gerakan anti minuman keras dan gerakan anti merokok. Ketiga gerakan tersebut, oleh Kak Poer disingkat dengan Gendon, Germis dan Gerok.
Menurut kak Poer, justru permasalahan bangsa Indonesia saat ini adalah persoalan-persoalan yang ditimbulkan dari penyalahgunaan narkotika dan obat terlarang. Korban narkoba semakin banyak dan mengancam generasi muda. Begitu juga dengan maraknya kasus kejahatan yang diakibatkan minuman keras. Dalam hal ini, masyarakat harus disadarkan akan bahaya minuman keras. “Begitu juga dengan program anti merokok, Pramuka juga harus giat menyuarakaannya”, sambung Kak Poer.
Pesan kak Poer untuk para Pramuka, agar Pramuka memiliki ketrampilan atau keahlian. Karena untuk penerapan nilai-nilai spiritual, Pramuka tidak hanya cukup dengan berkarakter tetapi harus mempunyai keahlian atau ketrampilan. Ketrampilan-ketrampilan teknis yang dimiliki Pramuka akan menyebabkan mereka semakin paham tentang perbekalan hidup di masyarakat. Mempunyai keahlian atau ketrampilan akan menumbuhkan nilai spiritual. Dengan ini Pramuka akan menjadi manusia paripurna.
(lady/bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



