Oleh:
Dalilatus Saadah*
Dalilatus Saadah*
Di tengah tantangan keberagaman di Indonesia—baik agama, suku, maupun budaya—upaya menjaga keharmonisan menjadi kebutuhan mendesak. Konsep moderasi beragama yang digaungkan Kementerian Agama menjadi fondasi etis membangun peradaban yang toleran, inklusif, dan rukun. Salah satu penerapan nyatanya adalah pembentukan Kampung Moderasi Beragama di Desa Yosomulyo, Banyuwangi. Desa ini kini menjadi contoh nasional bagaimana keberagaman yang dikelola baik bisa menjadi kekuatan sosial dan spiritual.
Moderasi beragama bukan ajakan melemahkan keyakinan agama, melainkan sikap menolak ekstremisme dan menjunjung keseimbangan, toleransi, serta penghormatan terhadap perbedaan. Di tengah polarisasi sosial dan ujaran kebencian berbasis agama, pendekatan moderasi menjadi penawar menyegarkan semangat kebangsaan.
Desa Yosomulyo, dulunya bernama Karangasem, pernah menyimpan sejarah kelam pasca-1965. Disebut sebagai basis PKI di Banyuwangi, desa ini ditakuti karena kisah kesaktian dan keberanian warganya. Bentrokan antara warga dan kelompok dari luar, terutama dari Muncar, dikenang sebagai perlawanan sengit terhadap upaya penumpasan PKI. Warga memakai udeng dan ikat pinggang merah, bersenjata tradisional, dan bentrokan menelan korban yang konon dimakamkan massal di sumur tua Dusun Cemetuk. Meski belum terverifikasi akademik, kisah ini hidup dalam memori kolektif warga.
Namun sejarah kelam itu kini menjadi titik balik. Yosomulyo menjelma simbol kerukunan dan toleransi. Transformasi sosial terjadi: dari desa penuh stigma menjadi desa damai. Kini, masyarakat memilih jalan damai. Kegiatan doa lintas iman, berbagi takjil lintas agama, hingga pemuda lintas iman aktif berkolaborasi. Sejarah menjadi pelajaran, bukan beban. Slogan “Desaku Beda Tapi Mesra” menjadi wujud semangat ini.
Masyarakat Yosomulyo terdiri dari pemeluk Islam, Kristen, Katolik, dan Buddha. Mereka hidup berdampingan dengan saling menghormati. Kepala Desa, Joko Utomo, menegaskan masyarakat telah menjalankan nilai moderasi jauh sebelum istilahnya populer. Moderasi bukan hal asing, melainkan praktik hidup yang sudah ada.
Keberhasilan kampung ini tidak lepas dari peran semua pihak. Pemerintah desa memfasilitasi kegiatan lintas agama. Desa mengadakan doa untuk negeri secara bergilir sesuai agama masing-masing. Ini bukan sekadar simbol, melainkan praktik nyata saling menghormati. Warga tak hanya sebagai peserta, melainkan penggerak utama. Keterlibatan pemuda, tokoh agama, dan komunitas lintas iman menegaskan bahwa moderasi milik semua.
Kelompok penyuluh lintas agama Pelita Gambirwangi turut berperan besar. Mereka dari berbagai agama bekerja bersama membina masyarakat, hadir dalam pertemuan doa lintas iman, dan mengedukasi toleransi. Dukungan Kepala KUA Gambiran juga krusial. Ia menyebut masyarakat sudah moderat, tinggal disinergikan secara sistematis.
Salah satu momen menyentuh adalah ketika pemuda Buddha dari Pemuda Patria membagikan takjil di Mushalla Al Muta’alimin saat Ramadan. Ini bukan hanya simbolik, tapi wujud kemanusiaan lintas iman. Pak Riyono dari Vihara Dhamma Harja menyatakan ajaran Buddha menekankan berbagi sebagai bentuk partisipasi kebangsaan.
Meski sukses, tantangan tetap ada. Tidak semua warga memahami “moderasi beragama” secara terminologis. Edukasi tetap penting. Keberlanjutan juga menjadi kunci. Moderasi harus didukung sistem kelembagaan, regulasi lokal, dan peran pemuda.
Moderasi bukan kompromi ajaran agama, tapi penguatan nilai luhur: kasih, perdamaian, keadilan, kebajikan. Yosomulyo membuktikan bahwa nilai ini bisa hidup dalam masyarakat. Kampung ini bisa menjadi model bagi tempat lain, dengan penyesuaian lokal.
Indonesia adalah rumah bersama dengan kamar-kamar berbeda. Agar tetap kokoh, dibutuhkan gotong royong dan toleransi yang diwujudkan, bukan hanya diwacanakan. Kampung Moderasi Beragama Yosomulyo adalah bukti bahwa hidup damai dalam keberagaman bukan utopia. Ia nyata dan hidup.
*Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi



