Lebak, bimasislam— Kepala Seksi Bimas Islam Kabupaten Lebak, Banten, Haeruddin, mengatakan penyuluh harus punya ‘asihan’ agar memiliki daya tawar tinggi. Asihan dimaksud bukan jimat atau mantera-mantera, tetapi ‘daya tarik’ profesi sebagai penyuluh.
Saat ini, kata Haeruddin, profesi sebagai penyuluh nampak kurang terperhatikan, seperti ketiadaan kendaraan dinas atau tiadanya tugas perjalanan dinas dalam pelaksanaan tugas di wilayah kerja yang demikian luas.
Saat ini, menurut Heeruddin, tidak ada daya tarik sama sekali dari profesi penyuluh. Bahkan dalam beberapa hal, muncul kecemburuan profesi penyuluh dengan penghulu.
“Penghulu itu sudah tinggi tunjangannya, ditambah berbagai fasilitas. Ibarat gunung, sudah tinggi ‘diuruk’ lagi. Sementara penyuluh, mau ke lapangan motor pun tidak ada, tidak ada perjalanan dinas, gaji sudah habis oleh kredit rumah, dan sebagainya. Sehingga prihatin.” ujarnya.
Untuk menambah daya tarik penyuluh, kesan penyuluh yang sudah tua juga perlu dikoreksi. Haeruddin berharap penyuluh diisi tenaga-tenaga muda yang enerjik. Perlu golongan ientelektual yang berpendidikan, terlebih di tengah jaman teknologi informasi seperti saat ini. Penyuluh tidak boleh tertinggal.
Soal fungsi bimbingan kepada masyarakat yang dilakukan oleh penyuluh, ditambahkan Haeruddin, tidak berbeda dengan guru atau tenaga pendidik lain, dengan honor yang juga dari APBN. “Saat ini masyarakat tidak tertarik menjadi penyuluh agama Islam, karena memang tidak ada ‘asihan’ itu, tidak ada daya tariknya. Masyarakat lebih tertarik jadi guru karena lebih menjanjikan masa depan. Jika ada fasilitas yang memadai seperti transportasi, tunjangan yang layak, dan sebagainya, persepsi itu akan berbeda.” terangnya.
Padahal, profesi penyuluh memiliki peran signifikan dalam pengembangan layanan Kementerian Agama, khususnya Bimas Islam terutama dalam hal bimbingan agama dan pengumpulan data. “Untuk memperoleh data masjid, data wakaf, dan seterusnya, KUA bisa memberdayakan penyuluh di tiap-tiap desa. Mereka yang akan mengumpulkan data masjid, data wakaf, data ormas, dan data kebimasislaman lain, di tiap-tiap desa itu, lalu melaporkan ke KUA, dan seterusnya. Tapi jika para pengumpul data itu tidak dilengkapi dengan faktor-faktor pendukung yang baik seperti transportasi, anggaran, serta kualitas SDM, bagaimana data dari daerah diinput sebagai data yang akurat?” katanya retoris.
Sementara itu, Subdit Bimbingan dan Penyuluhan Agama Islam, Direktorat Penerangan Agama Islam, tengah bergiat membenahi layanan dan kinerja penyuluh di Indonesia, salah satunya dengan melakukan pemutakhiran data dan redistribusi penyuluh agama Islam fungsional dan non PNS. Dalam waktu dekat, Subdit Penyuluh akan mengutus sejumlah pegawai guna memperbaiki layanan penyuluh di sejumlah provinsi di Indonesia.
Rapat koordinasi terkait hal itu dilaksanakan pada Kamis (17/3) di Ruang Rapat lantai 4, Gedung Kementerian Agama, Jl. MH.Thamrin, Jakarta. Rapat yang dipimpin oleh Kasubdit Bimbingan dan Penyuluhan Agama Islam tersebut mendengarkan arahan langsung dari Direktur Pena Islam yang baru, Muchtar Ali, serta pengarahan dari Kasubdit Penyuluh Dit Pena Islam, Lukman. Dit Pena Islam terus tancap gas dalam perbaikan layanan dan peningkatan kinerja penyuluh di Indonesia. (sigit-afif/foto: mimbarpenyuluh)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



