Fuad Nasar
“Seorang ibu yang berhasil mencapai kedudukan tinggi dan terhormat dalam masyarakat hendaklah selamanya ingat dan sadarIbu adalah Ibu. Di sinilah bedanya gerakan wanita di Barat dengan gerakan wanita di Timur. Gerakan wanita di Barat cenderung melepaskan diri dari tanggungjawab dan kewajiban rumah tangga yaitu gerakan yang mereka namakan Women Liberation Movement atau Women’s Lib. Sedangkan gerakan wanita di Timur, di Indonesia, mencari sintesa antara kewajiban rumah tangga dan masyarakat.”
Demikian kata Prof. Dr. H.A.Mukti Ali(alm),pelopor ilmu perbandingan agama dan Menteri AgamaRI tahun 1971 - 1978tentang emansipasi wanita. Hemat saya ungkapan ini sangat relevan direnungkan, terlebih dalam suasana memperingatiHari Kartini.
PeringatanHari Kartini tanggal 21 April yang merupakan tanggal kelahiran Raden Ajeng Kartini tahun 1879bukan sekadar memperingati Kartini sebagai pendekar bangsa dan pendekar kaumnya yang harum namanya. Jauh lebih penting ialah menggali dan memahami cita-cita yang ia perjuangkan.
Membicarakan cita-cita Kartini mengingatkan kita pada konstruksi sosiologis masyarakat Indonesia di masa lampau. Menurut data statistik penduduk Indonesia di masa penjajahan Belanda sembilan puluh persen lebih memeluk agama Islam. Islam adalah agama yang senantiasa mendorong pendidikan dan kemajuan umatnya tanpa membedakan laki-laki dan perempuan.
Tetapi dizaman itu, terutama di Jawa, begitu kuat pengaruh adat istiadat yang tidak membolehkan anak perempuan bersekolah, tidak boleh bekerja di luar rumah atau menduduki jabatan di dalam masyarakat. Perempuan mesti tunduk kepada adat istiadat dan tidak boleh punya kemauan untuk maju.
Perjuangan Kartini identik dengan perjuangan emansipasi wanitadan tuntutan keadilan gender. Kata “emansipasi” berasal dari bahasa Latin: emancipatio, artinya pembebasan dari suatu kungkungan atau ikatan. Satu hal yang perlu digaris-bawahi ialah cita-cita emansipasi wanita dalam konteks keindonesiaan sebetulnya tidak identik dengan westernisasi.
Kartini berasal dari keluarga bangsawanJawa. Ayahnya Bupati Jepara Raden Mas Adipati Ario Sosrodiningrat. Kartini seorang wanita Islam yang menginginkan kemajuan bangsanya sejalan dengan ajaran Islam mewajibkan umatnya untuk bisa membaca dan menulis.
Perjalanan hidup Kartini cukup singkat. Ia wafat 17 September 1904 pada usia 25 tahun. Kartini tutup usia empat hari setelah melahirkananak satu-satunya yang diberi nama Soesalit. Setahun sebelum meninggal Kartini membuka Sekolah Gadis Jawa di Kabupaten Jepara. Kartini tidak sempat berbuat banyak di tengah masyarakat. Namunia telah menabur cita-cita pembaharuan masyarakat, terutama melalui surat-suratnyayang terkenal itu.
Kartini mendambakan kaum perempuan terbebas dari kekolotan tradisi,kebodohan dan keterbelakangan. Ia juga mengingatkan kesengsaraan negeri jika dilanda bahaya minuman keras dan candu. Dalam hidupyang penuh penderitaan batin Kartini merenunginasib kaumnya. Kartini mendobrak feodalismedari sarangnya. Surat-suratnya mengecam tata cara pergaulan yang diskriminatif antara kaum bangsawan dengan rakyat jelata.
Semangat revolusi budaya tertuang dalam surat-suratnya kepada kenalan dan sahabatnya orang Belanda di luar negeri, seperti Tuan E.C. Abendanon, Ny. M.C.E. Ovink-Soer, Zeehandelaar, Prof. Dr. G.K. Anton dan Ny, Tuan H.H. von Kol, dan Ny. H.G. de Booij-Boissevain. Surat-surat Kartini diterbitkan di Negeri Belanda tahun 1911 oleh Mr. J.H. Abendanon dengan judul “Door Duisternis tot Licht”. Sastrawan Armyn Pane menerjemahkan surat-surat Kartini ke dalam bahasa Indonesia tahun 1922 dengan judul: “Habis Gelap Terbitlah Terang”.
Prof. Dr. Hamka sebagaimana dikutip Solichin Salam dalam buku Kartini Dalam Sejarah Nasional Indonesia (1983) mengemukakan pandangannya, “Saya melihat dalam salah satu suratnya Kartini, dia mengatakan tetap senang dengan Islam, dan tidak akan pindah memeluk agama lain. Jadi meskipun di situ dalam karangannya jelas beliau itu tidak penuh pengetahuannya tentang Islam, tetapi menunjukkan bahwa beliau cinta kepada Islam.” Lanjut Hamka, “Saya menulis dalam Pedoman Masyarakat, kalau Kartini masih hidup sekarang dan melihat wanita-wanita sekarang yang ke-Barat-baratan dengan pakaian-pakaiannya, dan hanya memakai kebaya setahun sekali waktu Hari Kartini. Apakah itu yang dikehendaki Kartini? Bukankah malah beliau akan mengumpat? Padahal Kartini justru menganjurkan agar wanita kita kembali pada kepribadian sendiri....” tulis ulama besar itu.
Kartini sosok yang berhati mulia. Ia memiliki kepedulian dan sifat penolong terhadap orang lain. Suratnya kepada Ny. J.H. Abendanon di Amsterdam, memohon agar beasiswa yang diberikan untuknya diserahkan kepada seorang pemuda yang bernama Salim (dari Sumatera, yang di kemudian hari dikenal sebagai Haji Agus Salim). “Pemuda itu ingin sekali pergi ke Negeri Belanda untuk belajar menjadi dokter, namun keadaan keuangannya tidak memungkinkan. Seorang pemuda yang gagah berani yang perlu ditolong.” tulis Kartini. Padahal, Kartini sendiri tidak kenal dan belum pernah bertemu dengan Agus Salim, lulusan terbaik HBS di Jakarta (Batavia). Permohonan beasiswa Agus Salim ditolak oleh pemerintah Belanda.
Kartini tidak diizinkan oleh ayahnya melanjutkan sekolah ke negeri Belanda. Ia dipaksa menikah dengan Bupati Rembang, seorang duda yang bukan pilihan hatinya. Beasiswa rekomendasi Kartini tidak dimanfaatkan oleh Agus Salim yang harga dirinya tersinggung dengan sikap pemerintah Belanda yang diskriminatif memperlakukan antara rakyat biasa dan bangsawan. Agus Salim menolak beasiswa itu, “Kalau pemerintah mengirim saya karena anjuran Kartini, bukan karena kemauan pemerintah sendiri, lebih baik tidak.” tegasnya.
Kartini bukan satu-satunya pejuang perempuan yang mengisi tempat penting dalam perjuangan bangsa Indonesia. Selain Kartini, ada banyak tokoh perempuan di masa lalu yang tidak kalah hebatnya dari Kartini. Mereka juga mengukir jasa luar biasa untuk bangsa dan negeri ini, merasakan pahitnya dipenjara bahkan rela mengorbankan nyawa melawan penjajah Belanda.
Sejarah mencatat para pejuang perempuan yang dikenal di pentas nasional,seperti Cut NyakDien, Cut Meutia, Laksamana Keumalahayati, Siti Manggopoh, Rohana Kudus, Nyi Ageng Serang, Nyai Ahmad Dahlan, Dewi Sartika, Ny. Walandouw Maramis, Christina Martha Tiahohu, Rahmah ElYunusiyyah,Rasuna Said, Rasimah Ismail, dan lain-lain.
Kenapa Kartini ditonjolkan sebagai simbol emansipasi wanita Indonesia?
Kartini dipandang istimewa adalah karena latar belakang bangsawannya. Ia mendobrak tradisi dan adat istiadat di zona nyaman “sangkar emas” budaya ningrat Jawapada masa itu.
Andaikata masih hidup, Kartini tentu tidak sudi perempuan mengorbankan peran utama sebagai ibu lantaran mengejar karier. Kartini pasti sedih melihat perempuan Indonesia direndahkan sebagai tenaga kerja murah di luar negeri. Kartini pasti menangis melihat banyak perempuan menjadi obyek eksploitasi industri jasa yang merendahkan keluhuran martabatnya.
Dewasa ini pada sebagian masyarakat kita terasa ada sesuatu yang mulai “hilang”dari kehidupan, yaitu keteladanan dan kehangatan cinta ibu dalam keluarga modern. Peran ibu dalam membangun keluarga dan masyarakat tidak dapat tergantikan.
Ibu merupakan soko-guru peradaban. Nabi Muhammad Saw mengambarkan “Wanita adalah tiang negara. Bila wanitanya baik, maka baiklah negara, dan bila wanitanya buruk, maka rusaklah negara.” Sayid Muhammad Shadieq Hasan Khan, cendekiawan muslim asal Pakistan, mengemukakan bahwa pegangan yang paling kuat bagi emansipasi wanita ialah agama Islam dan pokok-pokok ajarannya termaktub di dalam Al Quran dan Hadits-hadits Nabi.
Bangsa Indonesia kini berada dalam pusaran arus perubahan masyarakat yang tidak bisa dihindari di zaman revolusi informasi dan media. Perubahan sosial dan modernisasi harus dijaga supaya tidak membawa dampak yang merugikan keutuhan fungsi keluarga. Melemahnya fungsi keluarga dapat menyebabkan hubungan antar-anggota keluarga menjadi berantakan. Kalau kita perhatikan lebih jauh, munculnya perilaku menyimpang anak dan remaja menandakan semakin banyaknya keluarga yang mengalami krisis. Anak-anak yang kehilangan kasih sayang ayah ibunya dalam keluargamemiliki potensi menjadi generasi bermasalah.
Cita-cita perjuangan Kartini tentu juga tidak menginginkan kaum perempuan mengabaikan keseimbangan karir dan keluarga. Keluarga merupakan unit terkecil masyarakat. Keluarga adalah kunci pembinaankarakter bangsa.
Peringatan Hari Kartini seharusnya menyadarkan kaum ibu terhadap tuntutan menyiapkan generasi yang lebih baik. Surat Kartini kepada Ny. Abendanon tanggal 21 Januari 1902 menyatakan, “Perempuan itu jadi soko guru peradaban. Dari perempuanlah pertama-tama manusia itu menerima didikan. Di haribaan-nyalah anak itu belajar merasa dan berpikir, berkata-kata, dan makin lama makin tahulah saya bahwa didikan yang mula-mula itu besar pengaruhnya bagi kehidupan manusia di kemudian hari. Dan betapakah ibu bumiputera akan sanggup mendidik anaknya bila mereka sendiri tiada berpendidikan?”
Sejalan dengan semangat Kartini, pendidikan dan kemajuan perempuan tidak seyogaynya dipandang semata-mata hanya karena ingin bersaing dengan laki-laki.Laki-laki bukan saingan perempuan, dan perempuan bukan saingan laki-laki, tetapi keduanya adalah mitra dan sumber daya pembangunan yang memiliki perannya masing-masing. Pendidikan perempuan haruslah berpijak dari dasar filosofi bahwa mendidik seorang perempuan berarti mendidik satu keluarga. Mendidik satu keluarga sama dengan membina satu generasi. Oleh karena itu revolusi budaya kaum perempuan yang telah lebih maju dewasa ini tidak boleh kehilangan pijakan luhurnya atau mengalami disorientasi. Mari kita aktualisasikan cita-cita perjuangan pahlawan nasional R.A. Kartini yang diangkat sebagai simbol revolusi budaya bagi kaumnya dan memaknai tujuan perjuangan para pejuang perempuan lainnya di Tanah Air. Wallahu a’lam. ***
Fuad Nasar, Pemerhati Masalah Sosial
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



